kumparan
23 Agu 2019 17:36 WIB

Chou Tien Chen yang Melawan Dirinya Sendiri

Chou Tien Chen di Kejuaraan Dunia 2019. Foto: REUTERS/Arnd Wiegmann
Pada suatu waktu kita menyibukkan diri dengan pertanyaan-pertanyaan tak terjawab. Kenapa harus kalah setelah bertahun-tahun melawan? Kenapa musuh suka bersembunyi di balik selimut? Kenapa ada kepergian tanpa kepulangan? Kenapa kematian mesti muncul dengan lekas dan mendadak? Dan kenapa-kenapa lainnya.
ADVERTISEMENT
Deretan kenapa yang berujung pada jalan buntu itu akhirnya membuat kita mengambil kesimpulan: Memang sudah seperti itu jalannya.
Barangkali Chou Tien Chen juga bertanding dari satu lapangan ke lapangan lain sambil membawa daftar ‘kenapa’-nya sendiri. Salah satunya, kenapa dia mesti melakoni laga yang berat melulu beberapa waktu belakangan?
Oke, dalam tiga pekan ia merengkuh dua gelar juara. Tapi ada cerita kekalahan di babak kedua Jepang Terbuka 2019 dalam kurun itu.
Chou Tien Chen dan Anders Antonsen (kiri) usai pertandingan Blibli Indonesia Open 2019 di Istora Senayan, Minggu (21/7/2019). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Bahkan jalan panjang yang gila mesti ditempuhnya untuk menyegel gelar juara Indonesia Open 2019. Di babak perempat final, ia baku hantam dengan andalan Indonesia, Jonatan Christie. Kita semua tahu sendiri seperti apa Istora GBK mendukung para jagoannya.
Penonton Indonesia itu ada-ada saja. Mereka menyoraki Chou huuu…setiap kali ia mendapat angka. Intimidasi itu pada akhirnya dijawab Chou dengan senyuman. Bukan senyuman sinis, tapi senyuman tanda kemenangan atas Jonatan.
ADVERTISEMENT
Keluar dari mulut singa, masuk ke mulut buaya. Andalan Denmark, Anders Antonsen, menjadi lawan di partai pemungkas. Siapa pun yang menyaksikan pertandingan itu rasanya paham bahwa Antonsen adalah pebulu tangkis gila yang memiliki energi tak masuk akal.
Antonsen berlaga di gim kedua dengan brilian, seperti bukan dia yang baru saja kalah 18-21 di gim pertama. Hasilnya luar biasa. Antonsen menang 26-24. Melihat skornya saja kita tahu itu bukan pertarungan biasa.
Chen tak punya pilihan. Ia mesti bertarung lebih gila lagi, menggali sedalam mungkin sampai batas ketidakmungkinan paling muskil. Pada akhirnya laga gim ketiga tuntas dengan kemenangan 21-15 untuk Chen.
Chou Tien Chen usai pertandingan Blibli Indonesia Open 2019 di Istora Senayan, Minggu (21/7/2019). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Istora GBK bergemuruh di pengujung laga. Tepuk tangan dan sorak sorai menjadi penanda bahwa siapa pun yang hadir di sana tak lagi mempedulikan siapa yang mereka dukung. Antonsen dan Chen tergeletak di tengah lapangan. Empat rubber game beruntun ditutup Chen dengan kemenangan.
ADVERTISEMENT
Ini adalah pertandingan terbaik, kemenangan terbesar. Seperti yang sudah-sudah, lawan terberat Chen adalah bayang-bayang masa lalunya sendiri. Rangkaian kekalahan di Super Series 1.000 melahirkan luka yang mesti disembuhkan dulu sebelum bicara panjang-lebar soal gelar juara.
Berdamai dengan diri sendiri adalah tugas pertama yang mesti dituntaskan sebelum berlaga satu lawan satu melawan rival. Itu belum ditambah dengan musuh yang baru: Kanker yang diidap seorang suporter setianya.
“Saya hanya mencoba untuk menunjukkan semangat bertarung saya karena saya cuma bisa bertarung sekuat tenaga, saya tidak bisa mengontrol hasil akhirnya. Saya membuktikan bahwa saya bisa melalui semua ini, bahwa saya bisa mengendalikan diri," jelas Chen, dikutip dari laman resmi BWF.
"Saya ingin berkata kepada suporter saya itu bahwa dia harus menunjukkan perlawanan yang sama. Bahwa dia mesti melawan kanker dengan sikap yang sama,” ujar Chen.
ADVERTISEMENT
Chou Tien Chen saat pertandingan Blibli Indonesia Open 2019 di Istora Senayan, Minggu (21/7/2019). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Pun demikian di final Thailand Terbuka 2019. Chen meski baku hantam dengan wakil Hong Kong, Ng Ka Long. Kemenangan 21-14 di gim pertama seperti tak ada artinya karena gim kedua ditutup Chen dengan kekalahan telak 11-21.
Apa boleh bikin. Berlagalah Chen seolah-olah ini menjadi pertandingan terakhirnya. Mahkota juara Super Series 500 itu akhirnya dikenakan di kepalanya begitu mengunci kemenangan 23-21 di gim terakhir.
Salah besar jika mengira pertandingan Chen sudah selesai. Babak pertama Kejuaraan Dunia BWF 2019 sudah menghadapkannya dengan laga sengit. Too much trouble in Basel, kata mereka yang turun gelanggang di St. Jakobshalle.
Hans-Kristian Vittinghus, yang dengan manuver raket terbangnya belakangan membuat orang-orang berpikir seandainya Hogwarts itu ada, memberikan perlawanan hebat dalam tiga gim. Bernapas sedikit di babak kedua saat melawan wakil Kroasia, Zvonimir Durkinjak, Chen kembali habis-habisan di babak ketiga.
ADVERTISEMENT
Chou Tien Chen di Kejuaraan Dunia BWF 2019. Foto: REUTERS/Arnd Wiegmann
Dalam laga perebutan tiket perempat final itu Chen bertanding melawan Loh Kean Yew dalam tiga gim. Setelah menang 21-13 di gim pembuka, Chen mesti menerima kekalahan 18-21 di gim kedua.
Ya, sudah, apa boleh buat. Gim ketiga menjadi penentu, kemenangan 21-17 direngkuh lewat perlawanan habis-habisan.
"Ia memiliki smash yang kuat dan sulit diredam. Pertandingan ini pertarungan level tinggi yang memaksa saya untuk meningkatkan kualitas. Pertandingan ini akan membuat saya bermain lebih baik di laga selanjutnya," jelas Chen dalam wawancara usai laga.
Kantaphon Wangcharoen, tunggal putra Thailand yang sedang naik daun itu, menjadi lawan Chen di perempat final. Chen rasanya belum lupa sehebat apa permainan lawan di semifinal Indonesia Open 2019.
ADVERTISEMENT
Para unggulan bertumbangan di Kejuaraan Dunia 2019. Ganda putra terbaik dunia saja kalah di babak kedua. Maka, tak ada yang bisa menjamin statusnya sebagai unggulan kedua bisa menyelamatkannya hingga ke partai puncak.
Chou Tien Chen saat pertandingan Blibli Indonesia Open 2019 di Istora Senayan, Jumat (19/7). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Tapi Chen adalah anomali di jagat olahraga. Mungkin dia tidak menjadi satu-satunya, tapi tetap langka. Memenangi pertandingan adalah persoalan besar, tapi tidak menjadi yang terbesar.
Tentang hasil, ia tak berpikir banyak. Toh, memikirkan hasil sama saja dengan mempersoalkan ketidakpastian. Bagi Chen, yang terpenting adalah berdiri di atas lapangan, mengayun raket persis seperti yang dilakukannya sejak 2008.
"Bagaimana jika kalian bisa memenangi medali emas? Itu tujuan jangka pendek. Setelahnya, kamu kamu harus menjadi pemenang dalam hidupmu sendiri. Itulah sebenar-benarnya medali."
ADVERTISEMENT
Victoria Kao, pelatih fisik Chen, tidak akan pernah melupakan kata-kata anak didiknya itu. Pada detik-detik paling genting di setiap pertandingan--saat lawan bangkit menerjang dengan tubian smash--kata-kata itu lindap, lalu membentuk pemahaman tentang apa artinya menjadi pebulu tangkis.
Ketika lampu-lampu telah dipadamkan dan podium sudah dirubuhkan, kedua mata Kao menangkap Chou Tien Chen kembali mengayun raket, bergegas menjadikan kemenangan dan kekalahan sebagai kepergian tanpa kepulangan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan