Pencarian populer

Jurnal: Ketika Hati Bertempur di Atas Pedal Sepeda

Ekstremnya Balap Sepeda Lintasi Rumah Warga (Foto: Reuters/Rodrigo Garrido)

"Akhir pekan enaknya ngapain, ya?!" 

"Gimana kalau kita iseng-iseng ikut balap sepeda?"

"Balap sepeda dari Hong Kong."

***

Jangankan balap sepeda, mengayuh sepeda santai saja rasanya sudah jarang saya lakukan. Celakanya, jawaban nyinyir kepada kawan yang kerap mengajak saya bersepeda itu akhirnya benar-benar menjadi nyata.

Ya, saya akhirnya mengikuti balap sepeda sungguhan. Di mana? Ya, di Hong Kong. Saya diundang oleh Kementerian Pariwisata Hong Kong untuk meliput event sepeda akbar bertajuk 'Sun Hung Kai Properties Hong Kong Cyclothon 2018' pada 13-15 Oktober.

Tak tanggung-tanggung, saya diminta untuk mengikuti lomba nomor 30 km. Oke, jujur harus saya akui ini membuat saya tertantang plus galau. Entah mana perasaan yang lebih dominan ketika menerima undangan itu.

Ketika itu, begitu banyak pertanyaan yang menggelayut di benak saya. "Benarkah saya harus mengayuh sampai 30 km?", "Mereka mengganggap saya jurnalis atau atlet?".

Saya memang sebenarnya suka bersepeda, bahkan seminggu bisa sampai tiga kali. Tapi, itu dulu, dulu sekali. Sekitar lima tahun yang lalu ketika waktu bekerja saya masih agak luang.

Singkatnya, bermodal nekat dengan minim latihan, saya berangkat ke Hong Kong pada Sabtu (13/10). Dan, pertanyaan tersebut belum juga terjawab sampai saya beserta dua jurnalis dari Indonesia dan Malaysia di bawa ke velodrome.

Di situlah semua pertanyaan saya terjawab dengan sempurna. Ternyata, saya benar-benar disuruh bersepeda sejauh 30 km. Malam itu, di bawah cuaca cerah dengan angin cukup kencang, kami harus melakukan tes ketahanan tubuh yakni dengan mengayuh sepeda sejauh 250 meter sebanyak 20 putaran dalam waktu 15 menit. 

Badan saya terasa gemetar. Deg-degan sudah pasti. "Tega juga, nih, panitia, baru landing siang tanpa istirahat, malamnya langsung digeber dengan tes," gumam saya dalam hati.

Namun, sudah kepalang tanggung, saya pun mengikuti tes itu. Mengayuh perlahan untuk mencoba lulus tes. Panitia menjadikan tes tersebut sebagai acuan apakah saya dan peserta lainnya--yang kebanyakan pesepeda amatir--mampu mengikuti 30 km.

Tak disangka, saya bisa menyelesaikannya dengan cukup baik. Jadilah, saya akan mengikuti lomba pada keesokan harinya.

kumparan ketika mengikuti tes ketahanan tubuh di Hong Kong. (Foto: Istimewa)

Di bawah suhu 25 derajat Celcius, akhir pekan di Hong Kong tampak sempurna. Diiringi angin pantai nan sejuk, saya bersiap bersama ribuan peserta lainnya. Pada pukul 08.10 waktu setempat, lomba pun dimulai.

Sebelum lomba, hati saya kembali bertempur. Mencoba optimistis bisa menyelesaikan lomba sejauh 30 km, tetapi di sisi lain bersikap realistis bahwa 30 km itu jauh. Apalagi, bagi saya yang tak rutin bersepeda.

Akhirnya, kaki saya pun mengayuh. Mengambil start di Salinsbury Road, para peserta yang berjumlah sekitar 2.000 orang ini diarahkan untuk melewati Kowloon Park Drive. Saya mengayuh dengan perlahan untuk menghemat tenaga. Tapi, baru menempuh kilometer pertama, kami sudah disuguhi dengan trek menanjak.

“Gila, enggak dikasih napas,” gumam saya.

Trek menanjak bisa jadi paling menantang bagi kebanyakan pesepeda. Daya tahan tubuh akan sangat diuji. Sialnya, saya harus menghadapi 3-4 tanjakan lagi hanya dalam 5-8 km pertama. Karena, memang Hong Kong banyak sekali memiliki jalan layang mengingat lahan terbatas yang mereka miliki.

Tak lama, saya melihat ada peserta asal Jepang melakukan akselerasi. Oke, saya menyingkir saja daripada menghalangi jalurnya. Akan tetapi, seketika terdengar bunyi ‘braaakkk…’ di depan saya. Benar saja, pesepeda yang menyusul saya tadi terjatuh setelah jalurnya tertutup pesepeda lain.

Sekitar 2 km di depan, saya kembali melihat pesepeda terluka. Darah mengucur di dagunya, sementara dengkul kanannya terlihat lecet. Duh, ini lomba balap sepeda atau MotoGP, sih.

Saya terus mengayuh, melewati Tsing Kwai Highway dan Cheung Tsing Bridge. Harus diakui, pemandangan di sisi kanan dan kiri saya begitu indah. Laut menghampar dengan dikelilingi gedung-gedung modern menjulang. Di balik gedung tersebut, tampak bukit hijau yang semakin memanjakan mata.

Kayuhan pedal sepeda saya semakin bersemangat ketika melihat tanda 20 km. Artinya, saya sudah mengayuh sejauh 10 km. Kecepatan saya coba tambah, meski trek naik turun karena masih berada di jalan layang.

Namun, ketika semangat terlecut, tantangan lain datang. Kali ini bukan dari tanjakan, melainkan terowongan. Saya melewati Cheung Tsing Tunnel yang memiliki panjang 1,6 km.

Di situ, cobaan kembali menghampiri. Memasuki terowongan, udara semakin tipis. Alhasil, kaki saya terasa lebih berat ketika mengayuh.

Memang, selain jalan layang, Hong Kong juga mencoba mengatasi masalah geografinya yang dikeliilingi perbukitan dengan membangun sejumlah terowongan. Daripada membelah bukit, mereka membangun terowongan tepat menembus di kaki bukit.

Dengan susah payah dan sempat berhenti untuk mengambil napas, saya akhirnya keluar dari terowongan tersebut. Akan tetapi, tak lama setelah itu, masalah kembali menghampiri.

Pedal saya rusak. Tak mau memutar ketika dikayuh. Saya kemudian mencoba membetulkannya, tapi tetap tak bisa.

"Ah, mungkin ini saatnya saya berhenti. Lagian, kalau enggak finish karena masalah teknis 'kan enggak gengsi daripada menyerah karena kelelahan," gumam saya dalam hati sambil tertawa nyinyir.

Harus diakui, sepanjang lomba, pikiran dan hati saya bertempur. Hati saya berkata bahwa saya tak akan sanggup menyelesaikan lomba. Tetapi, pikiran saya terus memacu untuk mencoba kemampuan saya hingga batas terakhir.

Setelah sempat didorong, saya coba membetulkannya lagi. Entah bagaimana caranya, kali ini berhasil. Saya pun mengayuh dengan sisa tenaga yang ada.

Sialnya, sekitar 5 km dari Cheung Tsing Tunnel, saya kembali harus memasuki terowongan bernama Nam Wan Tunnel sepanjang 1,3 km. Di situ, stamina saya benar-benar terkuras. Tak jauh di belakang saya, terlihat samar-samar mobil broom wagon di depan seorang pesepeda.

Dalam balap sepeda, mobil broom wagon merupakan mobil penyapu pesepeda. Artinya, ia digunakan sebagai penanda pesepeda terakhir dalam lomba.

Sejumlah peserta yang tak berhasil menyelesaikan lomba. (Foto: Haikal Pasya/kumparan)

Perasaan saya sudah tak enak. Benar saja, begitu keluar dari terowongan, saya bersama puluhan peserta lainnya diarahkan untuk menepi. Kami diminta untuk turun dari sepeda karena dianggap tak akan bisa menyelesaikan sisa lomba dalam waktu yang tersedia.

Melihat hal itu, saya khawatir sekaligus lega. Khawatir karena tak bisa menyelesaikan lomba tetapi lega karena memang tenaga sudah benar-benar habis. Kami kemudian diangkut menggunakan bus ke dekat garis finish.

Akhirnya, saya benar-benar tak bisa menyelesaikan lomba yang tersisa sekitar 10 km lagi. Akan tetapi, di balik itu, ada pengalaman luar biasa yang saya alami. Tak semua pesepeda memiliki kesempatan untuk merasakan sensasi bersepeda di negeri orang.

Lantas, kawan saya ada yang bertanya, bagaimana setelah ini saya coba ikut lomba balap sepeda lagi?

Dan, saya jawab, "Balap sepeda dari Hong Kong."

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: