kumparan
26 Mei 2019 14:55 WIB

Membedah Kandasnya Strategi Indonesia di Semifinal Piala Sudirman 2019

Ekspresi kekecewaan Tim Indonesia saat menyaksikan babak semifinal Piala Sudirman 2019 di Guangxi Sports Center Gymnasium. Foto: Dok. PBSI
Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) memboyong 20 atlet terbaiknya ke Nanning, China, untuk berlaga di Piala Sudirman 2019. Tujuan mereka jelas: Menjadi juara turnamen tersebut.
ADVERTISEMENT
Piala Sudirman adalah turnamen beregu campuran paling prestisius di dunia. Namun, Indonesia sudah lama tidak menjadi juara.
Sejak menjadi juara pada perhelatan perdana di Jakarta, Mei 1989, Indonesia selalu kandas sebelum merengkuh trofi. Setidaknya ada enam kesempatan di mana Indonesia hanya menjadi runner-up.
Tahun ini, mimpi Indonesia kandas di semifinal. Padahal PBSI cukup percaya diri, mengingat Indonesia mendapatkan tempat sebagai unggulan ketiga --di belakang China dan Jepang.
Sabtu (25/5/2019), Indonesia kalah 1-3 dari Jepang. Hasil tersebut sejatinya tidak sesuai harapan dari PBSI. Bagaimana strategi sesungguhnya?
“Kalau dilihat secara kekuatan, maunya nyolong di ganda putra dan tunggal putra, dan nanti penentuannya di ganda campuran," ucap Manajer Tim, Susy Susanty, soal susunan pemain Indonesia pada laga melawan Jepang.
ADVERTISEMENT
"Tunggal putri dan ganda putri secara head-to-head dan peluang memang lebih kecil dibanding tiga nomor lain," imbuhnya seperti dilansir situsweb resmi PBSI.
Pertandingan Indonesia vs Jepang diawali oleh laga ganda putra, lalu diikuti tunggal putri, tunggal putra, ganda putri, dan ganda campuran. Indonesia unggul di partai pertama setelah Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo menundukkan Takeshi Kamura/Keigo Sonoda dengan skor 21-14 dan 21-18.
Penampilan Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo di semifinal Piala Sudirman 2019. Foto: Dok. PBSI
Marcus/Kevin membuktikan statusnya sebagai ganda putra terbaik Indonesia sekaligus dunia. Kemenangan mereka sudah sesuai dengan prediksi PBSI.
Ketika Gregoria Mariska Tunjung takluk di tangan Akane Yamaguchi (13-21 dan 13-21), PBSI pun tidak terkejut. Di atas kertas, Yamaguchi memang unggul atas Gregoria.
Prediksi PBSI baru meleset pada partai ketiga. Alih-alih membawa Indonesia unggul 2-1, Anthony Sinisuka Ginting justru kalah. Ia takluk 17-21 dan 21-19 di tangan Kento Momota, yang saat ini menempati peringkat satu dunia untuk sektor tunggal putra.
ADVERTISEMENT
Pelatih tunggal putra PBSI, Hendry Saputra, menyaksikan penampilan Anthony Ginting di semifinal Piala Sudirman 2019. Foto: Dok. PBSI
Anthony memang kalah secara head-to-head (3-7) dari Momota. Oleh karena itu, pemilihannya bisa diperdebatkan. Jika sejak awal menargetkan satu poin dari tunggal putra, mengapa PBSI tidak menurunkan Jonatan 'Jojo' Christie?
Secara head-to-head Jojo memang masih kalah dari Momota (1-2). Namun, catatan itu sedikit lebih baik ketimbang Anthony. Kemenangan Jojo atas Momota pun diraih baru-baru ini, yakni pada babak kedua Malaysia Terbuka 2019, April lalu.
Namun, bisa jadi PBSI mempertimbangkan hal lain. Jojo baru saja menelan kekalahan (11-21, dan 13-21) dari Chou Tien Chen ketika Indonesia menghadapi Taiwan di perempat final, Jumat (24/5).
Dalam kedudukan 1-2, Indonesia mau tak mau harus menang pada partai ganda putri. Sialnya, seperti penuturan Susy, partai ganda putri bukanlah salah satu keunggulan Indonesia.
ADVERTISEMENT
Pada partai tersebut, Greysia Polii/Apriyani Rahayu (ganda nomor lima dunia) kalah 15-21 dan 17-21 di tangan ganda putri terbaik dunia saat ini, Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara. Ganda putri 'Negeri Sakura' pun terbukti masih menjadi momok bagi pasangan Indonesia.
Indonesia gagal melaju ke Final Piala Sudirman 2019 di Guangxi Sports Center Gymnasium, Nanning, China, Sabtu (25/5/2019). Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Jepang pun melaju ke final Piala Sudirman 2019 dengan kemenangan 3-1 atas Indonesia. Niat PBSI untuk menjadikan partai ganda campuran --yang semestinya mempertemukan Yuta Watanabe/Arisa Higashino dan Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti-- sebagai partai penentu pun urung terlaksana.
Kalau boleh berandai-andai, bagaimana jika kedudukannya berimbang 2-2 untuk Indonesia dan Jepang? Soal ranking, Watanabe/Higashino yang duduk di peringkat tiga dunia unggul atas Praveen/Melati yang berstatus nomor tujuh dunia. Namun, Praveen/Melati pernah mengalahkan Watanabe/Higashino di Malaysia Masters 2018 sekaligus menjadi satu-satunya catatan pertemuan kedua pasangan hingga saat ini.
ADVERTISEMENT
Hasil sudah didapat: Indonesia kalah di semifinal Piala Sudirman 2019 dan kembali memperpanjang puasa gelar di turnamen ini. Kendati demikian, pencapaian Indonesia tahun ini lebih baik ketimbang dua tahun silam. Saat itu, 'Merah-Putih' gagal lolos dari fase grup.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan