kumparan
1 Jan 2019 7:42 WIB

Djokovic: Big Four Masih Akan Berjaya di Grand Slam 2019

Novak Djokovic juarai AS Terbuka 2018. (Foto: Robert Deutsch-USA TODAY Sports)
Tahun baru milik siapa pun, termasuk ranah tenis. 1 Januari 2019 menjadi penanda dimulainya musim kompetisi yang baru. Grand Slam yang berpredikat sebagai kompetisi tenis paling elite pun akan segera dibuka. Tepat pada 14 Januari 2019, Australia Terbuka yang merupakan seri pertama kompetisi Grand Slam pun akan dimulai. Para petarung bersiap, mempersiapkan winner dan ace terbaik untuk memenangi gim dan menutup kompetisi dengan trofi yang terangkat tinggi.
ADVERTISEMENT
Novak Djokovic menuntaskan musim 2018 dengan cerita manis. Setelah jatuh-bangun di awal musim, petenis asal Serbia ini justru merengkuh lima gelar juara. Dua di antaranya bahkan gelar Grand Slam: Wimbledon dan AS Terbuka.
Kemenangan di seri Grand Slam yang disebut terakhir itu menggenapkan trofi Grand Slamnya di nomor tunggal putra menjadi 14. Sementara, tiga trofi non-Grand Slam didulangnya di Western & Southern Open (Cincinnati Masters), Rolex Shanghai Masters (Shanghai Terbuka), dan Mubadala World Tennis Championship.
Bahkan gelar juara di Cinnnati Masters itu mengantarkannya pada torehan sejarah baru. Djokovic menjadi petenis pertama yang memenangi kesembilan seri di ATP World Tour Masters 1000 setelah mengalahkan Federer dalam dua set langsung 6-4, 6-4. Dalam dunia tenis, siapa pun yang menjuarai seluruh seri turnamen ini akan dianugerahi gelar 'Career Golden Masters'.
ADVERTISEMENT
Menilik sejarah Masters 1000, sebelumnya turnamen ini bernama Grand Prix Super Series. Petenis yang menjuarai seluruh seri turnamen tadi adalah Ivan Lendl, yang kini berstatus sebagai pelatih Alexander Zverev Jr. Tapi, setelah namanya diganti menjadi Masters 1000 pada 2009, Djokovic menjadi orang pertama yang menimang gelar tadi. Tidak cuma itu. Djokovic bahkan menyegel gelar petenis peringkat satu dunia di nomor tunggal putra berkat koleksi 9.045 poin.
Djokovic dan Kerber di penutupan Wimbledon 2018. (Foto: Thomas Lovelock/AELTC/Pool via Reuters)
Musim 2019 sebenarnya sudah dimulai pada 31 Desember 2018. Kini, ia sedang bertanding di Qatar ExxonMobil Open. Turnamen yang bakal berakhir pada Sabtu (5/1/2019) ini dipandang sebagai turnamen pemanasan jelang Australia Terbuka 2019.
Nah, bicara soal Grand Slam, Djokovic masih kelewat percaya bahwa 'Big Four'-lah yang akan bicara banyak di keempat serinya. Sebagai catatan, mereka yang tercatat sebagai Big Four tunggal putra adalah Djokovic, Rafael Nadal, Roger Federer, dan Andy Murray.
ADVERTISEMENT
Pendapat Djokovic tak berlebihan. Melihat kompetisi 2018 saja, keempat gelar Grand Slam memang disegel oleh 'Big Four'. Rinciannya, Federer menjuarai Australia Terbuka, Nadal menyegel gelar Prancis Terbuka, dan Djokovic mengamankan trofi Wimbledon dan AS Terbuka. Hanya Murray-lah yang tak menimang gelar Grand Slam. Tapi, itu juga disebabkan oleh keputusannya untuk fokus pada pemulihan cedera sehingga tak dapat berlaga di kompetisi Grand Slam musim lalu.
"Saya pikir, jika kami sehat-sehat saja dan bisa bermain dengan baik, 'Big Four' ini masih akan memiliki kesempatan emas untuk menjuarai trofi Grand Slam," kata Djokovic, dilansir Skysport.
Menurut Djokovic, masih banyak hal yang harus dipersiapkan oleh petenis-petenis muda untuk mengangkat trofi Grand Slam--mulai dari fisik, teknik, hingga mental. Soal faktor terakhir, pengalaman juga menjadi elemen penting.
ADVERTISEMENT
Alexander Zverev rengkuh gelar juara ATP Finals 2018 setelah mengalahkan Novak Djokovic di partai final. (Foto: Glyn KIRK / AFP)
Namun demikian, bukan berarti Djokovic meremehkan keberadaan talenta-talenta muda ini. Ambil contoh di gelaran ATP Finals 2018 lalu. Di partai puncak, Djokovic malah dijungkalkan dalam dua set langsung, 4-6 4-3, oleh Zverev. Kemenangan Zverev atas Djokovic digadang-gadangkan sebagai penanda kelahiran era tenis yang baru. Pendapat itu bahkan disampaikan oleh legenda tenis asal Jerman, Boris Becker.
Djokovic tidak menampik potensi petenis-petenis muda. Toh, Zverev memang mengalahkannya di ATP Finals. Begitu pula di final Paris Masters, saat ia dikalahkan oleh petenis Rusia berusia 22 tahun, Karen Khachanov, di partai puncak. Atau hitung mundur saat petenis 22 tahun asal Korea Selatan, Chung Hyeon, yang mengalahkannya di babak 16 besar Australia Terbuka.
ADVERTISEMENT
"Tapi pada akhirnya, ini semua hanya masalah waktu. Akan tiba saatnya kita semua--termasuk kami--menyaksikan anak-anak muda itu berlaga di partai puncak Grand Slam," tutup Djokovic.
***
Seri pertama kompetisi Grand Slam 2019, Australia Terbuka 2019, akan digelar di Melbourne Park--Melbourne, Australia--pada 14 Januari hingga 27 Januari 2019.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan