Pencarian populer

Ingatan tentang Serena Williams di Wimbledon Pertama Katie Boulter

Katie Boulter di Wimbledon pertamanya. (Foto: REUTERS/Andrew Couldridge)

Lapangan Wimbledon adalah arena keajaiban. Ia menjadi lahan yang tak hanya menumbuhkan nama besar dan kejayaan, tapi juga kenyataan yang berawal dari ketidakmungkinan.

Dinilai sebagai turnamen tenis paling elite, Wimbledon tak hanya menjadi buruan bagi para petenis top, tapi juga yang muda-muda, yang masih diperhadapkan dengan jalan panjang untuk menghidupi apa yang disebut-sebut sebagai kesuksesan.

Salah satu petenis muda yang bertaruh nasib di atas lapangan rumput Wimbledon adalah Katie Boulter. Namanya asing, sekalipun di rumahnya sendiri, Inggris. Maklum, usianya masih cukup muda untuk berlaga di gelaran Wimbledon, masih 21 tahun. Ia memulai cerita Wimbledon dengan berpindah dari satu turnamen ke turnamen lainnya. Baginya sejauh ini, Wimbledon adalah yang terhebat. Ini menjadi Wimbledon pertamanya.

"Saya selalu melihat kepada Serena Williams. Ia adalah panutan yang sempurna untuk para petenis. Permainannya tak cuma memukau, ia kuat di atas lapangan. Dan seperti itulah tenis yang sebenarnya," seperti itu Boulter ketika ditanya menyoal petenis mana yang kerap menjadi panutannya.

Mengidolakan Serena Williams menjadi perkara paling masuk akal yang bisa dilakukan oleh siapa pun yang menggeluti tenis. Serena tidak cuma menyoal puncak gunung prestasi, tapi juga kegigihan untuk terus bertarung di atas lapangan.

Tenis milik Serena lahir dari ketidakmungkinan. Bersama kakaknya, Venus Williams, ia dididik sebagai petenis oleh ayahnya sendiri, yang notabene bukan seorang petenis. Ayahnya itu rajin menonton video pertandingan tenis sebagai bahan mengajar kedua putrinya. Di atas lapangan umum yang permukaannya retak-retak di Compton, Serena merawat tekad dengan mengayun raket, dengan memantulkan bola.

Tenis, terutama di era 1990-an, bukan olahraga yang karib dengan Amerika Serikat. Kebanyakan orang memilih american football, basket, ataupun hoki jika memang ingin menempuh jalan hidup sebagai atlet. Itulah sebabnya, fasilitas-fasilitas tenis hanya disediakan di sekolah-sekolah elite.

Terlebih, kala itu, tenis belum menjadi olahraga yang memberikan tempat luas bagi orang kulit hitam sepertinya. Sebelum Serena dan Venus merebut gelar Grand Slam, hanya ada tiga petenis kulit hitam yang meraih gelar paling prestisius di ranah tenis itu. Ketiganya adalah Arthur Ashe, Yannick Noah, dan Althea Gibson.

Namun, Serena benar-benar menjadi ratu di dunia tenis. Untuk nomor tunggal putri, ia berhasil merebut 23 gelar Grand Slam. Kalau ditambah dengan raihannya di nomor ganda, akan menjadi 39 gelar Grand Slam (ditambah 14 nomor ganda putri dan 2 nomor ganda campuran).

Kemenangan, pada kenyatannya, tidak menjadi satu-satunya hal yang paling mengagumkan tentang Serena. Tidak peduli sehebat apa pun prestasinya, Serena tidak pernah mendapat tempat yang layak di dunia tenis. Untuk membuktikan hal ini, kita hanya perlu menghabiskan dua-tiga menit berselancar di dunia maya untuk mengumpulkan hinaan apa yang pernah diterimanya.

Kebanyakan, hinaan itu akan menyoroti soal penampilan fisiknya. Di antara petenis wanita yang lain, barangkali Serena menjadi yang paling berbeda. Bagi kebanyakan pelatih, ia terlalu berotot. Bagi kebanyakan pengamat, ia terlalu ekspresif di atas lapangan. Namun, Serena tak pernah meminta tempat, karena hidupnya adalah tentang memburu kemenangan.

Tidak ambil pusing sehebat apa pun hinaan yang ia terima, bahkan sesaat setelah ia melahirkan putri pertamanya, Serena tetap menjadi berbeda. Di atas lapangan tenis, ia tetap beringas. Mulutnya tak akan berhenti berteriak kencang begitu memenangi poin krusial, sumpah serapahnya akan menyembur bila ia gagal mengembalikan serangan lawan.

Orang-orang boleh mengkritisi penampilannya, mengolok-oloknya sebagai sosok yang gagal menjadi perempuan. Namun, di atas lapangan Roland Garros, Serena menjelma menjadi pahlawan super. Ia mengayun raket dalam balutan kostum yang diberinya nama Wakanda Suit. Pada kenyataannya, kostum ini bukan sekadar buat gaya-gayaan. Ia dirancang khusus oleh timnya untuk menunjang sisi medis yang dibutuhkan oleh Serena pasca-melahirkan.

Bila kita mengikuti situs resmi Serena, maka pada Februari 2018 lalu kita akan menerima surat terbuka darinya, yang juga muncul di sejumlah media. Surat itu menceritakan seperti apa pertarungannya bertarung melawan maut pasca-melahirkan. Serena melakoni operasi cesar saat melahirkan anaknya, Alexis Olympia Ohanian Jr.

Sepintas, tidak ada yang salah dengan operasi itu. Serena juga mengakui bahwa segalanya terasa baik-baik saja. Namun, 24 jam ke depan menjadi pertarungan sengit bagi Serena. Pembuluh arteri di paru-parunya terhambat akibat gumpalan darah beku.

Menurutnya, ia kesulitan bernapas (ia menggambarkannya dengan ungkapan 'napas saya pendek-pendek'). Akibatnya, luka operasi cesar itu kembali terbuka karena ia terlampau sering batuk. Kembali harus naik meja operasi, dokter menemukan haematoma (kumpulan darah tidak normal di luar pembuluh darah -red) besar di perutnya.

Karena mengalami masalah dengan pembekuan darah, maka Serena membutuhkan kostum khusus saat bertanding. Lalu, dibuatlah Wakanda Suit untuk Serena. Menurutnya dan tim, kostum itu juga berfungsi untuk menjaga sirkulasi darahnya selama ia bertanding.

Serena Williams di babak ketiga Roland Garros. (Foto: REUTERS/Gonzalo Fuentes)

Dan seperti itulah Serena, berulang kali di sepanjang hidupnya dengan mengubah ketidakmungkinan menjadi kenyataan. Saat orang-orang berkata tidak mungkin baginya untuk meraih gelar Grand Slam di usia 30 tahun ke atas, ia turun arena dan memenangi 10 gelar Grand Slam untuk nomor tunggal putri.

Ketika orang-orang mengolok penampilannya, ia mengangkat benang dan gunting lantas meluncurkan label fesyen Serena. Sewaktu orang-orang meragukannya tampil memperebutkan Grand Slam setelah melahirkan, ia bertanding di Roland Garros dan Wimbledon.

Barangkali, di sepanjang hidupnya Serena punya aturan sendiri: merebut kemenangan. Dan kemenangan itu ternyata tidak cuma diupayakannya di lapangan tenis.

***

Kepatuhan Serena pada aturan yang dibuatnya sendiri itulah yang seharusnya mengakar hebat dalam diri siapa pun yang mengidolakannya, termasuk Boulter. Di Wimbledon pertamanya ini, Boulter tampil sebagai sosok yang mulai memancing decak kagum.

Melawan Verónica Cepede Royg yang secara hitung-hitungan umur jauh lebih senior darinya (26 tahun -red), Boulter menutup laga Grand Slam pertamanya dengan kemenangan tiga set 6-4, 5-7, 6-4. Kebanyakan orang akan melihat, kegagalannya mengamankan match point di set kedua akan menghancurkannya. Namun, Boulter tak berhenti. Laga itu tetap dilanjutkannya dengan telaten. Skor yang tak berbeda jauh dengan lawannya menjadi bukti kalau keduanya tak hanya turun lapangan, tapi benar-benar berebut kemenangan.

"Ini adalah hal yang selalu saya impikan selama hidup. Saya sangat gembira karena pada akhirnya dapat mewujudkan apa-apa yang menjadi tujuan saya, sembari saya mengejar yang lebih tinggi lagi," tutur Boulter.

Pertandingan melawan Royg itu sulit. Bayangkan, Anda sudah ada dalam situasi match point, tapi ternyata gagal memenanginya. Lantas, harus kembali mencari cara untuk memenanginya. Hal semacam itulah yang mendewasakan saya."

"Saya merasa saya menjadi pesaing yang baik bagi lawan saya di atas lapangan. Saya melewati hari yang sulit, tapi saya tetap bisa melakoninya dengan berani. Dan saya merasa senang karenanya," papar Boulter, mengutip The Guardian.

Boulter ditantang Naomi Osaka di babak kedua. (Foto: REUTERS/Andrew Couldridge)

Kata-katanya terkesan naif, khas anak muda yang bersiap menyongsong masa depan. Omongan khas anak muda yang sedang ada dalam momen-momen awalnya untuk berbicara. Boulter berbicara lewat keberhasilannya menjadi juara di turnamen ITF Women's Circuit. Lewat keberhasilannya menjejak di Wimbledon untuk pertama kalinya.

Namun, di atas lapangan tenis, menjadi naif bukan hal buruk, apalagi dosa. Toh, pertarungan satu lawan satu menuntut keberanian ekstra. Dan terkadang, keberanian ekstra tak ada bedanya dengan menjadi naif.

Atau mungkin, Boulter memang tak sedang menjadi naif. Ia hanya membuka pintu ke tempat yang baru, menebas semak-belukar untuk membangun jalan setapak, dan menyusun kata demi kata demi menuliskan sejarah baru.

Kemenangan ini membawa Boulter kepada rintangan yang lebih berat. Di babak kedua, petenis asal Jepang yang memasuki turnamen dengan menyandang peringkat ke-18 dunia, Naomi Osaka, akan menjadi lawannya. Pengalaman Boulter tak ada apa-apanya dibandingkan dengan Osaka. Menyoal peringkat saja, Boulter jauh di bawah Osaka. Saat ini, Boulter masih bertengger di peringkat 122 dunia.

Tak ada yang tahu pasti sejauh atau sedekat apa langkah Boulter di Wimbledon. Kemungkinan gagal dan berhasil sedang bertarung dengan dayanya masing-masing. Namun, serupa Boulter, Osaka dan Serena sekalipun pernah menghidupi pengalaman serupa. Merayap jauh dari dasar, terhenti, kembali terposok, merayap lagi, sampai pada akhirnya menapak di ketinggian.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: