kumparan
23 Jan 2019 16:08 WIB

Debby Susanto: Terima Kasih untuk Fans hingga Doa untuk Praveen/Melati

Penampilan terakhir Debby Susanto di Indonesia Masters 2019, Selasa (22/1). (Foto: Dok. PBSI)
Debby Susanto mengakhiri karier bulu tangkisnya di Indonesia Masters 2019. Ya, selain Liliyana Natsir, Debby juga menjadikan turnamen BWF World Tour Super 500 ini sebagai panggung terakhir sebelum gantung raket.
ADVERTISEMENT
Sayangnya, Debby yang berpasangan dengan Ronald harus terhenti di babak pertama, Selasa (22/1/2019). Debby dan Ronald kalah dari ganda campuran Jerman, Mark Lamsfuss/Isabel Herttrich, 15-21 dan 13-21. Debby, yang menutup pertandingan terakhirnya dengan kekalahan di depan publik Istora Gelora Bung Karno (GBK), tidak menyesal.
"Latihan dengan Ronald baru dua kali, dia ke Malaysia (Malaysia Masters) dengan partner lain. Jadi persiapan baru dua hari. Dari pelatih tidak ada target, tapi secara pribadi, ini pertandingan terakhir saya, ingin bawa Ronald agar bisa menikmati permainan saja," kata Debby.
"Sebenarnya ada momen yang disesali (selama karier), sih, tidak ada. Karena menurut saya, tidak semuanya harus dilihat dari hasil, tapi dilihat dari momen mencapai ke situ, jatuh bangunnya, bisa bangkit, motivasi diri lagi," imbuh atlet kelahiran 3 Mei 1989 ini.
ADVERTISEMENT
Selama belasan tahun membela Indonesia, Debby sendiri tidak memungkiri bahwa pencapaian terbaiknya adalah kala berpasangan dengan Praveen Jordan. Saat masih berduet, Praveen/Debby menyumbang emas di SEA Games 2015, menjuarai All England 2016, dan menjuarai Korea Terbuka 2017.
Cita-cita tertingginya, yang belum (dan akhirnya tidak bisa) digapai Debby, adalah Olimpiade. "Ada (yang belum tercapai), ingin dapat medali Olimpiade atau Kejuaraan Dunia. Tapi, saya tidak mau berfokus pada itu, saya puas dengan hasil saya dari nol sampai sekarang. Tidak hanya hasil, tapi proses yang lebih saya banggakan. Sama Rijal (Muhammad Rijal) juga juara, jadi banyak plus dan minus, semua momen terbaik," ujarnya.
Menanggalkan statusnya sebagai pemain pelatnas PBSI per akhir Januari nanti, Debby sendiri mengaku akan merindukan rutinitasnya sebagai atlet. Ia memilih fokus urusan keluarga, baik orang tua maupun bersama suaminya. Pasalnya, selama mengucurkan keringat dalam perjuangannya membela Indonesia, keluarga adalah nomor sekian dalam prioritasnya sebagai atlet.
ADVERTISEMENT
Pebulu tangkis ganda campuran Indonesia, Debby Susanto. (Foto: Dok. BWF)
"Dari bangun tidur pasti sudah kangen, bangun-tidur-latihan, semuanya. Apalagi dari kecil merantau. Istora juga pasti kangen, tidak ada (suasana) venue yang lebih dari ini."
"Karena 'kan tahun ini aku sudah umur 30 tahun, pasti mau fokus ke keluarga dulu. Di bulutangkis sudah cukup, sudah 15-16 tahun saya di bidang ini. Selama itu, keluarga dikesampingkan sekali. Jadi untuk tahun ini berhenti dan mau fokus ke keluarga," ujarnya.
Saat ditanya apakah bakal banting setir menggeluti bidang kepelatihan atau berbisnis layaknya Liliyana Natsir, Debby mengaku belum memikirkannya. "Untuk bisnis, sih, kepikiran. Cuma saat ini setop dulu cari uangnya, setop dulu. Sudah cukup kariernya, mau luangkan waktu dengan keluarga, mau ajak mama jalan-jalan."
ADVERTISEMENT
"Kadang sempat ada celetukan seperti itu (jadi pelatih), tapi balik lagi, tidak tahu ke depannya seperti apa. Untuk sekarang belum terpikir, kalau jadi pelatih tidak ada bedanya dengan atlet. Setiap hari sampai sore di pelatnas, ikut pertandingan lagi. Jadi sebenarnya sama saja, cuma beda profesi," ucapnya.
Untuk junior di sektor ganda campuran yang ditinggalkannya, maupun rekan pelatnas sesama andalan Tanah Air seperti Praveen/Melati Daeva Oktavianti dan Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja, Debby berpesan agar mereka bisa lebih termotivasi untuk menjadi unjung tombak yang baru.
Debut Rinov Rivaldy/Debby Susanto di Fuzhou China Terbuka 2018. (Foto: Dok. PBSI)
"Sebenarnya ada bagusnya juga karena selama ini sektor ganda campuran masih pikir ada Cik Butet (sapaan Liliyana Natsir, red) ini. Sekarang sudah tak bisa bertumpu ke Cik Butet. Sudah waktunya juga, sudah umurnya, mereka (Hafiz/Gloria dan Praveen/Melati) sudah bukan pemain junior. Di umur mereka ini, teman dari negara lain sudah dapat juara."
ADVERTISEMENT
"Kurangnya itu dari motivasi diri mereka sendiri, lebih ke konsistensi. Kalau sudah dapat konsistensi, mereka pasti bisa tembus Top 10. Harus tahu kebutuhan sendiri tanpa disuruh pelatih. Motivasi ada, pelaksanaan yang kurang konsisten."
"Ke depan, saya yakin Praveen dan Melati bisa lebih baik dari sekarang. Mereka komunikasi bagus, saya doakan bisa melebihi apa yang saya dapat bersama Praveen. Untuk fans, terima kasih, tanpa mereka saya bukan apa-apa. Saya tidak pernah mimpi bisa banyak yang dukung. Terima kasih, terutama yang mendukung saya dalam kondisi terpuruk," kata Debby.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan