Pencarian populer

Bertarung di Laga Thriller Empat Jam, Murray Terhenti

Andy Murray di babak pertama Australia Terbuka 2019. (Foto: REUTERS/Edgar Su)

Andy Murray memasuki pertandingan babak pertama Australia Terbuka 2019 dengan satu kemungkinan bahwa ini menjadi laga terahirnya. Maka, bertarunglah Murray di babak pertama Australia Terbuka 2019 ibarat tak ada lagi laga yang tersisa baginya sebagai petenis. Yang menjadi lawannya di Hisense Arena Melbourne Park, Senin (14/1//2019), adalah petenis unggulan ke-22 turnamen, Roberto Baustista Agut.

Tiket babak kedua memang berhasil dibawa oleh Agut, tapi kemenangan itu bukan kemenangan yang mudah. Menang 6-4, 6-4 di dua set pembuka, Agut menelan kekalahan di dua set setelahnya 6-7 (5-7), 6-7 (4-7). Murray tak sekadar bangkit, ia bertarung sampai akhir, sampai dua set berlanjut ke babak tie break. Sayangnya, pertarungan sengit yang berlangsung lebih dari empat jam itu ditutup dengan kemenangan 6-2 untuk Agut di set pamungkas.

Usia Agut dan Murray tak berbeda jauh. Keduanya bukan pemain muda. Jika Agut berusia 30 tahun, maka Murray berumur 31 tahun. Secara hitung-hitungan usia, stamina yang tak prima menjadi musuh nomor satu. Namun, Agut memasuki turnamen dengan keuntungan lebih banyak ketimbang Murray. Ia didapuk sebagai unggulan ke-22 turnamen, sedangkan Murray bertanding dengan status protected ranking.

Tanpa kebijakan itu, bukannya tak mungkin Murray batal berlaga di putaran final Australia Terbuka. Cedera panjang membuat peringkat Murray terjun bebas dari papan atas menjadi peringkat 230 dunia.

Andy Murray di babak pertama Australia Terbuka 2019. (Foto: REUTERS/Lucy Nicholson)

Kita tahu, Murray sudah mengumumkan pengunduran diri sebagai petenis jelang Australia Terbuka 2019 dimulai. Ia ingin Wimbledon 2019 menjadi turnamen terakhirnya walau di satu sisi juga tak yakin bahwa ia akan sampai di Wimbledon pada Juli nanti.

Barangkali di situlah kuncinya. Bagi Murray yang bersiap untuk menutup perjalanannya sebagai petenis, detik-detik terakhir kehidupannya di lapangan tenis dan perebutan Grand Slam adalah pertaruhan. Bahwa akhir kisahnya sebagai petenis mesti dijemput dengan seindah-indahnya, dengan sehebat-hebatnya.

Setiap petenis yang bertanding cuma bisa bergantung pada dirinya sendiri--tak ada kawan, termasuk pelatih, yang bisa dimintai pertolongan. Padahal, di setiap laga mereka harus bertarung menghadapi tiga lawan sekaligus: Lawan, diri sendiri, dan pekerjaan nasib.

Roberto Bautista Agut di babak pertama Australia Terbuka 2019. (Foto: REUTERS/Lucy Nicholson TPX IMAGES OF THE DAY)

Namun keharusnya untuk bertarung sendirian itu tak dihadapi Muray dengan cengeng. Perlawanan sengit, seolah-olah ini menjadi yang terakhir, ditunjukkan Murray sejak laga dimulai.

Unggul 1-0, Murray harus menerima kenyataan bahwa lawannya itu bukan petenis kacangan. Kedudukan itu disamakan menjadi 1-1, situasi pun berlanjut dalam wujud demikian sampai gim delapan, sampai kedudukan sama kuat 4-4. Namun Agut bangkit, mematrikan keunggulan 5-4 yang berlanjut kepada kemenangan 6-4 di set pertama.

Situasi berkebalikan terjadi di set kedua. Dari tertinggal 2-4, Murray bangkit perlahan menjadi 4-5. Sialnya, agresivitas Murray yang dibuktikan dengan 12 winner dan lima ace (berbanding lima winner dan dua ace milik Agut) harus dibayar mahal dengan 11 unforced error sehingga keuntungan beralih kepada Agut. Kemenangan 6-4 menjadi modal yang baik, menjadi alasan logis baginya untuk memasuki laga set ketiga dengan dada membusung dan kepala terangkat. Satu set lagi, melangkah ke babak kedua--barangkali, itu yang berkecamuk dalam alam pikir Agut.

Murray akhirnya menemukan momentum di set ketiga, walaupun Agut acap menyamakan kedudukan hingga gim ke-12, sampai kedudukan sama kuat 6-6. Itu artinya, laga harus berlanjut ke babak tie-break. Di babak ini pun, pukulan kombinasi Agut yang kerap dimulai dengan permainan baseline yang digabung dengan permainan net dijawab Murray dengan gigih--misalnya, apa yang terjadi di awal tie break.

Pukulan jauh Agut dikembalikan Murray dengan pukulan lob dari tengah lapangan yang sekilas tak bertenaga. Akibatnya, lesakan itu dapat dijangkau dengan mudah oleh Agut yang berdiri di depan net dan dikembalikan dengan pukulan kencang yang menjangkau area belakang lawan.

Alih-alih menyerah dan membiarkan poin lepas, Murray berlari ke belakang mengejar bola dan melepaskan pukulan forehand yang mengarah ke tengah lapangan. Mengira lawannya itu sudah menyerah menggapai bola, Agut justru tak siap sehingga terlambat mengambil posisi ke tengah bidang permainannya sendiri. Alhasil, kedudukan 2-1 menjadi milik Murray di awal tie break set ketiga.

Begitulah selanjutnya set ketiga berjalan. Murray jatuh bangun meladeni permainan Agut, hingga akhirnya kemenangan 7-5 di tie break pertama memastikan bahwa untuk sementara ia selamat dari kekalahan.

Murray di akhir babak pertama Australia Terbuka 2019. (Foto: REUTERS/Lucy Nicholson TPX IMAGES OF THE DAY)

Laga babak pertama menjadi penanda bahwa apa pun bisa terjadi di setiap pertandingan tenis. Saat orang-orang mengira Agut akan menang di set ketiga, Murray bangkit dan memaksa laga berlanjut ke set keempat. Saat penonton menafsir pertandingan akan tuntas di set keempat dengan kemenangan Agut, Murray menggila dan menggiring lawannya itu kepada pertarungan tie break yang tuntas dengan kemenangan 7-6 (7-4). Apa boleh buat, pertandingan sampai juga ke set yang benar-benar pamungkas, set kelima.

Pertandingan berhenti sejenak di set kelima, saat Agut unggul jauh 5-1 atas Murray. Itu menjadi penanda bahwa laga sudah berjalan selama empat jam. Seluruh penonton berdiri, bertepuk tangan memberi penghormatan kepada Murray yang bertarung sekuat-kuatnya.

Agut ikut mengangkat raket, kedua telapak tangannya saling beradu, memberikan tabik kepada lawan yang bertanding dengan gila. Dari tribune penonton, ibu sekaligus mantan pelatih Murray, Judy Murray, berdiri dengan pandangan nanar memberi penghormatan kepada puteranya. Begitu pula dengan sang adik, Jamie Murray, yang mengambil tempat di sebelah kanan si ibu.

Murray yang ada di tengah lapangan mengangkat raket dan bertepuk tangan. Penghormatan dari seantero stadion diterimanya dengan kasih, disimpannya baik-baik sebagai cerita yang tak akan mempan dihajar kabar cedera dan catatan kekalahan. Walau tertinggal 1-5, Murray masih berlari, mengayun raket dan mendulang kemenangan terakhirnya di pertandingan ini. Kekalahan 2-6 di set kelima lantas menjadi penanda bahwa perjalanan Murray di Australia Terbuka 2019 tuntas dan bukannya tidak mungkin ini menjadi kali terakhir Murray menginjakkan kaki di Melbourne Park.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: