Pencarian populer

Dua Dasawarsa Sejak Auman Terakhir Singa-singa Atlas

Timnas Maroko di Piala Dunia 1998. (Foto: AFP/Patrick Kovarik)

Kjetil Rekdal adalah sosok yang unik, kalau tidak mau dibilang aneh. Di antara rekan-rekan setimnya di Tim Nasional Norwegia dulu, dia adalah yang terlihat paling menonjol. Bukan karena posturnya tinggi besar seperti Flo bersaudara--Tore Andre, Havard, dan Jostein--tetapi karena dia memilih warna sepatu yang belum umum ketika itu: kuning.

Tidak cuma itu. Rekdal juga punya keanehan lain. Menurut sahibul hikayat, dia tidak pernah mengganti atau mencuci pelindung tulang keringnya. Katanya, itu adalah azimatnya. Kata sosok yang kini hampir berkepala lima itu, jika dia mengganti atau mencucinya, maka keberuntungannya bakal lenyap.

Rekdal tentu saja bukanlah Zinedine Zidane atau Andres Iniesta. Dia tidak punya medali juara dunia atau juara Eropa. Namun, tentu ada alasan mengapa mereka dulu pernah menduduki peringkat FIFA nomor dua. Di masa itu, mereka memang memiliki tim nasional yang solid dan puncaknya adalah pada 23 Juni 1998, ketika anak-anak asuh Egil Olsen menjungkalkan juara bertahan Brasil di Stade Velodrome pada gelaran Piala Dunia 1998.

Rekdal adalah penentu kemenangan Norwegia ketika itu. Awalnya, mereka tertinggal lebih dulu lewat gol Bebeto. Namun, tak lama kemudian, Tore Andre Flo berhasil memperdayai Junior Baiano sebelum melepas tembakan keras ke arah gawang Claudio Taffarel.

Lima menit setelah golnya itu, atau dua menit jelang waktu normal berakhir, Flo kembali membuat Baiano jadi bulan-bulanan. Menyusul umpan silang Erik Mykland, Flo kemudian berduel dengan Baiano. Entah bagaimana, penyerang Chelsea yang unggul dari segi postur itu justru terjerembab. Wasit pun kemudian menunjuk titik putih dan Rekdal, sebagai eksekutor utama tim, pun langsung melangkah menuju kotak penalti Brasil.

Rekdal tahu bahwa harapan orang-orang Norwegia ada di pundaknya. Selain itu, dia pun tahu bahwa kiper yang dihadapinya, Taffarel, bukan kiper sembarangan. Namun, Rekdal juga tahu bahwa itu adalah hari di mana pelindung lututnya yang lusuh dan bau itu bakal memberinya keberuntungan. Tanpa banyak cingcong, Rekdal mengambil ancang-ancang sedikit dan dua detik kemudian, dia larut dalam selebrasi.

***

Apa yang dicapai Norwegia itu memang luar biasa dan sah rasanya jika dimasukkan ke dalam salah satu kejutan terbesar di Piala Dunia. Namun, tak semua orang mau ikut merayakan atau mengglorifikasi perayaan mereka, khususnya orang-orang Maroko.

Tim Nasional Maroko di Piala Dunia 1998 itu sama sekali tidak kelas dari Norwegia. Hal itu telah mereka buktikan di pertandingan pertama di mana kedua tim bermain imbang 2-2.

Pada laga itu, "Singa-Singa Atlas" memimpin lebih dulu lewat gol yang nantinya bakal dikenang sebagai salah satu gol terbaik dalam sejarah Piala Dunia. Si pencetak gol itu bernama Mustapha Hadji dan oleh orang-orang Maroko, pemain satu ini memang diharapkan bisa mencetak gol semacam itu.

Menerima umpan panjang dari lini tengah, Hadji berlari kencang menyusuri area pertahanan Norwegia yang kosong. Setelah itu, bola dikontrolnya dengan sempurna, dia masuk ke kotak penalti, menggocek salah seorang pemain bertahan Norwegia sebelum melepas tembakan keras ke sudut kiri bawah gawang Frode Grodas.

Hadji berhadapan dengan Stig Inge Bjornebeye. (Foto: AFP/Boris Horvat)

Setelah gol Hadji itu, Norwegia menyamakan kedudukan lewat gol bunuh diri Youssef Chippo pada injury time babak pertama. Lalu, setelah Maroko unggul lewat Abdeljalil Hadda pada menit ke-60, Dan Eggen sukses menyelamatkan satu poin untuk Norwegia. Bagi Maroko, hasil imbang itu adalah hasil yang cukup untuk menatap laga kedua dan ketiga.

Pada laga kedua, Maroko secara tidak mengejutkan kalah dari Brasil. Dengan menurunkan sebelas awal yang identik dengan saat mereka mengimbangi Norwegia, Brasil ternyata terlampau tangguh bagi Hadji dan kawan-kawan. Ronaldo, Rivaldo, dan Bebeto membuat Driss Benzekri harus memungut bola tiga kali dari gawangnya, sementara Taffarel tidak harus bekerja terlalu keras karena mejannya lini depan Maroko.

Kemenangan atas Maroko itu membuat Brasil memastikan diri lolos ke perdelapan final. Sebelumnya, mereka sudah lebih dulu menggamit tiga poin atas Skotlandia berkat gol bunuh diri Tommy Boyd. Dengan demikian, satu tempat lain sebagai pendamping Brasil pun bakal diperebutkan oleh Maroko dan Norwegia yang di laga kedua hanya bermain imbang melawan Skotlandia.

Hingga kemudian, datanglah pertandingan ketiga itu.

Maroko sebenarnya sudah melakukan semuanya dengan benar. Skotlandia yang diperkuat banyak nama kawakan mereka buat bertekuk lutut. Jim Leighton yang kala itu hampir berusia 40 tahun dipaksa memungut bola tiga kali dari gawangnya, masing-masing oleh Salaheddine Bassir (dua kali) dan Abdeljalil Hadda.

Para pemain Maroko di laga vs Skotlandia. (Foto: AFP/Eric Feferberg)

Pada pertandingan melawan The Tartan Army itu, Maroko mencetak gol ketiganya pada menit ke-85 lewat aksi Bassir. Mereka pun punya sejuta alasan untuk merasa optimistis. Masalahnya, waktu sudah semakin sempit untuk Norwegia.

Namun, tiga menit usai gol Bassir itu, di kota yang jaraknya 336 km ke arah selatan, Esfandiar Bahamarst memberi hadiah penalti untuk Norwegia. Rekdal dengan segala takhayul yang dibawanya itu mampu menyerap keberuntungan dari genggaman Maroko dan mengklaimnya sendiri.

***

"Setelah Islam, sepak bola adalah agama kedua kami," ujar Mustapha Hadji kepada The Guardian baru-baru ini dan pernyataannya itu sama sekali tidak berlebihan. Maroko memang merupakan negara sepak bola dan prestasi mereka di kancah internasional pun cukup mengesankan.

Pada 1970, mereka menjadi negara Afrika pertama yang berlaga di Piala Dunia. Kemudian, pada 1986, mereka juga mampu lolos ke perdelapan final Piala Dunia. Tak cuma itu, "Singa-Singa Atlas" juga punya satu trofi Piala Afrika di kabinet mereka.

Pada 1998, apa yang mereka tampilkan pun sebetulnya tidaklah mengejutkan. Mereka kala itu punya pemain-pemain berkaliber Eropa. Mustapha Hadji, tentu saja, adalah salah satunya. Ketika berlaga di Piala Dunia 1998 itu, Hadji berstatus sebagai pemain Deportivo La Coruna. Selain Hadji, satu penggawa Depor lainnya di skuat Maroko adalah kapten Nourredine Naybet serta sang penyerang andalan Salaheddine Bassir.

Henri Michel tahun 1998. (Foto: AFP/Omar Torres)

Tak cuma mereka, Maroko pun kala itu memiliki Youssef Chippo (Porto), Abdelilah Saber (Sporting CP), Abdelkrim El Hadrioui & Tahar El Khalej (Benfica), Youssef Rossi (Rennes), Rachid Neqrouz (Bari), Ali El Khattabi (Heerenveen) serta beberapa nama lain yang juga bermain di Benua Biru. Generasi emas itu dilatih oleh Henri Michel, mantan bintang Timnas Prancis, yang sebelumnya pernah membawa Les Bleus jadi juara ketiga Piala Dunia 1986.

Oleh Michel, para pemain Maroko diberi kebebasan berkreasi. Meskipun pakem yang digunakan cukup defensif, yakni 3-5-2, mereka tetap mampu tampil agresif dengan memanfaatkan bakat-bakat natural yang dimiliki oleh pemain-pemain macam Hadji dan Chippo.

Sayangnya, kegagalan menembus perdelapan final Piala Dunia 1998 itu pun kemudian membuat persepakbolaan Maroko mati suri. Prestasi terbaik mereka setelah itu hanyalah ketika menjadi finalis Piala Afrika 2004 di mana pada partai puncak, mereka ditundukkan tim tetangga, Tunisia, dengan skor 1-2.

Sampai kemudian, datanglah Herve Renard pada 2016 silam.

Pelatih satu ini memiliki sedikit kesamaan dengan Henri Michel. Meskipun sebagai pemain Renard tidak pernah mencapai titik tertinggi laiknya Michel, pria 49 tahun itu juga punya prestasi menterang sebagai pelatih di Afrika. Malah, boleh dibilang Renard lebih sukses sebagai pelatih ketimbang pendahulunya itu.

Herve Renard di laga melawan Pantai Gading. (Foto: AFP/Issouf Sanogo)

Renard memang tampaknya benar-benar seorang pelatih spesialis Afrika. Ini terbukti dari keberhasilannya membawa dua negara berbeda, Zambia dan Pantai Gading, menjadi kampiun Benua Hitam. Setahun setelah membawa Pantai Gading menjadi juara Piala Afrika, eks-pemain Cannes ini dikontrak oleh Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko (FRMF) untuk menangani tim nasional mereka.

Renard sendiri cukup beruntung. Seperti halnya Michel, dia pun diberkati pemain-pemain berbakat yang berbasis di Eropa, seperti kapten Medhi Benatia (Juventus), Sofiane Boufal (Southampton), Hakim Ziyech (Ajax), Faysal Fajr (Getafe), Nabil Dirar (Fenerbahce), sampai si bocah ajaib, Achraf Hakimi (Real Madrid).

Renard pun tak menyia-nyiakan talenta-talenta hebat itu. Dibantu Hadji yang kini menjadi asistennya, Renard mampu mengantarkan kembali ke Piala Dunia. Di kualifikasi babak ketiga, tergabung dengan negara-negara kuat seperti Pantai Gading, Gabon, dan Mali, Maroko tampil impresif. Dari enam laga, mereka menang tiga kali dan bermain imbang tiga kali. Tak ayal, mereka pun keluar sebagai juara grup dan lolos ke Piala Dunia 2018 mendatang di Rusia.

Keberhasilan Maroko lolos ke Piala Dunia ini menjadi pelengkap yang sempurna bagi keberhasilan persepakbolaan mereka secara umum pada tahun ini. Sebelumnya, wakil mereka, Wydad Casablanca, juga berhasil menjadi juara Liga Champions Afrika. Tak cuma itu, mereka pun kembali berani mengajukan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia untuk edisi 2026.

Pada akhirnya, seperti yang dikatakan Hadji, Maroko memang negara sepak bola, dan ini adalah bukti yang nyata dari mereka. Meskipun mereka harus menanti sampai hampir dua dasawarsa, segala upaya mereka itu akhirnya berbuah hasil. Pertanyaannya sekarang, apakah Herve Renard bakal mampu memindahkan kesuksesannya itu dari level benua ke level dunia? Mari kita nantikan.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.35