kumparan
20 Mar 2018 19:42 WIB

Vincent van Gogh dan Sejarah Hari Bipolar Sedunia

Potret diri Vincent van Gogh. (Foto: Wikimedia Commons)
Vincent van Gogh adalah seniman ternama asal Belanda. Sejumlah karyanya, seperti lukisan The Starry Night, membuat banyak orang berdecak kagum saat melihatnya.
ADVERTISEMENT
Namun begitu, banyak orang yang belum mengetahui bahwa Van Gogh juga merupakan seorang pejuang. Ia adalah pejuang bipolar paling tersohor di dunia sehingga tanggal lahirnya diabadikan sebagai Hari Bipolar Sedunia atau World Bipolar Day.
"Iya karena dia salah seorang tokoh bipolar ya, akhirnya oleh dunia internasional ditetapkan hari lahirnya sebagai World Bipolar Day," jelas Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia cabang Jakarta (PDSKJI Jaya), Nova Riyanti Yusuf, pada acara Seminar Kesehatan World Bipolar Day 2018 dan Launching Boneka Hagi di Hotel Puri Denpasar, Jakarta, Selasa (20/3).
Acara ini diselenggarakan dalam rangka menyambut Hari Bipolar Sedunia yang jatuh pada setiap tanggal 30 Maret yang juga merupakan Hari Ulang Tahun Vincent van Gogh.
Nova Riyanti Yusuf, Maskot Hagi dan Hana Madness (Foto: Sayid Mulki/kumparan)
Nova menuturkan, Hari Bipolar Sedunia dicetuskan oleh organisasi-organisasi bipolar internasional seperti Asian Network of Bipolar Disorder (ANBD), International Bipolar Foundation (IBPF), dan yang lainnya.
ADVERTISEMENT
Ia juga menjelaskan bahwa tema seminar kesehatan PDSKJI Jaya kali ini yang menyinggung soal Bipolar, bertujuan untuk mendorong agar terjadinya penyebaran informasi yang benar mengenai bipolar ke masyarakat luas.
"Bagi orang dengan gangguan bipolar, dukungan dari keluarga serta lingkungan sangat diperlukan dalam pengobatan. Jadi jika masyarakat punya informasi yang cukup, kita semua akan sangat terbantu dalam mengatasi gangguan bipolar ini," imbuh Nova.
Nova Riyanti Yusuf, Ketua PDSKJI Jaya (Foto: Sayid Mulki/kumparan)
Salah satu tujuan dibuatnya Hari Bipolar Sedunia, terang Nova, pun adalah untuk membuat masyarakat luas lebih sadar terhadap gangguan bipolar yang para penderitanya rentan melakukan bunuh diri.
Nova meyakini, dengan adanya pendidikan serta banyaknya informasi mengenai gangguan bipolar, banyak pengidapnya yang bisa kembali membaur dengan masyarakat luas dan beraktivitas secara normal dan produktif seperti banyak orang lainnya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan