kumparan
8 Jul 2018 14:26 WIB

Batik Spesial Motif Garuda di Indonesia Open 2018

Umpire dengan baju batik di Indonesia Open 2018. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
Indonesia Open terus berusaha mempertahankan gelar prestise sebagai turnamen BWF Super Series terbaik sepanjang tahunnya. Sama seperti biasanya, satu yang berbeda adalah seragam wasit di lapangan.
ADVERTISEMENT
Berlangsung di Istora Gelora Bung Karno sejak 3 Juli 2018, Indonesia Open tahun ini naik level menjadi Super 1000 —alias selevel All England. Untuk memberi corak khas, penyelenggara memberikan batik motif Garuda kepada umpire dan service judge.
Di babak semifinal yang berlangsung Sabtu (7/7/2018), kedua ofisial pertandingan itu memakai seragam batik berwarna merah dengan corak Garuda. Hari ini, Minggu (8/7), di partai pamungkas, keduanya akan mengenakan batik berwarna biru.
Menurut Ketua Panitia Pelaksana Indonesia Open 2018, Achmad Budiharto, inovasi seragam batik bagi wasit sendiri pertama kali diterapkan pada Indonesia Open pada Juni 2014. Meski awalnya sulit mendapat izin, pada akhirnya hingga kini batik bagi wasit menjadi ciri khas turnamen di Tanah Air.
ADVERTISEMENT
"Indonesia Open 2018 ini kelima kalinya. Dan di turnamen Super Series BWF hanya Indonesia yang mau repot menyiapkan seragam khusus bagi wasit dan service judge di semifinal dan final," ucap pria yang akrab disapa Budi itu.
"Di awal sempat dipertanyakan, tapi PBSI bisa meyakinkan BWF bahwa itu nilai tambah yang kami sampaikan untuk mendukung sebagai bentuk penghargaan bagi para wasit sekaligus memberi gambaran budaya Indonesia," imbuh sosok yang juga menjabat Sekretaris Jenderal PBSI tersebut.
Selain menyediakan seragam batik, penyelenggara juga selalu memperhatikan detail yang ada. Misalnya, bahan yang digunakan harus katun yang enak dipakai, dingin, dan disukai warga asing.
Desain pun, lanjut Budi, tidak terlalu unik tetapi tetap mencirikan nilai Indonesia. Tahun ini motifnya adalah burung Garuda. Lantas, apakah itu salah satu alasan Indonesia Open tiga kali berturut-turut menjadi turnamen terbaik BWF?
ADVERTISEMENT
“Ya, mungkin (berpengaruh), sudah tiga kali (2015, 2016, dan 2017) ha ha. Semoga tahun ini keempat kalinya berturut-turut jadi yang terbaik.”
"Sebetulnya bukan hanya seragam, kami sejak awal ingin memberikan konsep yang berbeda dengan adanya sportainment terutama hiburan di dalam venue pada semifinal dan final,” katanya.
Selain memperkenalkan batik kepada dunia sebagai salah satu ciri khas Indonesia Open, tahun ini pun muncul satu hal baru lainnya yakni Kids Zone alias area bermain bagi anak-anak.
Batik di pinggir lapangan, ciri khas Indonesia Open. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
"Konsep sportainment sudah diikuti oleh beberapa negara, contohnya saat Kejuaraan Dunia di Skotlandia dan Thomas-Uber Bangkok. Nah, kami harus improve agar tetap menjadi yang terbaik,” ucap Budi.
"Yang jelas dari sisi tampilan juga kami mulai banyak menggunakan LED. Konten juga spesifik, buat ibu-ibu ada Blibli Market, dan tahun ini baru ada Kids Zone. Pesannya kepada orang tua adalah bulu tangkis sesuatu yang bisa direkomendasikan kepada putra-putri," pungkas Budi.
ADVERTISEMENT
Tak hanya itu, usai digelarnya Indonesia Masters Januari lalu —sebagai event pertama usai renovasi Istora—, panitia menambahkan tempat untuk makan dan tempat beribadah sesuai evaluasi.
Umpire di Indonesia Open 2018. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
Indonesia sendiri mengirimkan dua wakil di final, yakni juara bertahan di ganda campuran, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, dan ganda putra terbaik dunia, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo.
Selalu ramai penonton ditambah berbagai keunikan di Indonesia Open, tak aneh jika turnamen ini juga sangat dirindukan para pemain top dunia. Seru 'kan?
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan