Pencarian populer

Dani Pedrosa: Kurang Nekat, Kelewat Teliti

Kuda hitam dari Honda, Dani Pedrosa. (Foto: MotoGP)

Dunia balapan punya satu adagium, bahwa mereka yang tak nekat dan tak punya nyali lebih, tak akan mendapat tempat di podium mana pun.

Mereka boleh beradu cepat di lintasan balap, menunggangi motor tercanggih, menekan gas dan napas sedalam-dalamnya. Namun, selama perhitungan itu terlalu rinci, podium ibarat cerita nirwana yang tak ada juntrungannya. Kelewat tinggi untuk dicapai, kelewat maya untuk menjadi masuk akal.

Legenda pebalap MotoGP yang dulu juga menjadi andalan Yamaha, Kenny Roberts, pernah mengungkapkan bahwa salah satu faktor yang harus dimiliki oleh seorang pebalap adalah naluri membunuh. Itu pulalah yang dialaminya saat melakoni balapan pamungkas musim 1983 di Imola.

Tak ada yang menampik persaingan Yamaha dan Honda di era itu. Waktu itu, Freddie Spencer menjadi musuh bebuyutan Yamaha. Di balapan akhir, Spencer sudah unggul lima poin atas Roberts.

Apa yang mereka tunjukkan di Sirkuit Imola lebih mirip pertarungan dua pebalap liar ketimbang adu cepat para pebalap profesional. Sepanjang balapan, Roberts berusaha menahan Spencer agar penggawa Yamaha lainnya, Eddie Lawson, bisa mengejar dan finis di depan Spencer.

Pada akhirnya, Lawson yang memenangi balapan. Podium puncak menjadi miliknya. Namun, Spencer tetap keluar sebagai juara dunia. Namanya tercatat sebagai pebalap Honda pertama yang menyabet juara 500cc. Menyoal balapan ini, satu kalimat ajaib yang keluar dari mulut Roberts adalah, "Waktu itu saya sudah ingin membunuhnya!"

Di atas lintasan balap, Roberts tidak punya waktu untuk bermanis-manis dan berhitung secara rinci. Yang ada di kepalanya hanya satu: Yamaha harus jadi juara.

Demikian pula dengan pebalap kontroversial yang kini memperkuat Honda Repsol, Marc Marquez. Gaya balapannya di satu sisi dianggap buruk, terlalu ugal-ugalan, membahayakan keselamatan pebalap lain, dan merusak MotoGP itu sendiri.

Lucunya, 'seburuk' apa pun gaya balapan Marquez, ia tetap punya tempat di podium puncak. Penalti tiga grid bahkan tak menghalanginya untuk menjadi yang tercepat di Sirkuit Austin. Sekarang, ia menjadi runner up sementara MotoGP 2018. Hanya terpaut satu poin dengan Andrea Dovizioso yang jadi pemuncak.

Apa-apa yang ditunjukkan dua pebalap ini menguatkan asumsi bahwa untuk punya tempat di lintasan balap, seseorang harus punya nyali lebih untuk menjadi sosok yang bengis dan tanpa ampun.

Dani Pedrosa berbeda. Sekilas, gaya membalapnya ibarat perhitungan matematis para ilmuwan. Cenderung berhati-hati, lebih lambat, terkesan pengecut, dan kurang bernyali. Namun, yang dilakukannya di atas lintasan balap bukan berhitung, ia mengikuti intuisi.

Dalam satu wawancaranya, Pedrosa menjelaskan apa yang dituntut Honda kepada para pebalapnya. Honda bukan menuntut seorang pebalap untuk tampil beringas, tak pula sebagai pengecut yang berpacu di lintasan balap. Yang dituntut dari Honda adalah menjadi pebalap yang intuitif.

"Honda menuntut kami para pebalapnya untuk tampil intuitif, bukannya berpikir keras di sepanjang balapan. Kalau kalian membalap, kalian akan merasakan sendiri bahwa yang berbeda-beda itu bukan hanya kondisi di tiap sirkuit, tapi di tiap lap."

"Misalnya, di lap satu kamu berhasil mengamankan posisi puncak, tapi bisa saja kamu berpindah-pindah posisi di lap kedua. Nah, di saat seperti inilah kamu menggunakan intuisimu: Apa yang harus kamu lakukan di situasi seperti ini, apa yang kamu rasakan pada motormu saat melintas di satu lap?"

"Itu sebabnya, hanya karena saya tampil beringas di satu balapan atau bahkan satu lap, bukan berarti saya bakal tetap tampil gila di balapan selanjutnya."

Lewat omongannya tersebut Pedrosa ingin menegaskan, balapan adalah olahraga yang bergantung pada intuisi. Dan intuisi menghasilkan keputusan dan gaya balapan yang berbeda.

Pedrosa di GP Argentina. (Foto: REUTERS/Marcos Brindicci)

Untuk memahami maksud kata-kata Pedrosa tadi, kita hanya perlu melihat apa yang dilakukannya di balapan musim 2017 lalu. Di Sirkuit Ricardo Tormo (Valencia), Pedrosa memulai balapan di posisi lima. Marquez, yang memulai balapan dari posisi terdepan, berhasil mempertahankan posisinya selepas start. Namun, bagaimana ia mempertahankan posisi terdepan tidak semudah menulis laporan balapan.

Pada dua tikungan pertama, Marquez harus berhadapan dengan kejaran Pedrosa. Entah seperti apa ceritanya, yang jelas ia melesat ke depan dan bersaing dengan Marquez.

Johann Zarco kembali membuktikan seagresif apa ia di lintasan balap. Start dari urutan kedua, pebalap asal Prancis ini sempat merosot. Namun, Zarco adalah Zarco. Nekat menjadi nama tengahnya. Yang ia lakukan adalah menggeber motor dan menggeser Pedrosa yang ada di posisi kedua. Caranya, ia menyalip Pedrosa dengan jarak yang teramat dekat ketika menikung ke sisi dalam.

Zarco mengambil alih posisi puncak dengan memanfaatkan kesalahan Marquez. Yang dilakukan Marquez sebenarnya sepele, ia menoleh ke belakang. Saat Marquez menoleh itulah, Zarco berhasil mencuri posisi pertama.

Sekilas, balapan akan menjadi milik Zarco yang waktu itu masih berstatus sebagai rookie. Empat balapan akhir, Pedrosa menjadi satu-satunya lawan yang paling mematikan.

Di sinilah intuisi Pedrosa bekerja. Di dua lap akhir, ia menyalip Zarco. Setelahnya, posisi puncak berhasil dipertahankan Pedrosa hingga akhir balapan. Aksinya ini menyelamatkan Tim Honda. Ia merebut Valencia, walau Marquez yang jadi juara dunia.

Agak mengherankan bila melihat apa yang dilakukan Pedrosa di lap-lap terakhir. Sebabnya, situasi saat Zarco menyalip Pedrosa dengan situasi dua lap terakhir cenderung mirip. Pedrosa bisa saja menggagalkan misi Zarco menyalip di separuh pertama balapan.

Bagaimana bila perhitungannya untuk menyalip Zarco di dua lap terakhir itu gagal? Bukankah seharusnya lebih aman jika ia menjaga jarak dari Zarco sejak awal? Apa pun yang jadi alasannya, Pedrosa membuktikan bahwa intuisinya berhasil.

Bila dihitung mundur, Sirkuit Jerez 2017 juga menjadi balapan yang mempertontonkan kematangan intuisi Pedrosa. Berbeda dengan balapan-balapannya yang lain, Pedrosa tampil agresif sejak awal balapan.

Di sirkuit ini, Pedrosa sama sekali tak memberi ruang kepada Marquez. Pebalap-pebalap yang berpacu di belakangnya bersaing sengit. Mulai dari Andrea Iannnone hingga Maverick Vinales, mereka berebut tempat di lima besar. Namun, Pedrosa aman. Perlawanan sengit hanya terjadi di sembilan lap terakhir. Itu pun bersaing dengan Marquez yang jadi rekan setimnya.

"Saya hanya mengikuti intuisi. Pokoknya, sejak awal saya sudah merasa saya harus tampil gila-gilaan. Maka, itulah yang saya lakukan. Saya merasa aman di sepanjang balapan, makanya saya tetap fokus untuk mengamankan podium puncak, tak sekadar naik podium," ungkap Pedrosa seusai balapan.

Pedrosa jadi juara di Jerez 2017. (Foto: AP Photo/Miguel Morenatti)

Gaya membalapnya yang cenderung reaktif ini memunculkan satu argumen: Honda tak mungkin menjadikannya sebagai pebalap utama, tapi Honda juga harus berhitung matang untuk melepas atau mempertahankannya. Serba gamang.

Spekulasi yang beredar, Pedrosa kerap dinomorduakan dibanding Marquez. Di tim, Marquez menjadi ujung tombak. Tugas Pedrosa di lintasan balap adalah memberikan jalan bagi Marquez untuk merengkuh podium. Kalau rekannya ini tak bisa, baru ia yang digilir untuk beradu cepat sekuat-kuatnya yang ia bisa demi angka dan klasemen.

Eks bos Repsol Honda, Livio Suppo, menolak untuk menggunakan istilah pebalap pertama dan kedua dalam timnya. Baginya, tim yang menggunakan istilah itu adalah tim yang hanya mempunyai satu pebalap hebat, sementara sisanya, pebalap kacangan.

Honda berbeda. Menurutnya, Pedrosa dan Marquez sama-sama pebalap hebat. Namun, sesetara apa pun keduanya, tombak hanya memiliki satu ujung dan satu pegangan. Ia tak akan sempurna jika keduanya menjadi ujung, tak akan berfungsi tanpa pegangan (handle).

Dan untuk ini, jelaslah Marquez yang menjadi ujung dan Pedrosa yang menjadi pegangan. Secara kolektif, Pedrosa punya tugas untuk menopang Marquez yang menjadi ujung tombak Honda.

Dalam peran seperti itu, Pedrosa sepintas lalu tentu tak menonjol bila dibandingkan dengan Marquez yang lebih gahar. Ia tidak seagresif Zarco yang nekat untuk mencari ruang untuk menyalip lawan, tidak se-tricky Andrea Dovizioso yang pintar mencari keuntungan saat pebalap lain melakukan kesalahan. Atau, ia tidak seefektif Valentino Rossi yang cermat dalam berhitung.

Pedrosa tak tergoda untuk mengemban predikat pebalap bernyali demi podium dan angka. Balapan memang menyediakan ruang yang sedikit bagi mereka yang mengandalkan intuisi, tapi bukan berarti tak ada celah. Bukan berarti tak ada ruang kosong yang bisa ditempati oleh seorang pebalap seperti Pedrosa.

Celah tadi mungkin hanya muncul sekali dalam keseluruhan balapan yang berlangsung selama 40-an menit itu. Atau, bisa saja tak muncul sama sekali. Namun, begitu seorang yang intuitif, celah yang hanya muncul sekali itu saja sudah cukup. Itulah yang dilakukan Pedrosa di Jerez dan Valencia. Lantas, bukannya tak mungkin ruang macam tadi akan kembali muncul di Sirkuit Jerez akhir pekan ini.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.55