Pencarian populer

Kado HUT PB Djarum: Empat Buku Soal Sejarah Klub hingga Owi/Butet

Acara peluncuran empat buku bertema 'Perjalanan Emas Bulu Tangkis' di Wisma Djarum Ploso, Kudus, Minggu (28/4). Foto: Karina Nur Shabrina/kumparan

Pada 28 April 2019, klub bulu tangkis asal Kudus, Jawa Tengah, genap berusia 50 tahun. Sebuah seremoni pun digelar untuk merayakannya.

Sudah setengah abad berdiri, ulang tahun PB Djarum kali ini pun dirayakan secara spesial. Mereka mengundang atlet dari generasi 1970-an hingga yang masih aktif untuk hadir di GOR Jati, Kudus.

Acara puncaknya sendiri baru digelar pada Minggu (28/4) malam WIB. Namun, PB Djarum sudah mendapatkan kado berupa empat buku soal sejarah klub, prestasi, hingga bintang-bintang yang membuat nama mereka bersinar.

Keempat buku itu adalah 'Butet Legenda Sejati' karya Hamid Awaludin, mantan menteri hukum dan HAM yang kini menjabat Dewan Penasihat PBSI, 'Kiprah Ahsan-Hendra' dan 'Jejak Langkah Owi-Butet' karya jurnalis dan komentator kawakan, Daryadi, serta 'Setengah Abad PB Djarum: Dari Kudus Menuju Prestasi Dunia' karya tim penulis Historia.id.

Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation alias Ketua Umum PB Djarum, Yoppy Rosimin, mengatakan keempat buku ini adalah persembahan Djarum untuk mengisi lembar sejarah bulu tangkis Indonesia.

Sambil menilik buku 'Setengah Abad PB Djarum: Dari Kudus Menuju Prestasi Dunia', Yoppy menekankan pentingnya menciptakan ekosistem untuk memperhatikan semua yang terlibat di bulu tangkis. Djarum pun dinilai berhasil berkat sistem yang mumpuni.

"Pak Victor (Victor R. Hartono, Presiden Direktur Djarum Foundation, red) pentingkan ekosistem bulu tangkis mulai pemain usia dini hingga piramida prestasi dunia. GOR Jati juga lahir karena Indonesia kalah di Piala Thomas 2004. Lalu 2012 kita tidak dapat medali di Olimpiade, baru 2013 ada gelar juara dunia dan perjalanan emas dimulai dari situ," ucap Yoppy.

"Yang pasti PB Djarum bagian dari PBSI, tanpa PBSI, Djarum tidak ada. Kalau ada mindset bicara badminton adalah Djarum, mungkin benar. Namun, (Djarum) tidak (meng)klaim (bahwa) kami adalah segala-galanya," imbuhnya.

Sementara itu, Hamid menceritakan soal mental yang dimiliki Liliyana Natsir alias Butet dalam buku yang ia tulis. Karena sikap profesionalnya, kata Hamid, Butet lahir sebagai seorang juara.

Pebulu tangkis Liliyana Natsir melambaikan tangan ke arah suporter saat pesta perpisahannya di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (27/1/2019). Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

"Simpelnya, dia pemain yang profesional, Karena itu dia berwibawa, baik kepada lawan, wasit, atau hakim garis. Jadi tidak ada yang sewenang-wenang karena Butet prinsipnya jujur," ujar Hamid.

"Fighting spirit Butet juga luar biasa. Dia masuk lapangan untuk menang. Jadi dia tidak pernah demam panggung. Itu didikan dari orang tuanya, 'Boleh kalah tapi jangan menyerah, karena itu awal dari kekalahan'," kata Hamid menirukan adagium yang dipegang Butet.

Butet, yang hadir dalam acara peluncuran buku, mengaku bangga atas buku tentang dirinya yang ditulis oleh Hamid. Selain itu, Butet tak lupa mengapresiasi para senior-seniornya yang lebih dulu membuka jalan bagi prestasi bulu tangkis 'Merah-Putih'.

"Saya bangga dan senang atas kepedulian Pak Hamid terhadap bulu tangkis. Ini suatu momen yang luar biasa, di situ cerita tak hanya soal prestasi, tapi banyak cerita lucu di luar itu," kata Butet.

"Buku ini juga kenangan buat saya dan akan saya simpan sampai kapan pun. Dua buku (hingga peluncuran, red) belum saya baca. Pastinya ini jadi kebanggaan," tutup peraih emas Olimpiade 2016 bersama Tontowi Ahmad ini.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.57