Pencarian populer

Dua Kali Senar Raket Putus, Jonatan Hilang Fokus

Anders Antonsen kalahkan Jonatan Christie di semifinal Indonesia Masters 2019. (Foto: Dok. PBSI)

Kekalahan tunggal putra Indonesia satu-satunya di semifinal, Jonatan Christie, ikut melepas satu-satunya tiket ke final yang bisa diperjuangkan. Di babak semifinal, Jonatan kalah straight game dari wakil Denmark, Anders Antonsen dengan skor 18-21 dan 16-21.

Selama pertandingan 43 menit di Court 1 Istora Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, Jonatan atau yang akrab disapa Jojo ini sejatinya lebih dulu unggul 8-4 di menit awal.

Di interval, Jojo masih menjaga keunggulan meski tipis 11-10. Sayangnya, sejak skor tertahan 16-16, Jojo mati langkah. Antonsen berbalik unggul 18-16 dan menutup gim dengan skor 21-18.

Pada gim kedua, Jojo hanya mampu mengimbangi rival peringkat 20 dunia itu di skor 5-5 karena berikutnya tak pernah lagi tercipta skor kembar di papan skor. Jojo tertinggal 7-11 di interval dan mengakhiri di skor 16-21.

Atlet bulutangkis tunggal putra Indonesia, Jonatan Christie saat di temui kumparan di PBSI, Jakarta, Jumat (31/8/2018). (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Usai pertandingan, Jojo mengaku sedikit terkendala usai senar raketnya putus. Di gim kedua, pemain asal Ibu Kota ini tidak bisa mengembalikan fokusnya.

"Setelah senar putus dua kali, jujur ada sedikit keraguan mau smes atau tidak. Di gim kedua saya coba bangkit, tapi memang tertekan," kata Jojo.

"Ini evaluasi, kalau sudah memimpin (skor) jangan mengendurkan semangat. Terapkan strategi sebaik mungkin. Kalau terjadi, harus fokus lagi jangan memikirkan menang atau kalah," imbuh juara nomor perorangan Asian Games 2018 ini.

Sementara, Antonsen sendiri muncul sebagai kuda hitam. Pemain kelahiran 27 Juni 1997 ini mengalahkan unggulan kelima turnamen, Son Wan Ho (Korea Selatan), di babak pertama. Padahal, Antonsen datang ke Jakarta tanpa pelatih menyusul perseteruan antara Federasi Bulu Tangkis Denmar dengan para pemainnya

Terlepas dari kendala yang ada, Antonsen nyatanya tetap percaya pada kemampuannya sendiri dan sukses menembus final.

Tunggal putra, Jonatan Christie, di Denmark Terbuka 2018. (Foto: Dok. PBSI)

"Saya berusaha belajar dari semua pemain, melihat teknik bermain mereka. Ketika kecil, saya melihat Lin Dan, Lee Chong Wei, hingga Taufik Hidayat. Saya sering tonton (pertandingan) mereka dan jadikan contoh," ucap Antonsen.

"Tanpa pelatih dan fisioterapis, saya pun tak tahu kenapa bisa ke final. Ada peran banyak orang yang membuat saya bisa ke final, bukan karena saya sendiri," katanya.

"Ini final pertama saya (di BWF World Tour), jadi senang sekali. Saya berusaha maksimal, berikan kemampuan 100%. Pemain favorit, saya sendiri 10 tahun ke depan," ujar Antonsen penuh percaya diri.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.41