kumparan
16 Okt 2018 17:22 WIB

Gregoria Tunjung: Saya Tidak Mau Lagi Kalah Start

Penampilan Gregoria Mariska Tunjung di babak pertama Denmark Terbuka 2018, Selasa (16/10/2018). (Foto: Dok. PBSI)
Gregoria Mariska Tunjung mencuri perhatian kala meraih titel juara dunia junior di GOR Amongrogo, Yogyakarta, Minggu 22 Oktober 2017. Kini, hampir satu tahun berselang, Gregoria dengan titelnya itu 'dipaksa' naik level, mewakili Indonesia sebagai pemain utama di turnamen-turnamen bergengsi.
ADVERTISEMENT
Kali ini, atlet asal Wonogiri itu ikut di Denmark Terbuka 2018. Di Odense Sports Park, Selasa (16/10/2018), Gregoria yang tengah membuka jalannya sebagai tunggal putri top dunia membuktikan bahwa ia cepat belajar.
Melakoni babak pertama di turnamen BWF Super 750 itu, Gregoria melawan wakil China, Chen Xiaoxin. Hasilnya, Gregoria menang straight game dengan skor 21-9 dan 24-22.
Kunci kemenangannya, seperti yang dituturkan sang pemain usai pertandingan, adalah mencuri start dengan baik. Pun evaluasi itu dirangkumnya dari pertemuan terakhir kedua tunggal di China Terbuka, September lalu.
Di China, Gregoria menang, tetapi lebih dulu menelan skor tertinggal 12-21 sebelum berjuang hingga memenangi pertandingan dengan keunggulan 21-19 dan 23-21 di gim kedua dan ketiga.
ADVERTISEMENT
Inilah Gregoria, dari pengalaman tertinggal 12-21 di gim pertama, hingga unggul 21-9 di gim pertama pertemuan selanjutnya. "Bedanya dengan pertemuan pertama kami di China, sekarang saya lebih siap dan tidak mau lagi kalah start," kata Gregoria.
"Chen memang adaptasinya agak lambat di game pertama, jadi saya lebih enak mengaturnya. Saya merasa lebih lepas untuk coba-coba pukulan. Chen di bawah tekanan, banyak melakukan kesalahan sendiri dan tidak percaya diri," imbuhnya usai pertandingan seperti dilansir situsweb resmi PBSI, Selasa (16/10).
Penampilan Gregoria Mariska Tunjung di babak pertama Denmark Terbuka 2018, Selasa (16/10/2018). (Foto: Dok. PBSI)
Selain berbenah diri di gim pertama, Gregoria juga berujar lebih bisa beradaptasi ketimbang rival peringkat 28 dunia itu. Lebih menguasai kondisi lapangan, Gregoria bisa menutup kans Chen untuk mengembangkan permainan.
ADVERTISEMENT
Meski begitu, Chen berontak di gim kedua dan mengejar skor Gregoria yang unggul jauh 17-11. Puncaknya adalah kala skor berubah imbang 19-19. Kejar-kejaran berlanjut dari skor 20-20, 21-21, hingga 22-22.
Pada akhirnya, Gregoria masih bisa mengamankan keunggulan dan menutup laga selama 37 menit dengan skor 24-22 di gim kedua.
"Di game kedua dia lebih tau main bagaimana, tapi saya masih bisa mengatasi. Saat unggul jauh dan terkejar, memang dia mengubah permainan. Waktu adu setting itu, sebetulnya kami sama-sama tahan saja, tidak ada yang mau langsung mematikan, tapi dia kurang sabar," ujar Gregoria.
"Chen adalah pemain yang bisa mengatur irama permainan, bola-bola atasnya pun bagus dan mengagetkan," kata Gregoria mengakhiri.
Di babak kedua yang berlangsung Kamis (18/10), Gregoria mengasah kemampuannya dengan peluang besar bertemu peraih emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016, Carolina Marin (Spanyol), atau menantang tuan rumah, Mia Blichfeldt, yang tentunya berbekal amunisi tambahan dukungan suporter sendiri.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·