Pencarian populer

Analisis: Karena Warriors Masih Bisa Berlari meski Tanpa Curry

Jersey Stephen Curry terlaris di Indonesia. (Foto: Kelley L Cox-USA TODAY Sports via REUTERS)

Di perhelatan liga basket NBA, Golden State Warriors menjelma menjadi salah satu kekutaan dari Wilayah Barat yang sangat diperhitungkan keberadaannya, khususnya dalam medio 2014-2017.

Sebelum era itu, Warriors hanyalah tim semenjana, bahkan di akhir musim 2005, mereka tercatat sebagai tim NBA yang paling lama tidak menembus babak play-off (12 musim). Hingga akhirnya, Warriors mulai berbenah dan menamai era barunya dengan "We Believe" yang dimulai pada musim 2006/07.

Sejak saat itu, Warriors mulai menunjukkan gelagat perbaikan yang signifikan--tak langsung jadi juara, sih--mereka memulainya dengan menembus babak play-off di tiap musimnya. Perombakan itu kemudian menjumpai era baru lainnya di musim 2011 bernama "Splash Brother" dengan Stephen Curry dan Klay Thompson sebagai aktor utama.

Tak berlebihan kiranya kedua pemain ini kemudian dijadikan pusat perhatian dari bangkitnya Warriors sejak musim itu. Empat musim kemudian, di tahun 2014, Splash Brother sukses membawa Warriors meraih gelar juara NBA untuk pertama kali sejak terakhir mereka merengkuhnya di musim 1975.

Dari semua pemain yang muncul di era itu, Stephen Curry adalah bagian paling tidak terpisahkan dari kesuksesan tersebut. Dan ketidakhadirannya akan menjadi hal yang paling sulit diatasi oleh Warriors. Kita tahu, dari medio 2014, Curry adalah nyawa permainan Warriors.

Hal ini kemudian benar-benar terjadi ketika Curry mengalami cedera cukup parah di engkel kanannya pada Senin (4/12/2017) lalu, ketika bertandang ke rumah New Orleans Pelicans, dan harus menepi selama beberapa pekan. Pertanyaanya adalah, akankah Warriors tetap sehebat itu meski tanpa kehadiran Curry di dalam tim?

Well, untuk menjawab hal ini, perlu diketahui juga bahwa Warriors juga memiliki Kevin Durant sejak musim 2016 lalu. Kehadiran pemain berusia 29 tahun ini secara signifikan menambah kekuatan dan kedalam skuat Warriors.

Curry memang pemain paling efisien di Warriors bahkan NBA sekalipun. Sebelum diterpa cedera, Curry berada di peringkat empat sebagai pencetak poin terbanyak di liga dengan 26,3 poin per laga, terbaik ketiga dalam memasukkan tembakan tiga angka dengan 83 tembakan masuk, terbaik keempat dalam urusan point from fast-break per gim dengan 4,7, dan pemiliki persentase terbaik kedua soal mid-range field goal (tembakan dua angka) dengan 55,3%.

Kehilangan Curry ibarat kehilangan setengah nyawa Warriors dan menemukan penggantinya butuh waktu yang tak sebentar. Namun, sekali lagi, kehadiran Durant sejak musim lalu membuat proses itu berjalan lancar.

Bersama Thompson, Durant mulai menunjukkan diri sebagai sosok yang tepat untuk bisa menjadi pembeda di tubuh Warriors. Lihat saja di pertandingan pertama mereka usai kehilangan Curry saat menang melawan Charlotte Hornets 101-87.

Durant sukses mencetak 16 poin di kuarter pertama, yang mejadi catatan terbanyaknya poin dari seorang pemain dalam satu kuarter di musim ini. Di pertandingan itu, Durant sukses memasukkan tiga tembakan tiga angka dari delapan kali percobaan dan perentase tembakan field goal-nya mencapai 46,4% (13 masuk dari 28 percobaan). Ia pun mengakhiri laga dengan raihan triple-double (35 poin, 10 assist, dan 10 rebound).

Durant tak sendiri, Thompson sebagai bagian dari Splash Brother pun masih bisa berdiri sendiri dengan menyumbang 22 poin dalam 36 menit penampilannya dengan persentase tembakan dua angka mencapai 64,3% (9 dari 14) dan 57.1% (4 dari 7) untuk tembakan tiga angka.

Akan tetapi, masih banyak alasan lain yang membuat Warriors tetap menjadi tim berbahaya di NBA meski tanpa Curry.

Salah satunya adalah kedalaman skuat yang dimiliki. Mereka masih memiliki Shaun Livingston sebagai pengganti Curry di posisi guard, serta Andre Iguodala dan David West sebagai sosok pemimpin dan tembok pertahanan yang tangguh.

West adalah pemilik rata-rata blok terbanyak kedua dengan 4,0 blok per laga yang membuat Warriors menjadi tim dengan jumlah kemasukan paling sedikit ketiga (101,0 per laga). Dan Iguodala menjadi salah satu pemain bertahan terbak di liga yang memaksa lawan sering melakukan turnover (kesalahan sendiri). Dari situ, Warriors kini menjadi tim dengan rata-rata memassukkan poin berkat kesalahan tim lawan terbanyak (22,2 poin per laga).

Selain itu, sistem permainan yang dibuat oleh Steve Kerr selaku pelatih kepala membuat Warriors menjadi tim paling kolektif di liga dengan jumlah assist terbanyak (30,9 assist per laga). Ini artinya, Kerr memang sudah merancang taktik permainan yang memungkinkan Warriors untuk tetap bertahan dan bersaing di papan atas klasemen wilayah barat meski tanpa kehadiran Curry.

Sejauh ini, dalam tiga laga teranyar tanpa Curry, Warriors masih bisa melewatinya dengan kemenangan. Akan tetapi, absennya Curry tidak serta mereta meninggalkan lubang. Ini terlihat dari jumlah memasukkan poin per laga Warriors yang mengalami penurunan cukup siginifikan di tiga laga terakhirnya.

Warriors memang masih berbahaya tanpa adanya Curry. Namun, butuh beberapa pertandingan lagi tanpa hadirnya Curry untuk membuktikan Warriors bukanlah tim yang tergantung pada satu pemain saja dan saat ini mereka memiliki kesempatan itu.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Kamis,23/05/2019
Imsak04:26
Subuh04:36
Magrib17:47
Isya19:00
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.22