Pencarian populer

Memahami Pelatnas Cipayung sebagai Rumah bagi Ricky Karanda

Ricky Karanda Suwardi berlatih bersama Berkat Abadi jelang Djarum Superliga 2019. Foto: Karina Nur Shabrina/kumparan

Jumat, 4 Januari 2019, menjadi penanda baru perjalanan Ricky Karanda Suwardi sebagai pebulu tangkis. Statusnya berubah, kini ia tak lagi tercatat sebagai atlet pemusatan latihan nasional (pelatnas) Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI).

Ricky tak berhak lagi menyebut gedung pelatnas yang begitu legendaris di kawasan Cipayung, Jakarta Timur, sebagai rumahnya. Ya, sang atlet terdegradasi alias dicoret dari daftar pemain PBSI 2019 lewat Surat Keputusan SKEP/001/0.3/I/2019.

Pengumuman dikeluarkan pada awal tahun, alih-alih seperti kala PBSI mengumumkan Pelatnas 2018 di pengujung tahun 2017. Maka, Kejuaraan Nasional PBSI 2018, turnamen antar klub se-Indonesia pada 18-22 Desember, jadi jejak terakhir Ricky sebagai atlet PBSI.

Usai terdegradasi, Ricky tak hanya meninggalkan Cipayung, dia harus rela absen merasakan euforia Indonesia Masters 2019 di Istora Gelora Bung Karno pada 22-27 Januari lalu.

Pebulu tangkis Indonesia Ricky Karandasuwardi pada Turnamen Bulu Tangkis Blibli Indonesian Open 2018 di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (4/7). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Tapi, bulu tangkis tak pergi begitu saja dari kehidupan Ricky. Tangannya tetap menggenggam raket, kedua kakinya tetap menapak lapangan, matanya tetap awas menangkap arah shuttlecock.

Pemandangan seperti itulah yang kami temukan, saat menyaksikan Ricky berlatih bersama PB Berkat Abadi di lapangan bulu tangkis The Springs Club, Serpong, pada Rabu (13/2/2019).

Juara SEA Games 2015 dan Singapura Terbuka 2015 itu tengah berlatih sebagai persiapan untuk berlaga di Djarum Superliga Badminton 2019 yang digelar pada 18-24 Februari. Di turnamen itu, ia akan bertanding sebagai atlet pinjaman dari Mutiara Cardinal Bandung untuk Berkat Abadi Banjarmasin.

"Saya juga kaget (degradasi) pasti, Mbak," ujar Ricky mengawali perbincangan dengan kumparanSPORT.

"Rasa saya dan hati saya, sih, masih di dalam (pelatnas). Saya masih merasa mampu dan sanggup. Entah kenapa, tidak ada omongan sama sekali (soal degradasi). Saya sudah kerja keras, disiplin. Mungkin ada alasan tertentu (dari PBSI), mungkin ini takdir," ucap pemain asal Cirebon ini.

Ganda campuran, Ricky Karandasuwardi/Debby Susanto, di babak pertama Denmark Terbuka 2018. Foto: Dok. PBSI

Perkara apa yang ada di benaknya, siapa yang tahu. Tapi, barangkali yang berputar-putar di dalam sana adalah silang sengkarut soal masa depan. Barangkali yang diperamnya dalam benak adalah asa untuk tetap bertanding bersama PBSI.

"Hati saya, sih, (merasa) masih bisa," katanya lirih. "Tapi tahun depan (2019), saya main sama siapa juga? Debby (Susanto) sudah pensiun," ucap Ricky.

Jejak Ricky di turnamen internasional musim 2018 adalah babak pertama Perancis Terbuka Super 750 bersama Debby Susanto. Sementara, China Terbuka 2018 BWF Super 1000 didakinya hingga perempat final, masih bersama Debby di ganda campuran.

Di turnamen yang sama, Ricky juga bermain di sektor ganda putra bersama pasangan lamanya, Angga Pratama. Ricky/Angga terhenti di perempat final usai kalah dari ganda terbaik dunia sekaligus kompatriot, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo.

Ricky Karanda Suwardi berpose di The Springs Club, Serpong. Foto: Dok. PB Berkat Abadi

Ricky adalah pemain yang bermain rangkap sejak 2018. Debut bersama Debby dilakoninya saat bertanding di Malaysia Masters 2018. Bersama Angga, keduanya mulai bertandem pada akhir 2014.

Pencapaian mentereng direngkuhnya bersama Angga, terutama saat menjadi juara di Singapura Terbuka 2015. Gelar juara itu jatuh ke tangannya berkat kemenangan atas ganda China, Fu Haifeng/Zhang Nan, 21-15, 11-21, 21-14.

Tak berhenti sampai di situ. Ricky/Angga juga mempersembahkan emas nomor perorangan ganda putra bagi Indonesia di SEA Games 2015 usai mengalahkan Marcus/Kevin.

"Saya pernah di level atas. Baru satu tahun main ganda campuran, tiba-tiba dipilih ke Asian Games saja saya beruntung. Ada plusnya, saya main mix dan langsung main Asian Games, berarti pelatih percaya sama saya. Kaget sekali di situ," katanya.

Pebulu tangkis Indonesia Ricky Karandasuwardi pada Turnamen Bulu Tangkis Blibli Indonesian Open 2018 di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (4/7). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Piala Thomas 2016 pun menyimpan cerita tentang ketangguhan keduanya. Ricky/Angga tak terkalahkan sejak babak grup hingga final. Sayangnya, skuat putra Indonesia menutup kompetisi sebagai runner up usai kalah 2-3 dari Denmark.

"Target yang belum tercapai pasti ke Olimpiade. Padahal saya ada kesempatan masuk di 2016, kurang beberapa poin. Kalau ganda campuran, belum puas. Saya masih merasa mampu, tapi sudah dikeluarkan. Saya ingin buktikan bisa rangkap," jelas Ricky.

***

Rumah adalah diksi yang kompleks. Diperlakukan sebagai kata benda, rumah akan berarti tempat tinggal. Tapi pada kenyataannya, rumah lebih dari sekadar tempat tinggal.

Keberadaannya diperlukan bukan hanya sebagai tempat bernaung, tetapi tempat untuk melahirkan kehangatan, kenyamanan, rasa aman, penerimaan--atau apa pun, kita bisa menyebutkan definisi rumah versi kita sendiri.

Rumah juga menjadi tempat yang paling pas untuk mulai merawat hasrat. Maka, berubahlah Pelatnas Cipayung menjadi tempat bagi Ricky untuk mengerjakan mimpinya sebagai pebulu tangkis.

Di sini ia tak cuma bertemu dengan rekan, tapi kawan. Tak hanya mengenal pelatih yang disebutnya coach, tapi pelatih yang dipanggilnya kakak.

Debby (kiri) dan Ricky (kanan) kala berlaga di Asian Games 2018. Foto: ANTARA FOTO/INASGOC/Jessica Margaretha

"Saya saat antarkan surat undangan pernikahan, saya bilang ke Kak Icad (Richard Mainaky, pelatih ganda campuran PBSI, red): Bagaimana saat saya latihan, game? 'Silakan saja' katanya. Kemarin saya kena degradasi pun, saya keluar, saya pamit dengan semua orang (di Cipayung)."

"Karena apa? Saya sudah delapan tahun di pelatnas, saya dapat rezeki dari situ, saya tidak bisa melupakannya. Seperti rumah sendiri, banyak yang bantu, hingga cleaning service. Cik Debby juga hadir di pernikahan saya, padahal Sabtu ada acara. Dia orang baik, setahun saya banyak belajar," kata Ricky yang menikahi Rindy Puspa Ningrum pada 9 Februari 2019.

"Belajar banyak kehidupan di PBSI, semua dari kalangan bawah dan atas. Saya belajar mengkaji diri sendiri, untuk akhlak. Untuk kehidupan itu saja modalnya. Semua komplet di situ."

Pebulu tangkis Indonesia Ricky Karandasuwardi dan Angga Pratama pada Turnamen Bulu Tangkis Blibli Indonesian Open 2018 di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (4/7). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Namun, degradasi tetap terjadi. Bagi Ricky, cara terbaik untuk menghadapi keputusan ini adalah dengan memakluminya. Berkemas meninggalkan rumah, berpamitan kepada siapa pun yang pernah ikut berdiam bersamanya dalam rumah itu.

"Datang pelatnas baik-baik, keluar juga harus baik-baik. Orang awam pasti malu, tapi saya pamitan semua dari ujung ke ujung. Saya pamit semua, (Anthony) Ginting rangkul saya: Sing sabar, A. Rezeki mah di mana wae," tiru Ricky.

"Saya juga pesan balik: Ting, jangan sia-siakan, tugas kamu di sini lebih mulia, apalagi pemain tunggal. Ganda putra kalah (prestisenya kalau dibandingkan dengan) takhta dan kehormatan bulu tangkis di tunggal putra. Berjuang."

***

Ya, begitulah. Delapan tahun berlaga bersama PBSI tak hanya bercerita soal kemenangan, kekalahan, atau gelar juara.

Memberi pelajaran tentang kehidupan, bulu tangkis lebih dari sekadar olahraga tepok bulu bagi Ricky. Menjadi rumah, Pelatnas Cipayung adalah tempat kelahiran yang disempurnakan oleh kenangan dan ingatan.

Namun akan selalu ada waktunya bagi manusia, termasuk Ricky, untuk meninggalkan rumah. Bukan untuk terlunta di jalanan, tapi agar menemukan dan tiba di rumah yang baru.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.63