kumparan
20 Feb 2019 8:18 WIB

Wabah Campak Serang Madagaskar, Korban Meninggal Capai 922 Jiwa

Ilustrasi anak campak. Foto: Shutter Stock
Wabah penyakit campak tidak hanya terjadi di Amerika Utara dan Eropa Barat. Virus ini juga menyerang Madagaskar dan telah menelan banyak korban meninggal sejak Oktober 2018.
ADVERTISEMENT
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, sejak Oktober 2018 hingga 12 Februari 2019, ada lebih dari 66.000 kasus campak dilaporkan dengan 922 orang meninggal di Madagaskar. Mayoritas korbannya adalah anak-anak.
Angka tersebut diprediksi bisa lebih banyak, mengingat hanya kurang dari 10 persen kasus campak dilaporkan di seluruh dunia, menurut WHO yang diwakili oleh Dr Katrina Kretsinger selaku kepala program imunisasi. Dr Kretsinger juga mencatat adanya peningkatan kasus campak di Ukraina, Republik Demokratik Kongo, Chad, dan Sierra Leone.
Penduduk Madagaskar. Foto: Flickr/Alain Diguet
Virus campak sendiri sangat menular dan mudah menyebar lewat batuk dan bersin. Biasanya, orang yang terinfeksi akan mengalami demam yang buruk, ruam, dan batuk. Selain kematian, campak juga berpotensi menyebabkan komplikasi, seperti kebutaan dan pembengkakan otak.
ADVERTISEMENT
Penyakit ini sebenarnya bisa dicegah melalui pemberian dua dosis vaksin. Itu mengapa campak mudah menyebar di Madagaskar, karena tingkat vaksinasi di beberapa negara benua Afrika ini terbilang rendah. Angkanya tercatat hanya 58 persen pada 2017, menurut laporan IFL Science.
Langkah darurat telah dilakukan dengan memberikan vaksin kepada 2,2 juta jiwa dari 26 juta populasi penduduk.
Petugas menunjukan Vaksin Campak dan Rubella (MR) sebelum melakukan imuniasasi kepada anak. Foto: ANTARA FOTO/Ampelsa
Penurunan tingkat imunisasi tidak hanya terjadi di negara Afrika, Eropa dan Amerika Utara juga mengalami hal yang sama karena dipicu gerakan anti vaksin. Gerakan itu membuat masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap efek yang diberikan pada vaksin.
'Madagaskar dimulai dengan beberapa kasus (campak), sekarang, kita mendekati 60.000-an dan kasus terus meningkat," kata Richard Mihigo, salah satu ilmuwan dalam program vaksin di kantor cabang WHO di Afrika, seperti dikutip The Washington Post.
ADVERTISEMENT
"Saya pikir masyarakat seperti AS dan Eropa Barat harus sadar dan lihat... ini adalah sesuatu yang juga bisa terjadi pada mereka."
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·