kumparan
1 Okt 2018 19:40 WIB

Kejuaraan Beregu Penting untuk Asah Mental Atlet

Susy Susanti membawa api Asian Games di Gunung Bromo. (Foto: AFP/Juni Kriswanto)
Susy Susanti dan Imelda Wiguna, satu suara. Dua srikandi yang pernah berprestasi di level dunia bulu tangkis itu berpendapat menyoal kunci utama melahirkan atlet berprestasi.
ADVERTISEMENT
Dalam acara jumpa pers Superliga Junior 2018, Senin (1/10/2018), di Jakarta, Susy dan Imelda mengatakan kejuaraan bulu tangkis beregu putra dan putri tepat untuk mengasah mental seorang pemain, terutama di level junior.
Pasalnya —berbeda dengan penampilan di nomor perorangan— faktor mental, keberanian, dan kerja tim sangat diperlukan seorang atlet ketika bertanding di nomor beregu. Itulah yang akan digarisbawahi Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) selama Superliga Junior 2018 dihelat di GOR Djarum, Magelang, pada 16-21 Oktober mendatang. 
"Pasti lebih memudahkan PBSI, karena yang ikut kejuaraan seperti ini adalah pemain-pemain andalan klub besar, artinya jangkauan (pemain potensial) kami tidak terlalu luas. Dengan hadir di sana, kami bisa melihat potensi yang ada," ujar Susy kepada awak media. 
ADVERTISEMENT
"Superliga junior ini juga jadi satu kesempatan untuk melihat mental dan keberanian atlet di nomor beregu, di poin kritis atau di penentuan bagi tim bagaimana, ini jadi acuan dan penilaian tidak hanya teknik, tapi mental dan kepintaran mereka di lapangan. Juara itu harus mencakup semua (keterampilan)," imbuhnya.
Peraih emas Olimpiade Barcelona 1992 itu pun menegaskan bahwa pengalaman tampil di kejuaraan beregu bisa membentuk karakter yang kuat di lapangan. Terbentuknya mental sejak dini itu pada akhirnya diharapkan bisa mengantarkan sang atlet ke panggung dunia.
"Di saat seorang pemain diberi tanggung jawab secara teamwork, bagaimana dia mendukung temannya di lapangan, itu akan terbentuk dan terlihat. Karena saat pemilihan beregu, yang dibutuhkan bukan orang yang egois, penentuan untuk menang itu ditentukan semua pemain," kata Susy.
ADVERTISEMENT
Sementara bagi Imelda Wiguna, yang juga merupakan pengurus PB Jaya Raya, Superliga Junior 2018 bisa menjadi bekal awal Indonesia untuk menatap turnamen beregu baik di Piala Thomas dan Uber, SEA Games, maupun Asian Games.
Konferensi pers Superliga Junior 2018 dihadiri oleh Ketua Umum PBSI, Wiranto, Jakarta, Senin (1/10/2018). (Foto: Karina Nur Shabrina/kumparan)
"Modal memilih tim. Kejuaraan beregu juga sulit diprediksi, meski sudah membayangkan head to head dari nama-nama peserta, tapi tetap ada faktor non-teknis contohnya kekompakkan tim," kata Imelda.
Jaya Raya sendiri merupakan juara kategori putri di U19 Superliga Junior tahun lalu. Menurut Imelda, kejuaraan beregu juga bisa membuat klub maupun PBSI memilih pemain-pemain andalan yang teruji baik kemampuan bermain maupun mental di lapangan.
"Penting ada kejuaraan beregu, salah satunya untuk penilaian karena main beregu beda sama perorangan. Tahun ini pun ada klub dari luar negeri (di Superliga Junior), jadi bisa berlatih tanding dengan atlet luar," ucap pemain yang ikut mengantarkan Indonesia menjuarai Piala Uber pada 1975 itu. 
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan