Pencarian populer

Karena eSports Bukan Hanya untuk para Atlet

geliat eSports di Indonesia. (Foto: M. Faisal/kumparan)

Suka bermain game? Suka bermain sepak bola? Bagaimana kalau dua hal itu digabungkan? Hmm.. Luar biasa serunya bagi penggemar game sekaligus pencinta sepak bola. Dan, itu sudah bukan ide baru lagi karena semua orang telah mengenal game sepak bola.

Salah satu yang paling terkenal adalah Pro Evolution Soccer (PES). Game ‘si kulit bundar’ legendaris itu masif beberapa tahun ke belakang dan masa jayanya dibukukan pada 2013. Bermain PES, anak-anak, remaja, hingga orang dewasa pun masuk dalam euforia pertandingan.

Gerakan cepat di game tak kalah sengit bila dibandingkan dengan gerilya para pesepak bola sungguhan kala menggocek bola di lapangan hijau. Namun, hanya ada satu Ronaldo di lapangan. Begitu pula di layar game, hanya terpantul satu nama terbaik yang bisa menjadi juara.

Itulah pentingnya melihat PES maupun olahraga elektronik (eSports) secara umum sebagai suatu kegiatan berjenjang tak hanya bermain game. Hal itu pun ikut menjadi fokus Valentinus Sanusi, founder Liga1PES Indonesia. Menurutnya, eSports semakin berkembang sekaligus melahirkan sebuah industri yang kokoh.

Namanya industri, butuh orang-orang di balik layar yang mengelola, tentu selain pemain yang menjadi pelaku utamanya. Jadi, Valentinus yang juga merupakan penggagas kafe game bernama MaenBola itu mengajak para pencinta bola menghidupkan eSports dari berbagai aspek.

Game Pro Evolution Soccer 2017. (Foto: Konami)

Bagi yang berambisi menjadi gamer profesional, Valentinus berharap mereka lebih dulu mengukur sejauh mana talenta bermain eSports. Bagi yang tidak jago alias sering kalah di berbagai turnamen, ada baiknya mencoba posisi lain, termasuk membuat konten di akun media sosial.

"Kalau skill bagus bisa jadi atlet. Selain itu ada juga di bagian media, broadcasting, bahkan bisa jadi Youtuber. Itu lebih menjanjikan ketimbang menunggu hadiah dari main game," ungkap Valentinus kepada kumparanSPORT.

"Karena kalau main terus, tapi tidak berprestasi, sama saja. Malah merugikan orang lain. Buang waktu tidak jelas. Jadi, atlet juga ada batasan umur. Nanti banyak bermunculan yang lebih muda juga kalah cepat mainnya," tegas pria yang akrab disapa Koh Valent itu.

Sebagai nama besar yang bergelut di bidang PES, ia berujar eSports bakal menjanjikan jika diperkuat dengan prestasi. Di beberapa turnamen internasional, uang miliaran rupiah bisa dibawa pulang hanya dengan bermain game.

"Bisa dapat hadiah lebih dari dua miliar rupiah, tapi itu satu dari sekian. Hahaha," celotehnya.

"eSports juga belum ada uang pensiun seperti cabor asli. Masukan saya, sih, ukur diri saja. Semua paham, siapa, sih, yang tidak suka main game? Tapi, mawas diri. Kalau sudah main bertahun-tahun, tapi ikut turnamen kalah terus dan kemampuan segitu-gitu saja, mulai pikir profesi lain selain jadi atlet, kalau memang masih cinta di eSports," ujar Koh Valent mengimbuhkan.

Suasana acara IVPL . (Foto: Retno Wulandhari/ Kumparan)

Liga1PES yang merupakan jelmaan dari komunitas di kafe MaenBola sendiri memiliki sekitar 10 orang di tim utama arahan Valentinus. Selain itu, terdapat 15 orang admin yang bertugas di 15 regional. Sebagai kompetisi tertinggi di Indonesia, Liga1PES menjadi salah satu magnet di dunia eSports Tanah Air.

Kini, eSports pun semakin menancapkan taji di multievent olahraga. Termasuk PES, enam game lain, yakni Arena of Valor (AoV), League of Legends (LoL), Clash Royale, Hearthstone, dan StarCraft akan masuk sebagai cabor ekshibisi di Asian Games 2018.

Turnamen hiburan ini diusung demi persiapan masuknya eSports sebagai cabor resmi (mendapat medali) di Asian Games 2022. Semakin menjanjikan bukan? PES pun siap kembali mencuri hati para pegiat eSports di pertandingan PES Asian Games 2018 yang dijadwalkan berlangsung 1 September 2018.

"Di laga ekshibisi, (PES Indonesia) jadi runner-up saja sudah bagus karena lawan terberat pastinya ada Jepang. Kami akan bikin program lebih serius untuk Asian Games 2022. Ini jadi wadah yang bukan sekadar main-main lagi," kata Koh Valent.

Borussia Dortmund di 'Pro Evolution Soccer'. (Foto: Konami)

Koh Valent sendiri begitu giat menghidupkan PES di Tanah Air. Lewat Liga1PES, komunitas PES terbesar yang diakui resmi oleh federasi internasional ini mencoba menjaring para pemain andal dari seluruh Indonesia.

Dan, pertanyaan lain adalah mengapa menjatuhkan hati kepada PES, bukan FIFA?

"Saya dari kecil mainnya Winning Eleven, sempat FIFA juga. Tapi, Winning kayanya lebih banyak membutuhkan strategi, juga lebih bisa dimodifikasi," jawab Koh Valent.

"Kalau FIFA, karena eSports ini sistem pertandingannya sedikit berbeda, jadi saya pribadi lebih nyaman PES. Dari segi game play juga, saya lebih suka PES. Saya, sih, sudah main PES sejak dulu, tapi tidak terlalu jago. Hahaha," pungkasnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Kamis,23/05/2019
Imsak04:26
Subuh04:36
Magrib17:47
Isya19:00
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.22