kumparan
27 Jul 2018 7:43 WIB

Berbincang dengan Hafizh Syahrin soal Masa Depannya di MotoGP

Hafizh Syahrin, pebalap Tech3. (Foto: Monster Yamaha Tech3)
Pada jeda paruh musim MotoGP 2018, Hafizh Syahrin datang ke Indonesia untuk mempromosikan Grand Prix (GP) Malaysia yang akan digelar pada 4 November mendatang bersama CEO Sirkuit Sepang, Dato Razlan Razali. Selain itu, ia membicarakan soal masa depan, dan adaptasinya di MotoGP.
ADVERTISEMENT
Bertempat di Ballroom Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Kamis (26/7/2018), Hafizh menyapa para penggemar MotoGP Tanah Air. Hafizh berharap, dengan munculnya ia sebagai pebalap Asia Tenggara pertama di kelas premier, penikmat MotoGP Indonesia bisa memberikan dukungan.
Kiprah Hafizh sebagai rookie terbilang cukup impresif karena bisa berada di atas Franco Morbidelli dan Takaaki Nakagami yang disebut-sebut sebagai debutan apik. Hafizh menempati posisi ke-16 dengan 22 poin, sedangkan Morbidelli di peringkat 17 dan Nakagami ke-21.
Hafizh di GP Argentina. (Foto: Twitter: Yamaha Tech3)
Cemerlangnya penampilan Hafizh memikat Tech3 untuk memperpanjang kontraknya hingga akhir musim 2019. Namun, pada musim depan Tech3 akan menggunakan mesin KTM dan pebalap utama mereka, Johann Zarco, naik kelas ke tim pabrikan KTM. Sebagai penggantinya, dipilihlah Miguel Oliviera sebagai rekan Hafizh.
ADVERTISEMENT
Hafizh menanggapi kedatangan Oliviera dengan positif dan mengaku optimistis jika KTM bisa memberikan persaingan ketat musim depan. Terlebih, selama Tech3 tergabung dengan Yamaha, Hafizh dan Zarco kerap diperlakukan berbeda dengan dua pebalap pabrikan, Maverick Vinales dan Valentino Rossi.
"Pada awal musim, saya dan tim berusaha keras untuk mendapatkan setelan yang terbaik karena motor saya tidak seperti Vinales dan Rossi, tapi saya senang bisa meraih 22 poin sejauh ini. Musim depan kami akan pindah ke KTM, saya yakin mereka akan lebih baik dari musim ini dan akan berikan persaingan musim depan," kata Hafizh.
Pebalap MotoGP asal Malaysia, Hafizh Syahrin, datang ke Indonesia bersama CEO Sirkuit Sepang. (Foto: Aditia Rizki/kumparan)
"Soal Oliviera, saya rasa dia bagus di Moto2 dan punya potensi. Saya berharap hubungan kami bisa seperti keluarga, karena saya dengan Zarco dan Tech3 musim ini seperti keluarga, saya berharap kondisi ini akan berlanjut dengan Oliviera," ujarnya menambahkan.
ADVERTISEMENT
"Saya belum tahu apa yang akan terjadi musim depan, sekarang saya ingin berkomitmen dengan perpanjangan kontrak bersama Tech3. Saya juga akan lihat dulu apakah mereka mau melanjutkan kerja sama dengan saya atau tidak. Tapi, yang jelas saya masih ingin bertahan di MotoGP."
Kini, Hafizh masih memiliki 10 balapan tersisa di musim 2018. Pria kelahiran Selangor 24 tahun silam tersebut paham jalannya tak akan mudah dan banyak tantangan lebih besar menanti.
Namun, dengan dukungan dari tim, rekannya Zarco, dan kebanggan sebagai pebalap Asia Tenggara pertama di MotoGP, membuat optimisme Hafizh membuncah. Tantangan yang ada akan dijadikan pembelajaran dan menyempurnakan adapatsinya.
"Adaptasi saya sudah tidak terlalu banyak karena telah melewati sembilan balapan dan saya merasa sudah mendapat banyak pelajaran. Tapi, yang masih harus saya pelajari adalah sistem elektroniknya. Karena di MotoGP banyak perangkatnya seperti engine power, engine break, juga ada perangkat melihat kondisi ban."
ADVERTISEMENT
"Tantangan terbesar saya adalah saya masuk ke kelas 1000cc dari 600cc. Terlebih saya bersaing dengan nama-nama besar seperti Marc Marquez, Dani Pedrosa, dan Valentino Rossi yang terkadang membuat saya agak gemetar. Tapi, saya selalu berusaha belajar dari mereka, seperti belajar cara mereka menyalip," pungkas Hafizh.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan