kumparan
21 Mar 2019 21:47 WIB

Final IBL 2019: Stapac Menangi Gim Pertama di Kandang Satria Muda

Pebasket Stapac Jakarta Rizky Effendi meluapkan kegembiraan seusai mencetak tiga angka saat melawan Satria Muda Pertamina pada pertandingan pertama Final IBL Pertamax 2018-2019 di Britama Arena, Jakarta, Kamis (21/3). Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Satria Muda (SM) telah mengerahkan segala upaya, tetapi pada akhirnya harus mengakui keunggulan Stapac Jakarta. Pada laga final pertama IBL 2018/2019 di kandang SM, BritAma Arena, Kamis (21/3/2019) malam WIB, sang tuan rumah takluk 68-79.
ADVERTISEMENT

Demi menjaga asa juara, SM wajib menang pada final kedua di GOR C-Tra Arena, Bandung, Sabtu (23/3). Sama seperti edisi sebelumnya, final IBL kali ini juga mengusung sistem best of three.

***

SM memang berhasil memenangi tepis mula. Walau begitu, butuh dua kali percobaan bagi SM untuk membukukan dua poin pertamanya di laga ini. Prosesnya bermula dari upaya tiga poin gagal dari Kendal Yancy, dan berakhir dengan skema serangan cepat yang berakhir dengan alley-oop dari Dior Lowhorn.

Setelahnya Stapac melawan, tetapi SM unggul 10-4 ketika kuarter pertama tersisa 6 menit 30 detik. Situasi inilah yang membuat pelatih Stapac, Giedrius Zibenas, meminta time-out.
Dari sini momentum berpihak pada Stapac. Di pinggir lapangan, Ghibbi -- panggilan Zibenas -- memberikan arahan dengan berapi-api. Jalannya laga kemudian berubah drastis.
ADVERTISEMENT

Stapac tampil lebih terorganisir ketika menyerang, dan mereka kian di atas angin karena sejumlah peluang SM terbuang percuma. Misalnya, free throw gagal dari Lowhorn saat laga tersisa 4 menit. Pada tiga menit dan 12 detik terakhir kuarter pertama, Stapac menyamakan kedudukan 14-14.

Situasi seperti inilah yang membuat pelatih SM, Youbel Sondakh, memutuskan gantian meminta time-out. Namun, alih-alih membaik, SM tetap mandek. Mereka sulit keluar dari tekanan yang diberikan sang tamu.
Mental mereka kian jatuh akibat blunder Lowhorn yang berakhir dengan slam dunk dari Savon Goodman di 60 detik akhir. Kuarter pertama kemudian ditutup dengan keunggulan 21-18 untuk Stapac.
Buat SM, sebuah momen di ujung kuarter pertama itu menjadi highlight penting dari permainan mereka. Sebuah operan yang buruk dari Arki Dikania Wisnu berujung menjadi turnover. Stapac pun langsung membalas dan membukukan tripoin lewat Rizky Effendi.
ADVERTISEMENT
Pebasket Stapac Jakarta Savon Rafriyq Goodman (tengah) berusaha melewati pebasket Satria Muda Pertamina pada pertandingan pertama Final IBL Pertamax 2018-2019 di Britama Arena, Jakarta, Kamis (21/3). Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Pada kuarter kedua dan setelahnya, kesalahan-kesalahan individual semacam itu masih kerap terjadi. Arki dkk. berulang kali membiarkan turnover yang menguntungkang Stapac. Di sisi lain, Stapac menambah variasi serangan dengan tiga poin -- yang memang menjadi kekuatan mereka musim ini. Alhasil, kuarter kedua berakhir 29-36 untuk SM.

Pada kuarter ketiga, Stapac semakin menggila. Pada satu titik, mereka sempat unggul 43-33. Lalu, dua kali lemparan bebas, masing-masing dari Goodman dan Kendal Yancy, membuat mereka meraih 45. Lantas, sebuah lay-up dari Widyanta Putra Teja membuat Stapac menjauh 47-37.
Widyanta tampil gemilang di ujung kuarter ketiga itu. Selain mencetak dua poin tambahan lagi, ia juga memberikan assist kepada Mei Joni, membuat Stapac unggul 54-41 pada akhir kuarter ketiga.
ADVERTISEMENT
Nasib SM tak kunjung membaik di quarter terakhir, apalagi Arki tak boleh bermain akibat telah melakukan lima pelanggaran di laga ini. Yancy, Goodman, dan Joni menjadi motor serangan Stapac pada kuarter terakhir ini. Akhir cerita, Stapac menang 79-68.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan