kumparan
8 Jan 2019 19:49 WIB

Soal Kasus Prostitusi Online, Kenapa Perempuannya yang Lebih Disorot?

Vanessa Angel (pakaian putih) usai diperiksa terkait kasus prostitusi online di Polda Jawa Timur, Minggu (6/1). (Foto: ANTARA FOTO/Didik Suhartono)
Dalam beberapa hari ini masyarakat Indonesia dihebohkan oleh kasus prostitusi online. Seorang artis perempuan bernama Vanessa Angel dan pengusaha laki-laki bernama Rian (45 tahun) diciduk pihak kepolisian Polda Jawa Timur pada Sabtu (5/1/2019) di sebuah hotel di Surabaya. Keduanya diduga terlibat dalam kasus prostitusi online tersebut.
ADVERTISEMENT
Yang menarik dari kasus ini, yang lebih banyak menjadi sorotan masyarakat adalah si artis perempuan yang diduga menjadi pekerja seks komersial (PSK) dalam prostitusi online tersebut, bukan mucikarinya maupun si pengusaha tambang pasir yang diduga menjadi pelanggannya.
Banyak orang di Indonesia lebih ingin cari tahu dan membicarakan artis perempuan itu ketimbang mucikari ataupun si pengusaha laki-lakinya. Hal itu terbukti dari daftar trending topic di Twitter dan tren penelusuran di Google yang saya pantau dalam beberapa hari ini.
Apakah fenomena ini ada kaitannya dengan sisi psikologis dan kultural manusia di Indonesia?
Trending topic di Twitter soal kasus prostitusi online (Foto: Trens24.in)
Tren penelusuran di Google soal kasus prostitusi online (Foto: Google)
Eunike Sri Tyas Suci, psikolog sekaligus dosen di Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, mengaitkan hal ini dengan teori gender.
ADVERTISEMENT
Menurut teori nurture, adanya perbedaan antara perempuan dan laki-laki pada hakikatnya adalah bentukan masyarakat melalui konstruksi sosial budaya sehingga menghasilkan peran dan tugas yang berbeda di antara mereka.
Perbedaan itu menyebabkan perempuan selalu tertinggal dan peran serta kontribusi mereka dalam hidup berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara selalu terabaikan. Laki-laki diidentikkan dengan kelas borjuis, dan perempuan sebagai proletar.
Pendek kata, laki-laki selalu berada di atas, sedangkan perempuan berada di bawah. Laki-laki selalu dianggap lebih benar, dan perempuan selalu dipandang lebih salah.
Aksi Women's March di Monas (Foto: Yuana Fatwalloh/kumparan)
“Saya melihat, masyarakat melihat bahwa kalau laki-laki membeli seks di luar rumah atau mendapatkan seks di luar rumah, it's okay, orang maklum. Tetapi kalau melihat perempuan melakukan hal yang sama, it's not okay. itu jadi masalah,” papar Eunike saat dihubungi kumparanSAINS, Selasa (8/1/2019).
ADVERTISEMENT
Jadi, menurut lulusan S1 di bidang psikologi Universitas Gadjah Mada dan S2 di bidang sosiologi Brown University Amerika Serikat itu, kecenderungan dalam masyarakat Indonesia adalah “perempuan dituntut super setia 100 persen, sementara laki-laki tidak harus demikian.”
Perempuan pemilik gelar PhD di bidang sosiologi medis Brown University itu mengambil contoh soal isu keperawanan. “Kok isu kejantanan juga tidak diperkarakan?” tanyanya retoris. (24 November 2018 lalu kumparanSAINS pernah membuat serial khusus hasil liputan mengenai "Tes Keperawanan", salah satunya dalam bentuk tulisan di bawah ini.)
Menurut Eunike yang kini menjabat sebagai Ketua Asosiasi Psikologi Kesehatan Indonesia, pandangan dan konstruksi sosial seperti itu tidak adil. “Tidak fair kan sebetulnya,” tegasnya.
Meski begitu, saya mencoba bertanya kepada Eunike bahwa apakah jika dalam kasus ini yang menjadi PSK-nya adalah perempuan biasa, tapi yang menjadi pelanggan seksnya adalah artis laki-laki, maka kemudian yang akan lebih banyak disorot adalah artis laki-lakinya?
ADVERTISEMENT
Eunike tidak menjawab hal itu secara langsung, tapi ia mengambil contoh kasus video panas yang melibatkan Ariel, eks vokalis Peterpan yang kini menjadi vokalis Noah, beberapa tahun lalu.
Cut Tari, Ariel Noah, Luna Maya. (Foto: Instagram @lunamaya @cut.tarry, kumparan)
“Kasusnya Ariel itu yang lebih banyak diperbicarakan juga perempuannya. Arielnya cenderung diam-diam aja,” kata Eunike yang memberi catatan bahwa kasus Ariel dengan sesama artis itu memang bukan prostitusi online yang melibatkan transaksi finansial, tapi kemungkinan karena saling suka.
Menurut Eunike, meskipun Ariel turut dibicarakan, “tetapi yang lebih disorotnya kan si Luna Maya dan Cut Tari.”
“Sekarang saja misalnya Ariel sudah kembali normal (red: bebas dari penjara), dan masih sangat dipuja bukan oleh perempuan?” tanya Eunike, lagi-lagi bersifat retoris.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan