kumparan
23 Jul 2019 18:32 WIB

Ganda Campuran Indonesia Masih Kesulitan Temukan Penerus Liliyana

Pebulu tangkis Liliyana Natsir tiba saat pesta perpisahannya di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (27/1/2019). Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Susy Susanti mengakui Indonesia masih kesulitan menemukan penerus Liliyana Natsir di sektor ganda campuran. Yang jadi acuannya adalah hasil yang didapat pada gelaran Indonesia Open 2019.
ADVERTISEMENT
Padahal, sektor ganda campuran diharapkan bisa memberi kejutan karena pada edisi tahun lalu memberi satu gelar yang didapatkan oleh Tontowi Ahmad/Liliyana. Meski Tontowi masih turun arena dengan pasangan anyarnya, Winny Oktavina Kandow, hasil yang diperoleh belum memuaskan.
Tontowi/Winny terhenti di babak kedua, sementara Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti langsung tersingkir di babak pertama. Pun Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja yang gugur di babak kedua.
Hafiz Faizal (kanan) dan Gloria Emanuelle Widjaja saat pertandingan Blibli Indonesia Open 2019 di Istora Senayan, Kamis (18/7/2019). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
“Ya, memang dengan mundurnya Butet, betul-betul jadi dampak yang tak bagus untuk kita. Pemain pelapis belum siap gantikan Butet. Ada Hafiz/Gloria, Praveen/Melati, Tontowi/Winny, tapi masih belum bisa untuk menggantikan seorang Butet,” ucap Susy selaku Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI.
“Di mana-mana, fokus, pengalaman, kematangan itu memang butuh proses. Kami berharap Praveen/Melati mengejutkan, tapi mereka nyatanya tak stabil. Bisa mengejutkan juga bisa berbalik membuat terkejut. Kejutannya malah kalah, jadi kami terkejut."
ADVERTISEMENT
"Beberapa pertandingan sudah stabil, saya pikir sudah lebih oke, bisa masuk semifinal. Tapi, justru Tontowi/Winny yang bisa sampai delapan besar, komunikasi lebih berjalan. Jadi, ya, pasti ini jadi evaluasi untuk ganda campuran, di mana mereka sebetulnya tak buruk-buruk amat,” ujarnya.
Pebulutangkis ganda campuran Indonesia Tontowi Ahmad dan Winny Oktavina Kandow saat pertandingan Blibli Indonesia Open 2019 di Istora Senayan, Jumat (19/7). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Mundurnya Butet memang menimbulkan lubang besar di sektor ganda campuran. Susy menilai, setelah Butet, belum ada pemain putri yang bisa memberikan keseimbangan bagus di ganda campuran.
Nah, terkadang ganda campuran ini perempuan jadi titik lemah. Begitu bisa dikalahkan, sudah tidak bisa ngapa-ngapain, kena tekanan. Ini harus jadi pembenahan bagaimana kita meningkatkan bahwa di sisi perempuannya juga harus lebih agresif, lincah. Jangan jadi titik lemah.”
“Ganda campuran sekarang sudah tak bisa 70% cowok, 30% cewek. Peran cewek hanya di depan saja sudah tak bisa, di belakang pun harus kuat. Serangan balik dan pertahanan pun harus kuat. Gaya main sekarang, ceweknya harus sudah setara,” jelasnya.
ADVERTISEMENT
Sebagai evaluasi ke depan, Susy berharap agar para senior, seperti Tontowi dan Praveen, bisa membimbing pasangannya yang lebih muda untuk berkembang.
Susy Susanti, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI sekaligus Manajer Tim Indonesia di Piala Sudirman 2019, menyaksikan laga semifinal antara Indonesia dan Jepang. Foto: Dok. PBSI
“Ini memang proses, terkadang saya sudah yakin mereka mulai naik. Tapi, saat di lapangan berbeda, begitu dapat tekanan dikit ada faktor-faktor lain. Pasangan muda mungkin mesti didampingi oleh Tontowi dan Praveen. Ini peran yang tak mudah, kalau Butet cerdas bisa berikan bola enak, cerdik memberi pancingan.”
“Sekarang belum sampai kematangan seperti Butet, baik Gloria maupun Melati. Untuk Winny juga harus dibimbing oleh Tontowi. Winny termasuk anak yang berani. Meskipun tegang, dia tak sampai kalah dengan ketegangannya. Kemampuannya tetap keluar meski belum sematang pemain yang di atasnya. Progres Winny saya rasa bisa lebih maju,” tutup Susy.
ADVERTISEMENT