Pencarian populer

Menerka Calon Juara Tunggal Putri Prancis Terbuka 2018

Ostapenko kandas di babak pertama. (Foto: AFP/Christophe Archambault)

Sehari sebelum turnamen Prancis Terbuka dimulai, Jelena Ostapenko tampak berbahagia. Senyum tersungging lebar di paras kekanakannya ketika menjalani sesi pengambilan gambar untuk iklan Air Baltic.

Ostapenko dan Air Baltic barangkali merupakan jenama terpopuler di Latvia saat ini. Jika Air Baltic adalah maskapai penerbangan terbesar, Ostapenko adalah atlet dengan nama termasyhur. Status sebagai Atlet Wanita Terbaik 2017 mengukuhkan popularitas Ostapenko di negara Baltik yang tenang itu.

Di abad 21 ini, ada dua nama atlet yang mengharumkan nama Latvia di kancah internasional. Pertama, Maris Verpakovskis, seorang pesepak bola. Berkat jasanya, Latvia berhasil lolos ke Piala Eropa untuk kali pertama pada 2004 silam. Kedua, tentu saja, Ostapenko sendiri dan pencapaian pemudi 20 tahun ini boleh dibilang jauh lebih mentereng dibanding Verpakovskis.

Loading Instagram...

Jika Verpakovskis gagal membawa Latvia bersinar di Piala Eropa -- mereka hanya jadi juru kunci di Grup D --, lain ceritanya dengan Ostapenko. Sebagai debutan di Prancis Terbuka 2017, wanita berambut ikal ini sukses keluar sebagai juara. Tak heran jika kemudian dirinya didapuk untuk menjadi wajah terbaru Air Baltic dan tak heran pula jika wajahnya semringah jelang keberangkatan menuju Paris.

Sebagai juara bertahan, nama Ostapenko jelas masuk hitungan sebagai kandidat kuat untuk membawa pulang trofi. Terlebih, peringkat WTA-nya juga sudah sampai di urutan lima. Namun, kenyataan berkata lain.

Di partai pembuka, Ostapenko harus menghadapi lawan yang selalu berhasil mengalahkannya dalam dua pertemuan, Kateryna Kozlova. Pada perjumpaan ketiga, Senin (28/5/2018) WIB, Ostapenko kembali harus bertekuk lutut.

Ketika ditanya, Ostapenko mengaku bahwa ada dua hal yang membuatnya tersungkur di pertandingan pembuka. Pertama, cedera yang didapatnya di Roma Masters dan kedua, tekanan sebagai juara bertahan.

Namun, apa pun itu, Ostapenko sudah dipastikan gagal mempertahankan gelar dan kini, marilah kita menebak-nebak. Siapa yang kira-kira bakal merebut trofi Prancis Terbuka edisi 2018 ini?

Jika yang jadi patokan adalah rangking, maka Simona Halep, Caroline Wozniacki, Garbine Muguruza, dan Elina Svitolina layak dikedepankan. Namun, jangan lupakan pula fakta bahwa Serena Williams telah kembali setelah absen nyaris sepanjang 2017 karena mengandung dan melahirkan. Di sini, kelima petenis itu akan dibahas satu per satu.

1) Simona Halep

Halep di sesi latihan Prancis Terbuka 2018. (Foto: AFP/Thomas Samson)

Bersama Svitolina, Halep adalah petenis lima besar di rangking WTA yang belum pernah mendapat gelar Grand Slam sekali pun. Tiga kali masuk final, tiga kali pula Halep keok. Terakhir, wanita 26 tahun ini takluk dari Wozniacki pada final Australia Terbuka 2018.

Di Prancis Terbuka, rekor Halep lebih menyakitkan lagi. Dua dari tiga final Halep itu diraihnya di Roland Garros. Pertama, pada 2014 saat ditaklukkan Maria Sharapova dan kedua, pada 2017 lalu saat dipecundangi Ostapenko.

Maka, gelaran Prancis Terbuka 2018 ini semestinya jadi momen ideal bagi Halep untuk menuntaskan rasa penasarannya. Dua kali mencapai final merupakan bukti bahwa dia sebenarnya tahu caranya menang di lapangan tanah liat. Namun, kunci untuk menang di partai puncak rupanya belum dia pegang.

Musim 2018 ini, Halep sudah berpartisipasi dalam delapan turnamen. Di turnamen pertama, Shenzhen Terbuka, Halep sukses menjadi juara dengan mengalahkan Katerina Siniakova di final. Akan tetapi, setelahnya Halep selalu gagal. Setelah kalah di Australia Terbuka, dia gagal mencapai final di Doha, Indian Wells, Miami, Stuttgart, dan Madrid. Pada Roma Masters, Halep sukses mencapai final, tetapi akhirnya kalah dari Svitolina.

Roma Masters, seperti halnya Prancis Terbuka, digelar di permukaan tanah liat. Apakah ini pertanda bahwa penyakit Halep akan kembali kambuh di Stade Rolland Garros? Hmm, tentunya petenis Rumania ini tidak berharap begitu.

2) Caroline Wozniacki

Wozniacki di Prancis Terbuka 2018. (Foto: Reuters/Gonzalo Fuentes)

Gelar Australia Terbuka membuat Wozniacki memulai musim 2018 dengan dagu terangkat. Masalahnya, gelar itulah yang menjadi garis tegas antara dirinya dengan Halep. Baik Wozniacki maupun Halep sama-sama sudah bermain di tiga final Grand Slam. Di final ketiga, mereka bertemu dan Wozniacki berhasil mencuri kemenangan.

Akan tetapi, rekor Wozniacki di Prancis Terbuka tidak bisa dibilang menawan. Bagaimana tidak? Selama sepuluh kali berlaga di Paris, prestasi terbaik Wozniacki hanyalah mencapai babak perempat final. Menariknya, siapa pun yang mengalahkan sosok keturunan Polandia ini selalu berhasil menjadi juara. Francesca Schiavone melakukannya pada 2010, Ostapenko mengulanginya tahun lalu.

Adapun, selama 2018 ini Wozniacki telah berlaga dalam sembilan turnamen. Selain gelar Australia Terbuka, belum ada lagi trofi yang mampu dia rengkuh. Di Roma Masters, wanita berpostur 177 cm ini disingkirkan pada babak perempat final oleh petenis Estonia, Anett Kontaveit.

3) Garbine Muguruza

Muguruza sedang tidak dalam tren bagus. (Foto: Reuters/Pascal Rossignol)

Juara Wimbledon 2017 ini menjalani tahun 2018 yang tidak terlalu menyenangkan. Maka, tak heran jika peringkat WTA-nya turun dari dua menjadi tiga.

Oke, sebenarnya Muguruza tidak melangkah ke Prancis Terbuka tanpa satu gelar pun. Di Monterrey Terbuka, April lalu, dia sukses menjadi kampiun usai mengandaskan perlawanan Timea Babos dari Hongaria di final. Namun, Monterrey Terbuka tidak termasuk salah satu turnamen bergengsi. Pun demikian dengan Qatar Total Open 2018 di mana Muguruza berhasil melaju ke partai puncak sebelum dikalahkan Petra Kvitova.

Selebihnya, tiap kali berlaga di turnamen bona fide, Muguruza selalu tersingkir di babak-babak awal. Pada Australia Terbuka, petenis kelahiran Caracas, Venezuela, ini masuk kotak di babak kedua. Kemudian, di Indian Wells pun nasibnya setali tiga uang. Terakhir, di Roma Masters lalu, Muguruza juga sudah harus angkat koper saat turnamen baru memasuki babak kedua.

Rekor negatif sepanjang 2018 ini jelas menjadi preseden buruk bagi Muguruza. Kans mengulangi prestasi 2016 saat menjadi juara Prancis Terbuka pun sepertinya bakal segera lenyap dari pandangan wanita 24 tahun ini.

4) Elina Svitolina

Svitolina punya momentum apik. (Foto: Reuters/Christian Hartmann)

Menjuarai Roma Masters tentunya menjadi modal apik bagi Svitolina untuk memasuki Prancis Terbuka sebagai unggulan keempat. Trofi juara di ibu kota Italia itu adalah bukti bahwa Svitolina tahu caranya menang di partai krusial, khususnya ketika menghadapi lawan setangguh Halep.

Yang menjadi masalah bagi Svitolina adalah rekor buruknya di pentas terakbar. Sejak melakoni debut Grand Slam di Amerika Serikat Terbuka 2012, prestasi terbaik petenis kelahiran Kharkiv, Ukraina, ini adalah babak perempat final. Ini terjadi dalam tiga turnamen, yaitu Prancis Terbuka 2015 dan 2017 serta Australia Terbuka 2018.

Meski demikian, Svitolina musim ini sudah mengoleksi tiga gelar dan terlepas dari seperti apa pun gengsi turnamennya, pencapaian itu tak semestinya dipandang sebelah mata. Entah di mana pun itu, laga final adalah laga final dan membiasakan untuk menang adalah hal bagus untuk semua atlet.

5) Serena Williams

Serena saat menghadapi Kristyna Pliskova. (Foto: Reuters/Christian Hartmann)

Kalau yang ini, sih, tidak bisa tidak dimasukkan hitungan. Serena Williams alias Petenis Wanita Terhebat Sepanjang Masa akhirnya kembali setelah melahirkan. Dengan balutan kostum serba-hitam, Serena sukses mengumumkan comeback dengan kemenangan atas Kristyna (kembaran dari Karolina) Pliskova di babak pertama, Selasa (29/5) lalu.

Soal rekor bertanding, sulit untuk mengukur Serena karena penampilannya masih belum benar-benar optimal. Serena resmi melakukan comeback pada ajang Muabadala World Tennis Championship di Abu Dhabi pada Desember 2017 silam dan langsung kalah dari Ostapenko. Setelah itu, dia sempat kembali absen beberapa bulan sebelum kembali di Indian Wells dan Miami Terbuka.

Di Indian Wells, Serena dikalahkan sang kakak, Venus, pada babak ketiga. Sementara, di Miami, petenis 36 tahun ini keok di hadapan Naomi Osaka pada babak pertama.

Rekor 2018 Serena jelas buruk. Namun, satu hal yang perlu diingat, Serena adalah Serena. Di sini kita membicarakan petenis yang menjadi juara Grand Slam Australia Terbuka 2017 saat tengah mengandung. Di sini, yang tengah kita perbincangkan adalah juara Prancis Terbuka tiga kali. Seperti yang kerapkali diucapkan suporter Liverpool: Form is temporary, class is permanent.

***

Selain lima nama yang telah disebut di atas, tentunya masih ada sejumlah petenis yang layak dimasukkan ke daftar unggulan. Sloane Stephens, misalnya. Sebagai juara Amerika Serikat Terbuka 2017 dan petenis nomor 10 dunia, Stephens jelas pantas masuk ke dalam daftar.

Berikutnya, ada Karolina Pliskova. Musim lalu, dia berhasil menembus babak semifinal dan pastinya, wanita asal Republik Ceko ini ingin mendapat lebih tahun ini. Oh, dan tolong, jangan lupakan bahwa ada nama petenis tuan rumah Caroline Garcia di sepuluh besar. Faktor non-teknis macam itu semestinya bakal bisa berperan positif bagi perjalanan Garcia musim ini.

Namun, ya, tentu ada alasan mengapa lima nama tadi kami kedepankan. Halep, Wozniacki, Muguruza, Svitolina, dan Serena punya segalanya, mulai dari kemampuan, sejarah yang apik, sampai tren positif. Di Grand Slam seperti Prancis Terbuka, semakin banyak modal yang dimiliki, perjalanan biasanya bakal semakin mulus.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23