kumparan
14 Mar 2019 12:18 WIB

Spesies Ular Baru Ditemukan, Bisa Menggigit Musuh Tanpa Membuka Mulut

Ular spesies baru, Atractaspis branchi. Foto: Mark-Oliver Rödel/Museum für Naturkunde (CC BY 4.0)
Para peneliti menemukan spesies ular baru di Afrika Barat. Ular ini punya metode tidak biasa untuk menimbulkan rasa sakit pada korbannya.
ADVERTISEMENT
Sekelompok tim peneliti internasional menemukan tiga spesies ular baru ini di hutan hujan di Guinea tenggara dan Liberia barat laut. Dalam makalah hasil penelitian yang telah dipublikasikan di jurnal Zoosystematics, para ilmuwan tersebut memberi nama ilmiah ular ini sebagai Atractaspis branchi.
Ular ini adalah bagian dari famili atau keluarga Atractaspidinae. Newsweek melansir, orang-orang biasa juga menyebut keluarga ular ini sebagai ular mola, ular aspal, atau ular stiletto.
Spesies ular baru ini memiliki anatomi tengkorak yang unik. Mereka punya taring yang menjulur di sisi mulut mereka. Mereka dapat menggunakan taring ini untuk mengirimkan racun melalui gerakan menikam ke samping.
Ular spesies baru, Atractaspis branchi. Foto: Mark-Oliver Rödel/Museum für Naturkunde (CC BY 4.0)
Menurut African Snakebite Institute, dalam sebagian besar kasus, racun ular stiletto tidak cukup kuat untuk membunuh manusia. Namun, racun ini berpotensi menimbulkan kerusakan serius, menyebabkan rasa sakit yang parah, pembengkakan, lepuh, dan kerusakan jaringan.
ADVERTISEMENT
Manusia tidak mungkin bisa memegang ular stiletto dengan cara biasa (dengan jari di belakang kepala) tanpa digigit. Sebab, ular ini punya sistem pengiriman racun yang unik. Mereka mampu menusuk dengan taring yang menonjol secara independen di sisi mulut mereka sementara mulut mereka tertutup.
Saat ini diperkirakan ada lebih dari 20 spesies ular stiletto, yang sebagian besar ditemukan di Afrika sub-Sahara. Hewan ini hidup di berbagai habitat, mulai dari semi-gurun pasir hingga hutan hujan.
Para peneliti memperkirakan, spesies ular baru ini utamnya hidup di hutan hujan, atau di tepi hutan hujan, dan endemik di area hutan Upper Guinea. Hutan Upper Guinea adalah kawasan dengan keanekaragaman hayati yang kaya, tapi ada banyak ancaman buatan manusia terhadap keberadaan hewan di sana.
ADVERTISEMENT
Tim peneliti menemukan spesimen ular ini selama survei di wilayah tersebut. Mereka melihat yang pertama di malam hari di tepi sungai kecil berbatu di hutan hujan hijau dataran rendah di Liberia. Mereka menemukan dua spesimen lainnya di perkebunan pisang, singkong, dan kopi di Guinea.
“Survei lebih lanjut diperlukan untuk menentukan penyebaran spesies ular baru, dan untuk mengumpulkan lebih banyak informasi tentang kebutuhan ekologis dan sifat biologisnya,” tulis para penulis dalam makalah hasil penelitian tersebut.
Para peneliti memberi nama spesies baru ini Atractaspis branchi untuk menghormati Profesor William Roy Branch, ahli reptil Afrika Selatan tersohor di dunia yang meninggal pada Oktober 2018.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan