Pencarian populer

'Tsunami Serbuk Sari' Landa Amerika Serikat, Apa Itu?

Tsunami serbuk sari di Durham, North Carolina, AS. Foto: Jeremy Gilchrist via Reuters.

Tsunami serbuk sari telah turun di Amerika Serikat bagian tenggara pada Senin (8/4). Fenomena alam langka yang dijuluki 'Pollenpocalypse' itu diabadikan oleh seorang fotografer bernama Jeremy Gilchrist di Durham, North California.

Di kota itu, tingkat serbuk sari menjadi semakin tinggi, mobil-mobil banyak dilapisi bubuk kuning, begitupun jalanan, hingga menyebar ke udara, dan menciptakan neraka kuning bagi siapa pun yang terkena alergi serbuk sari.

Untuk mengambil foto-foto itu, Gilchrist menggunakan drone (pesawat tak berawak), dengan maksud mendapatkan angle gambar pemandangan yang lebih baik. Sebelum membagikannya ke media sosial, dia mengedit foto-fotonya dengan ringan, menyesuaikan kontras warna agar sesuai dengan apa yang dilihat oleh mata telanjang.

Berdasarkan keterangan Pollen.com’s National Allergy Map, saat ini banyak negara bagian selatan dan tenggara di AS yang dilanda tingkat serbuk sari yang tinggi. Mulai dari Arizona, ke Arkansas, hingga New York. Menurut situs tersebut, kota terburuk yang dilanda tsunami serbuk sari di antaranya adalah Huntington, Louisville, Memphis, Lexington, dan Huntsville.

Tsunami serbuk sari di Durham, North Carolina, AS. Foto: Jeremy Gilchrist via Reuters.

Perubahan iklim menjadi penyebab utama terjadinya fenomena alam ini. Selama beberapa tahun terakhir, gelombang serbuk sari yang terjadi pada musim semi mengalami peningkatan. Kondisi yang kering dan berangin membantu serbuk sari menumpuk di lingkungan sebelum tersapu oleh hujan lebat.

Kondisi Bumi yang semakin memanas karena ulah manusia, telah memperpanjang musim serbuk sari dan membantu tanaman melepaskan lebih banyak serbuk sari dari kondisi biasanya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, 2019 berpotensi menjadi tahun terburuk dari penyebaran serbuk sari. Menyebabkan alergi pada mata dan hidung (seperti gatal-gatal).

"Ini menjadi model dampak kesehatan dari perubahan iklim," ujar Jeffrey Domain, direktur Allergy, Asthma, and Immunology Center di Alaska, kepada Vox, seperti dikutip dari IFL Science.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.31