kumparan
28 Mei 2018 20:37 WIB

Vape Rasa Kayu Manis Bisa Rusak Sel Paru-paru Manusia

Rokok elektronik (vape). (Foto: Wikimedia Commons)
Meski sering dibilang sebagai alternatif "sehat" rokok, vape tetap menyimpan beberapa bahaya, misalnya seperti risiko meledak di dekat penggunanya.
ADVERTISEMENT
Selain bisa meledak, menurut hasil sebuah riset yang dipaparkan dalam acara pertemuan tahunan American Theoracic Society di San Diego, AS, cairan vape dengan rasa kayu manis memiliki potensi besar merusak sel-sel tubuh.
Sebelumnya juga sudah ada hasil studi yang dipublikasikan di jurnal PLOS Biology yang mengasosiasikan beberapa bahan pembuat cairan vape dengan risiko keracunan. Di antara bahan-bahan tersebut adalah perasa vanili dan cinnamaldehyde.
Sekarang, dalam studi terbaru yang hasilnya dipaparkan dalam pertemuan di atas, para peneliti mendalami senyawa cinnamaldehyde yang biasa digunakan untuk memberikan cairan vape rasa kayu manis yang khas.
Ilustrasi kayu manis (Foto: Dok. Pixabay)
Dalam studi ini, sebagaimana dilansir IFL Science, para peneliti mempelajari sel-sel epitel bronkus manusia yang biasanya ditemukan di daerah bronkus. Sel ini biasanya membantu melindungi paru-paru dari patogen dan bisa dibilang sebagai penjaga gawang dari paru-paru manusia.
ADVERTISEMENT
Ketika terekspos dengan cairan kayu manis, menurut presentasi para peneliti, sel-sel itu akan membuat silia, salah satu bagian dari sel yang bertugas melindungi paru-paru dari patogen, menjadi kurang efektif bekerja. Lalu silia juga mengalami perlambatan metabolisme serta mengalami penurunan dalam tingkat intraseluler ATP. Padahal ATP ini merupakan senyawa kimia yang memiliki tugas penting, yakni menyimpan serta mengangkut energi ke seluruh bagian sel.
Karena peran penting dari sel-sel epitel bronkus tersebut, maka para peneliti mengambil kesimpulan bahwa "terpapar cinnamaldehyde dengan cara terhirup dapat meningkatkan risiko infeksi pernapasan pada para pengguna rokok elektronik."
Kekurangannya, temuan yang telah dipresentasikan ini belum menjadi hasil studi yang telah dipublikasikan dalam jurnal tertentu. Jadi tanpa landasan yang kuat, kita masih belum bisa memastikan secara jelas risiko dari vape. Selain itu, temuan para peneliti ini adalah berdasarkan pada jaringan yang telah dikeluarkan dari tubuh manusia dan dibiarkan hidup di laboratorium, bukan langsung pada manusia itu sendiri.
ADVERTISEMENT
Namun terlepas dari kekurangan tersebut, temuan ini tetaplah harus ditanggapi dengan serius. Sebab dalam urusan kesehatan, lebih baik kita bersikap waspada daripada terlambat. Lebih baik mencegah daripada mengobati.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan