kumparan
22 Agu 2019 8:50 WIB

Pelatnas Timnas Basket Jangka Panjang Melahirkan Polemik Baru

Indonesia saat menghadapi China di perempat final basket putra Asian Games 2018. Foto: Antara/Wahyudin
PP Perbasi merancang pemusatan latihan nasional (pelatnas) jangka panjang untuk Timnas Basket. Program tersebut dibuat untuk akselerasi kualitas Timnas agar layak tampil di Kejuaraan Dunia 2023 (FIBA World Cup).
ADVERTISEMENT
Program ini memang tak main-main. Sekitar 3-4 tahun para pemain menjalani pelatnas. Bahkan, Timnas akan tampil di IBL (Liga Bola Basket Indonesia) agar tetap kompetitif.
Hanya, rencana itu langsung menuai perdebatan. Padahal, pelatnas belum dimulai dan saat ini masih proses seleksi pemain.
Stapac Jakarta paling kencang mengutarakan tidak setuju terhadap program tersebut. Mereka bahkan sudah memutuskan mundur dari IBL musim 2019/20 karena lima pemain intinya dipanggil seleksi.
Alhasil, juara IBL 2018/19 itu minim stok pemain. Mereka juga belum menemukan penggantinya.
Maulana Fareza Tamrella, Manajer Timnas Basket Indonesia. Foto: Ferry Adi/kumparan
Polemik tersebut langsung ditanggapi manajer Timnas Basket, Maulana Fareza Tamrella. Ia menyebut bahwa keputusan Stapac terlalu buru-buru.
“Rencana Timnas main di liga pada Oktober. Sekarang ini ‘kan masih seleksi pemain. Dari 30 menjadi 18 dan terakhir tersisa 14 pemain. Nah, 14 pemain itu akan main di liga dan SEA Games. Intinya Stapac harus bijaksana menunggu seleksi beres. Setelah itu baru kelihatan berapa pemain mereka yang masuk Timnas,” turur Fareza.
ADVERTISEMENT
Menurut Fareza, Stapac tidak seharusnya membuat keputusan gegabah. Pasalnya, klub tetap punya waktu persiapan menuju IBL 2019/20 setelah ada keputusan pemilihan pemain timnas.
“Akhir bulan ini dari 30 pemain yang dipanggil akan mengerucut menjadi 18. Lalu, 18 pemain ini akan kami bawa pelatnas di Taiwan. Setelah itu, mengerucut lagi menjadi 14 pada Oktober. Itu seleksi terakhir dan 14 pemain itu yang akan pelatnas jangka panjang. Liga dimulai Januari. Artinya, masih ada tiga bulan persiapan klub,” ujar Fareza.
Lebih lanjut, Fareza menuturkan pelatnas jangka panjang masih terbuka perubahan. Rencana awal pelatnas akan dipantau dulu paling lama dua tahun, baik itu di liga maupun turnamen lain. Promosi dan degradasi pun diberlakukan.
ADVERTISEMENT
“Timnas tidak bisa mengunci pemain itu-itu saja. Terbuka terus kesempatan. Pemain itu ‘kan ada yang berkembang dan menurun pastinya nanti,” katanya.
Polemik anyar yang mencuat seiring kemunculan program pelatnas jangka panjang ialah penggajian pemain. Fareza masih mendiskusikan soal gaji pemain yang masuk pelatnas nanti.
Banyak kemungkinan yang ada. Pemain digaji klub plus tambahan dari Timnas. Atau, jika klub keberatan maka gaji dibebankan semua kepada Timnas.
Turunan masalah penggajian itu ialah siapa yang menggaji. Sejauh ini PP Perbasi belum mendapat dukungan dari pemerintah.
“Belum ada nota kesepahaman dengan pemerintah. Dana sekarang berasal dari PP Perbasi, pribadi, dan swasta saja. Belum dapat satu rupiah pun dari pemerintah,” ujar Fareza.
Memang, basket bukan cabang prioritas dalam pendanaan, khususnya untuk SEA Games 2019. Basket masuk dalam klaster empat dalam prioritas penerima anggaran. Dengan kata lain, jumlah yang diberikan tak akan lebih dari Rp 7 miliar.
ADVERTISEMENT
Meski bukan prioritas, PP Perbasi tetap jemput bola untuk menerima hak. Sayang, usaha mereka hingga kini belum menemui hasil positif.
“Pemerintah yang berhak menjawab. Kami sering kok bertanya. Namun, ya, ada saja alasannya. Bisa jadi dana belum siap. Ini sudah tiga bulan menjelang SEA Games. Sayang sekali kalau tanpa kejelasan begini. Lebih baik dikasih tahu dari awal memungkinkan atau tidak dapat dana," jelas Fareza.
"Atau, berapa pun itu yang keluar pasti berarti, kok, buat pemain. Kami bisa cari yang lain. Sekarang hitam di atas putihnya saja belum ada,” kata Fareza.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan