Pencarian populer

Paripurnanya John Terry Bersama Chelsea

Selamat tinggal, John Terry! (Foto: Reuters/Tony O'Brien)
Tak ada lagi yang bisa dilakukan John Terry untuk Chelsea. Di usia yang sudah menginjak angka 36, kakinya sudah terlalu renta untuk mengawal lini belakang tim yang sudah dibelanya sejak remaja itu. Setelah 22 tahun, 713 penampilan, 66 gol, dan 14 trofi, John Terry undur diri.
ADVERTISEMENT
Musim ini adalah musim terakhir Terry di Chelsea dan hal itu sebenarnya sama sekali tidak mengejutkan. Terry memang sudah tersingkir. Dari sepuluh laga yang dilakoninya, hanya lima yang berlangsung di Premier League. Itu pun terakhir kali terjadi November 2016 lalu, kala The Blues menggulung Everton 5-0.
Selebihnya, Conte hanya mau memainkan Terry di laga-laga Piala FA dan kesemua laga itu dilakoni pria 36 tahun tersebut menghadapi tim-tim divisi bawah. Menghadapi Tottenham Hotspur di semifinal nanti, rasanya Conte bakal menurunkan trio andalannya, Gary Cahill, David Luiz, dan Cesar Azpilicueta.
Absennya Terry di mayoritas laga Chelsea musim ini memang tak lagi mengejutkan. Pasalnya, Big John sendiri memang sudah berada di waktu pinjaman. Kontraknya seharusnya habis akhir musim lalu, tetapi manajemen memutuskan untuk memperpanjang setelah mendapat tekanan dari suporter.
ADVERTISEMENT
Bagi Chelsea dan para pendukungnya, John Terry adalah seorang legenda sejati. Dia adalah pemain Chelsea tersukses sepanjang masa, melebihi capaian Frank Lampard. Masuk akal, mengingat Terry sudah ada sebelum Lampard datang dan masih ada setelah Lampard pergi.
Terry mulai jadi bagian integral Chelsea pada musim 2000/01. Meski sudah beberapa kali dimainkan sejak musim 1998/99, Terry muda masih harus bersaing dengan pemain-pemain seperti Marcel Desailly dan Frank Leboeuf. Dia pun sempat disekolahkan ke Nottingham Forest selama setengah musim pada tahun 2000.
Setelah mampu menggeser Leboeuf yang kemudian hengkang ke Marseille, Terry pun menjadi bagian tak tergantikan dari Chelsea. Dia menjadi saksi bagaimana Chelsea yang semenjana di tangan Ken Bates berubah menjadi Chelsea yang kita kenal sekarang ini: kaya, mapan, dan sukses.
ADVERTISEMENT
Kesuksesan Terry sebagai seorang pemain tak bisa dilepaskan dari Jose Mourinho. Ketika Mourinho datang pada awal musim 2004/05, dia menunjuk Terry sebagai kapten untuk menggantikan Desailly yang gantung sepatu. Sejak saat itulah Chelsea menjadi institusi yang ditakuti di persepakbolaan Inggris.
Sebagai seorang bek tengah, Terry dikenal atas keuletan dan keberaniannya untuk berduel. Sebagai bek tengah klasik Inggris, Terry memang tidak memiliki keanggunan laiknya bek-bek Italia, namun jangan tanya komitmen dirinya ketika sudah berlaga di lapangan hijau. Baginya, kalau belum jatuh-bangun, ya, belum main bola namanya.
Tak hanya itu, Terry juga terhitung sangat produktif dalam urusan mencetak gol. Mencetak 66 gol dalam 19 musim sebagai pemain profesional bukanlah perkara gampang untuk seorang bek tengah. Yang lebih penting lagi, gol-gol Terry kerap hadir di masa-masa genting. Jadi, apa yang kini menjadi merek dagang Sergio Ramos sebenarnya sudah lebih dahulu dilakukan oleh Terry di masa lalu.
ADVERTISEMENT
Terlepas dari semua kehebatan JT di lapangan hijau, berbagai kontroversi juga kerap ditebar pria 36 tahun ini di luar lapangan. Mulai dari menyerobot istri mantan rekan setimnya, Wayne Bridge, mengangkat trofi Liga Champions di saat dia seharusnya hanya boleh menonton dari tribun, sampai menarik pungutan liar dari para pengunjung Stamford Bridge, semua pernah dilakukan John Terry.
Hal-hal itu membuatnya menjadi sasaran empuk bagi suporter tim lawan. Apalagi, belakangan juga diketahui bahwa ayahnya, Ted, adalah seorang pengedar kokain. Amunisi untuk menyerang John Terry pun semakin bertambah saja.
Akan tetapi, justru itulah yang menjadi poin penting dalam kisah hidup John Terry. Dengan berbagai dosa dan khilafnya itulah dia berhenti menjadi monumen, dan kembali menjadi manusia.
ADVERTISEMENT
Musim depan, tidak akan ada lagi nama John Terry di skuat The Blues. Sampai sekarang, Terry sendiri belum menentukan secara pasti bagaimana masa depannya. Meski begitu, Terry sudah mengisyaratkan bahwa dia masih ingin bermain.
"Saya merasa masih bisa berbuat banyak di lapangan, tetapi di Chelsea, kesempatan itu sangatlah terbatas. Saya masih ingin bermain dan akan mencari tantangan baru ke depannya," kata Terry seperti dilansir ESPN.
Sementara itu, Direktur Chelsea, Marina Granovskaia, mengatakan bahwa John Terry adalah sosok yang berjasa mengantarkan The Blues menjadi salah satu klub terbaik di dunia. Oleh karena itu, lanjut Granovskaia, pintu akan selalu terbuka untuknya.
Selamat jalan, John Terry!
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.85