kumparan
13 Okt 2018 22:00 WIB

Riries Widya, Ibu bagi Tim Para Sepeda Indonesia

Riries Widya dan Puspita Mustika, suami-istri pelatih para sepeda Indonesia. (Foto: Sandi Firdaus/kumparan)
"Yang penting, atlet difabel itu harus benar-benar diperhatikan. Ini (menunjuk ke arah hati) mereka harus kita jaga."
ADVERTISEMENT
Kalimat itu diucapkan oleh Puspita Mustika, pelatih kepala tim para sepeda Indonesia. Di matanya, melatih atlet difabel sama dengan menjaga kondisi hati dan psike. Menurut Puspita, mereka pernah mengalami masa traumatis, sehingga jangan sampai ada ucapan yang membangkitkan trauma di masa lampau. Hal ini pun dipahami betul oleh Riries Widya, istri Puspita, sang pelatih kepala tim para sepeda Indonesia.
Siang itu, tepatnya pada Selasa (8/10/2018), Riries sedang berada di "paddock" tim para sepeda Indonesia. Selain mendampingi suaminya melakukan persiapan, Riries punya peran vital untuk menyemangati anak-anak asuhnya.
Tidak hanya menyemangati, Riries juga melakukan beberapa hal yang membuat para atlet merasa tersentuh. Ada momen ketika Riries menyemangati Sri Sugiyanti, atlet peraih dua perak dan satu perunggu. Ada juga momen ketik Riries menyemangati Fadli yang sempat gagal meraih medali di nomor Road Race C4 putra. Itu semata dilakukan Riries karena dia menganggap semua atlet sebagai anak-anaknya.
ADVERTISEMENT
"Pendekatan psikologi, sebenarnya secara pribadi saya sebagai bude-nya anak-anak juga. Selain itu, di sini saya sebagai ibu, guru mereka juga," ujar Riries ketika dijumpai oleh para pewarta.
Riries terjun ke dunia para sepeda pada 2015. Di tahun yang sama, ia juga menikah dengan Puspita karena terjun di dunia yang sama, yaitu Komite Para Sepeda Indonesia. Dari situ, mereka berkenalan dan Riries tenggelam lebih jauh mengenali dunia atlet difabel.
Muhammad Fadli Immamuddin, atlet para sepeda Indonesia di Asian Para Games 2018. (Foto: ANTARA/Aprilio Akbar)
Seiring berjalannya waktu, Riries pun paham bagaimana caranya memperlakukan atlet difabel. Hampir sama dengan apa yang diyakini oleh suaminya (Puspita, biasa dipanggil pakde oleh para atletnya), ia percaya bahwa hati para atlet difabel mesti disentuh. Itu yang diterapkannya kepada para atlet sampai sekarang. Perlakukan seperti ini pulalah yang pada akhirnya membuat atmosfer kekeluargaan di tim para sepeda begitu terasa.
ADVERTISEMENT
"Kalau kita itu lebih pada kesentuhan dan keibuan, karena kita perlakukan sama seperti anak sendiri. Tapi mereka ada juga permasalahan masing-masing. Paling, saya bilang ke mereka bahwa mereka punya saya. Jadi, kalau ada masalah dan mau curhat, bisa saja," ujar Riries.
"Kalau dicurhati ya macam-macam. Basanya kalau masih jomblo, mereka curhat soal pasangan. Tapi, saya yang utama soal psikologis mereka juga. Terus, saya cerewet soal makanan. Dan jam istirahat anak-anak juga saya perhatikan betul," tambahnya.
Hasil dari apa yang dilakukan oleh Riries dan suaminya ini berdampak positif terhadap prestasi atlet balap sepeda di ajang Asian Para Games 2018. Para sepeda menjadi cabor yang cukup banyak mendulang medali untuk Indonesia dengan torehan 17 medali yang bila dirinci akan menjadi satu emas, delapan perak, dan delapan perunggu.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·