kumparan
11 Okt 2018 23:41 WIB

100 Meter Menuju Finis, Eko dan Ferry Menahan Sakit demi Indonesia

Eko Saputra (kiri) peraih perunggu lari 400 meter putra T12 dan Nur Ferry Pradana (kanan) peraih perak lari 400 meter putra (Foto: Aditia Rizki Nugraha/kumparan)
Bagi Nur Ferry Pradana dan Eko Saputra, 100 meter terakhir menuju garis finis dalam perlombaan lari nomor 400 meter Asian Para Games 2018 adalah jarak yang sangat menyakitkan. Ferry dan Eko sama-sama menahan rasa sakit agar bisa melewati garis finis di posisi tiga besar yang akan memberi Indonesia prestasi.
ADVERTISEMENT
Ferry turun di nomor 400 meter putra kategori T45/46/47, Kamis (11/10/2018), finis di posisi kedua dengan catatan waktu 49,86 detik. Sementara itu, Eko finis di posisi ketiga pada lari nomor 400 meter putra T12.
Eko yang lebih dulu turun gelanggang, tampak memegangi paha kanannya saat memasuki mixed zone. Sosok berusia 21 tahun tersebut menyebut adalah masalah pada otot pahanya ketika turun di babak penyisihan 400 meter T12 di Kamis pagi.
Sedangkan, kondisi Ferry lebih mengkhawatirkan. Setelah melewati garis finis, Ferry menjatuhkan badannya di dekat mixed zone dan langsung ditandu ke ruang medis. Sesi wawancara dengan Ferry akhirnya dilakukan setelah prosesi pengalungan medali.
Lain hal dengan Eko, Ferry mengaku sakit yang ia rasakan disebabkan karena cedera lama dan sudah terasa ketika ia meraih perak di nomor 200 meter T45/46/47, Rabu (10/10). Tapi, sama seperti Eko, Ferry menahan sakit pada 100 meter terakhir menuju finis.
ADVERTISEMENT
"Cedera tadi pagi masih terasa sakit, masih nahan sakit, tapi demi Indonesia sampai titiik darah penghabisan pun akan tetap berjuang. Sakit di paha, tidak hamstring hanya tertarik saja ototnya. 100 meter terakhir mulai terasa sakit."
"Saya hanya fokus tidak memikirkan rasa sakitnya, hanya merasakan kenikmatan bermainnya (lari) saja," kata Eko kepada awak media saat ditanya soal mengatasi rasa sakit.
Kendati berisiko membikin mereka cedera, bahkan memperparah cedera yang sudah ada, Ferry dan Eko tetap menatap garis finis. Bagi mereka, kesempatan mentas di rumah sendiri pada ajang olahraga terbesar bagi atlet difabel se-Asia, bukan kesempatan yang datang sering-sering.
Terlebih, pada nomor perlombaan terakhir yang mereka jalani di Asian Para Games 2018 ini, Ferry dan Eko ingin membikin penonton yang memadati Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), kian bergemuruh lantaran para pelari Tanah Air berahasil menggondol medali.
ADVERTISEMENT
Eko Saputra usai meraih medali perak Asian Para Games 2018 di cabor atletik nomor 200 meter T11. (Foto: Aditia Rijki Nugraha/kumparan)
"Karena cedera lutut ang saya dapatkan pas nomor 200 meter. Sangat sakit waktu lomba, kenanya waktu 100 meter terakhir, yang kena lutut sebelah kanan. Ini pertandingan terakhir saya di Asian Para Games, luar biasa sekali rasanya bisa meraih hasil ini," ujar Ferry.
"Karena dukungan penonton yang sangat ramai, saya jadi semangat lagi walaupun sangat terasa sakit. Saya hanya berpikiran bagaimana caranya sampai garis finis, dihilangkan dulu rasa sakitnya sejenak," jelasnya.
Setelah Asian Para Games 2018, Ferry dan Eko punya target yang sama untuk berprestasi lebih baik pada ASEAN Para Games 2020 di Filipina.
"Persiapan selanjutnya untuk ASEAN Para Games 2020, semoga bisa lebih panjang karier saya dan waktu saya bisa lebih baik lagi. Target saya pasti emas, kalau di Asia ini memang persaingannya sangat berat, sedangkan di ASEAN bisa lebih sedikit," tutup Eko.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·