Pencarian populer

Dream Team NBA Musim 2017/2018 versi kumparan

Stephen Curry vs LeBron James. (Foto: TIMOTHY A. CLARY / AFP)

Musim reguler NBA sudah berakhir, tapi tidak berarti rangkaiannya selesai sampai di situ. Ada 16 tim, masing-masing delapan dari wilayah barat dan timur, melanjutkan perjuangan di babak play-off.

Beberapa hal menarik terjadi selama 82 pertandingan musim reguler. Ada tim yang awalnya difavoritkan malah tertatih-tatih. Ada pula tim yang jadi 'kuda hitam'. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah rusaknya dominasi Golden State Warriors oleh Houston Rrockets, serta melempemnya San Antonio Spurs dan Cleveland Cavaliers.

Kondisi tersebut tidak terlepas dari peran para pemain di tim masing-masing. Ada yang melejit, ada pula yang menurun. Nah, dari sekian banyaknya pemain yang mentas di NBA musim ini, kumparan (kumparan.com) sudah merangkum 12 pemain dengan performa terbaik untuk mengisi 'Dream Team' NBA musim 2017/2018.

Guard

Inti: Russel Westbrook, Stephen Curry

Russel Westbrook masih menunjukkan taji sebagai pengatur dan motor serangan utama Oklahoma City Thunder. Kendati Okhaloma kedatangan dua pemain top dalam diri Paul George dan Carmelo Anthony, Westbrook tetap jadi sosok utama.

Gaya permainan yang eksplosif dan tajam membuatnya tercatat jadi pemain NBA pertama yang bisa mencatatkan rata-rata poin, rebound, dan assist lebih dari 10 dalam dua musim berturut-turut. Khusus musim ini, ia mencetak rata-rata 25,4 poin, 10,3 assist, dan 10,1 rebound per gim.

Untuk mengimbangi gaya permainan Westbrook yang eksplosif, kami memilih Stephen Curry sebagai pendampingnya di posisi guard. Selain untuk bergantian mengatur skema, Curry dengan akurasi tembakan tripoin mencapai 49,5% bisa difungsikan sebagai shooting guard.

Cadangan: Kyrie Irving, Damian Lillard, James Harden

Lillard dengan gaya mainnya yang eksplosif sangat cocok digunakan sebagai pengganti Westbrook. Sementara Kyrie Irving dan James Harden bisa dimainkan bersama ketika tim membutuhkan tempo permainan yang lebih lambat.

Irving dan Harden sama-sama punya keunggulan soal ball handling dan penyelesaian akhir. Selain itu, keduanya pernah diduetkan di Timnas Basket Amerika Serikat pada Olimpiade 2016 dan berujung dengan medali emas.

Forward

Inti: LeBron James, Kevin Durant

Kevin Durant adalah bagian dari tim LeBron James di ajang NBA All-Star musim ini. Pemilihan James soal Durant beralasan kuat lantaran pemain berusia 29 tahun itu bisa difungsikan sebagai pengalir bola, catatan assist-nya mencapai 5,5 per gim sepanjang musim reguler. Ia bisa bekerjasama dengan baik bersama James yang sering memegang peran membagi bola atau jadi eksekutor di Cavaliers usai Irving pindah.

Cadangan: Kristap Porzingis, Giannis Antetokounmpo

Alasan memasang Antetokounmpo dan Porzingis sebagai cadangan adalah usia mereka yang terbilang masih cukup muda. Porzingis baru 22 tahun dan Antetokounmpo 23 tahun. Namun, kedua pemain ini punya cara main yang bisa saling melengkapi.

Jika Antetokounmpo bisa difungsikan sebagai pencetak angka (26,9 poin per gim) dan pembagi bola (4,8 assist per gim), Porzingis bisa diandalkan membantu center menjaga paint area dengan catatan 2,4 blok per gim miliknya. Kemampuannya soal menembak tripoin sebagai seorang bigman (39,5%) bisa jadi senjata cadangan.

Center

Inti: Anthony Davis

Davis adalah nyawa utama New Orlean Pelicans musim ini, duetnya bersama DeMarcus Cousins membuat daerah bawah ring Pelicans begitu kokoh. Davis sendiri selain kuat di bawah ring dengan 11,1 rebound, juga center yang bisa difungsikan sebagai pencetak angka dengan 28,1 poin per gim yang ia torehkan dari 75 laga di musim reguler.

Cadangan: Andre Drummond, Joel Embiid

Sebagai pelapis Davis untuk jadi penjaga ring, Andre Drummond dari Detroit Pistons dan Joel Embiid dari Philadelphia 76ers adalah pilihan pas. Drummond, kendati gagal membawa Pistons ke play-off, adalah pemilik rebound per gim terbanyak di NBA dengan 16, sedangkan Embiid 11 rebound.

Pelatih: Mike D'Antoni

Menjadikan D'Antoni sebagai orang untuk meracik strategi dengan susunan pemain macam ini adalah pilihan tepat. Pelatih berusia 66 tahun itu bisa membuat tim kuat soal penyerangan dan kokoh di pertahanan. Itu sudah ia buktikan pada musim keduanya membesut Houston Rockets.

Dari 82 gim yang dijalani, Rockets meraih 65 kemenangan dan hanya kalah 17 kali. Catatan ini menjadi rekor anyar buat Rockets sepanjang keikutsertaan mereka di NBA dan membuat Rockets kini jadi salah satu tim terfavorit meraih cincin juara.

Dream Team NBA musim 2017/2018. (Foto: Chandra Dyah Ayuningtyas/kumparan)
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Sabtu,25/05/2019
Imsak04:26
Subuh04:36
Magrib17:47
Isya19:00
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23