Pencarian populer

Mohammad Ahsan: Memilih Mandiri Bersama Tandem Sejati

Mohammad Ahsan di Olimpiade 2016. Foto: Laurent KALFALA / AFP

Meski saat ini telah menjejak usia 31 tahun, Mohammad Ahsan tak takut untuk mengambil jalur mandiri dan melepaskan segala kenyamanan sebagai atlet pelatnas (pemusatan latihan nasional) Indonesia.

Ya, per Januari 2019, Ahsan bersama pasangan sejatinya, Hendra Setiawan, memilih keluar dari naungan Cipayung dan menjadi pemain profesional dengan menggandeng sponsor untuk mengikuti kejuaraan-kejuaraan bulu tangkis di pelbagai belahan dunia.

Kendati bukan lagi bagian dari pelatnas Cipayung, Ahsan tetap membawa bendera Indonesia setiap kali bertanding dengan Hendra. Toh, pada akhirnya, tujuan Ahsan dan Hendra tetaplah sama: mengharumkan nama Indonesia dan menjaga nyala api prestasi bulu tangkis Tanah Air di kancah internasional.

***

Ahsan yang lahir di Palembang pada 7 September 1987 memulai karier bulu tangkisnya dengan masuk ke klub PB Djarum. Anak dari pasangan Tumin Atmadi dan Siti Rohana ini kemudian masuk ke pelatnas Cipayung pada 2008.

Saat pertama kali masuk pelatnas, Ahsan dipasangkan dengan Bona Septano. Sayangnya, perjalanan keduanya sebagai ganda campuran tak mulus-mulus amat.

Memang, ada beberapa gelar yang diraih seperti Indonesia Masters 2010, 2011, dan emas SEA Games 2011. Namun, di beberapa kejuaraan bergengsi macam Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis, All England, hingga China Terbuka, Ahsan/Bona tak bisa berbicara banyak. Puncaknya, setelah cuma menjejak perempat final Olimpiade 2012, Ahsan dan Bona dipisahkan oleh pelatih ganda putra Indonesia, Herry Iman Pierngadi.

Sebagai tandem baru Ahsan, dipilihlah Hendra Setiawan dan mereka mulai bersama sejak pertengahan 2012. Kebersamaan mereka akhirnya membuahkan hasil apik setahun berselang dengan menjuarai Malaysia Terbuka 2013.

Kesuksesan itu disusul dengan raihan titel Kejuaraan Dunia 2013 yang berlangsung di Guangzhou, China. Di partai puncak, Ahsan/Hendra mengalahkan pasangan asal Denmark, Mathias Boe/Cresten Mogensen, dengan skor 21-13 dan 23-21.

Di tahun 2013 itu, Ahsan/Hendra memulai masa-masa kejayaan mereka. Selain menjadi kampiun di dua kejuaraan tadi, mereka pun sukses menyabet gelar-gelar lain seperti BWF Superseries Finals, Indonesia Terbuka, Denmark Terbuka, dan Singapura Terbuka.

Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan bertanding di babak grup BWF World Tour Finals 2018. Foto: Dok. PBSI

Tahun keemasan Ahsan berlanjut di 2014 yang diawali dengan menjuarai turnamen All England usai mengalahkan wakil Jepang, Hiroyuki Endo/Kinichi Hayakawa. Namun, Ahsan/Hendra pun sempat menemui kegagalan saat kalah di final Jepang Terbuka dan Indonesia Terbuka.

Ahsan/Hendra lantas membayar kegagalan di dua turnamen tersebut dengan menyabet medali emas di Asian Games 2014 dan menutup tahun 2014 dengan gelar juara Hong Kong terbuka. Setelahnya, pada tahun 2015, Ahsan/Hendra balas dendam dengan memenangi Malaysia Terbuka dan BWF Superseries Finals --dua turnamen yang gagal mereka menangi pada tahun sebelumnya.

Kendati bertabur prestasi gemilang di awal-awal keberasamaannya, Ahsan/Hendra akhirnya menemui masa di mana mereka mulai disalip oleh junior-juniornya. Cuma menenangi satu gelar di 2016 (Thailand Masters), Ahsan dan Hendra akhirnya memutuskan berpisah di akhir 2016.

Ahsan sendiri memilih berpasangan dengan Rian Agung Saputro. Duet ini langsung membuahkan juara di China Challenge 2017. Sayang, hasil itu tak berlanjut di kejuaraan lain seperti China Terbuka, Denmark Terbuka, hingga Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis. Ahsan juga sempat berpasangan dengan Angga Pratama, tapi gagal melangkah jauh di Indonesia Masters 2018.

Setelah hampir setahun lebih berpisah, Ahsan akhirnya memilih untuk bertandem lagi dengan Hendra di 2018 dan ajang India Terbuka jadi momen comeback mereka. Sayang, langkah mereka harus terhenti di semifinal usai dikalahkan ganda putra Indonesia yang tengah naik daun, Marcus Fernaldi Gideon dan Kevin Sanjaya Sukamuljo. Kebetulan, Kevin adalah junior Ahsan di PB Djarum.

Kebersamaan Ahsan/Hendra untuk kali kedua ini baru melahirkan gelar juara di Malaysia International Challenge di April 2018. Kemudian mereka menjuarai Singapura Terbuka 2018. Namun, taji mereka di turnamen-turnamen akbar macam All England dan China Terbuka belum terlihat kembali.

Ahsan/Hendra di semifinal Indonesia Masters 2019. Foto: Dok. PBSI

Pada awal Januari 2019, Ahsan/Hendra kembali mengambil keputusan mengejutkan dengan keluar dari pelatnas Cipayung. Keduanya memlih mengambil jalur profesional dengan menggandeng sponsor untuk megikuti turnamen. Ahsan dan Hendra setidaknya butuh 15 turnamen untuk bisa lolos ke Olimpiade 2020 mendatang di Tokyo, Jepang.

Hasil yang didapatkan mereka pada dua turnamen pertama di 2019 ini pun terbilang cukup apik. Ahsan/Hendra menembus babak 16 besar Malayisa Masters dan menjadi runner-up Indonesia Masters. Kedua turnamen ini pun menjadi ajang pemanasan buat Ahsan/Hendra untuk mentas di All England 2019.

Pada babak pertama, Rabu (6/3/2019) malam WIB, Ahsan/Hendra akan menghadapi wakil Inggris, Marcus Ellis/Chris Langride, di Arena Birmingham. Demi meloloskan diri ke Olimpiade, Ahsan/Hendra yang dijuluki The Daddies ini akan langsung mengikuti Swiss Terbuka setelah mentas di All England.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Disponsori oleh
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.60