Pencarian populer

Susy Susanti: Anthony Lebih Konsisten, Jonatan Perlu Kerja Keras

Atlet bulutangkis tunggal putra Indonesia, Jonatan Christie saat di temui kumparan di PBSI, Jakarta, Jumat (31/8/2018). (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

"Konsistensi (Anthony) Ginting sudah mulai, dia sudah tahu harus di level mana dan tidak pernah kalah dari pemain bukan unggulan. Dia stabil, tidak dari juara lalu kalah babak pertama. Minimal bisa delapan besar lalu semifinal," kata Susy Susanti.

Nilai positif itu diberikan Susy selaku Kepala Bidang Pembinaan Prestasi PBSI kepada tunggal putra pelatnas utama, Anthony Sinisuka Ginting. Nah, ketika Anthony mendapat pujian, Jonatan Christie, tunggal putra andalan lainnya, mendapat penilaian berbeda.

"Sedangkan Jonatan masih belum konsisten. Dia masih butuh kerja keras. Mungkin saat lawan yang pas dia bisa, tapi kalau lawan yang (level) di atas dia, Jonatan belum menemukan solusi untuk bermain seperti apa," imbuh Susy saat ditemui di Jakarta, Senin (1/10/2018).

Pujian peraih emas Olimpiade Barcelona 1992 menyoal Anthony sendiri berawal dari perjuangan heroik tunggal asal Cimahi itu di final nomor beregu bulu tangkis Asian Games 2018. Anthony tidak bisa menuntaskan pertandingan kala melakoni partai pertama lawan Shi Yuqi (China). Di pengujung gim ketiga, Anthony mengalami kram paha kiri. Namun, ia memaksakan berdiri hingga beberapa kali jatuh-bangun di lapangan.

"Di beregu dia betul-betul tampil maksimal, tapi akhirnya kalah. Itu pelajaran yang sangat berharga. Begitu kalah, kekalahan itu dia pelajari dan dari situ dapat kepercayaan diri yang lebih yakin, akhirnya di perorangan dia lebih baik lagi."

"Anthony dapat suatu pola, keyakinan, keberanian, kepercayaan, yang meningkatkan performanya tidak hanya teknik tapi juga strategi. Kekalahan di beregu (Asian Games) itulah yang menjadi pelajaran dan memotivasi dia sehingga lebih matang," kata Susy.

Terbukti, usai Asian Games, Anthony kembali mematenkan julukan 'The Giant Killer'. Di China Terbuka 2018, ia menaklukkan dua andalan tuan rumah, Lin Dan dan Chen Long. Pun tunggal andal lain, yakni Viktor Axelsen, Chou Tien Chen, hingga Kento Momota, menjadi pijakan Anthony untuk menjadi juara.

Susy Susanti membawa api Asian Games di Gunung Bromo. (Foto: AFP/Juni Kriswanto)

Nah, Jojo --sapaan akrab Jonatan-- kebalikannya. Di Asian Games, atlet kelahiran 15 September 1997 itu mendapatkan emas di nomor perorangan. Namun, Jojo keok di babak pertama Jepang Terbuka 2018, tepat dua pekan setelah menjuarai Asian Games, usai kalah dari Prannoy H.S.

Di China Terbuka 2018, Jojo melewati rintangan pertama lawan Kanta Tsuneyama (Jepang), tetapi terhenti di babak kedua usai dikalahkan Ng Ka Long Angus. Di Korea Terbuka, Jojo kalah di semifinal dari kompatriot, Tommy Sugiarto.

"Ya, masih butuh perbaikan, Jonatan belum konsisten. Anthony saya lihat jauh lebih konsisten. Tapi, tentu Jonatan terus belajar, dia harus lebih siap lagi. Apalagi dia juara Asian Games, banyak yang mau mengalahkan dia. Jonatan harus mau kerja keras dengan segala yang akan dia hadapi," pesan Susy.

Terlepas dari naik-turun penampilan Jonatan, maupun dari setiap tantangan bagi Anthony untuk membuktikan gelar Super 1000 pertamanya, Susy menilai penampilan skuat PBSI secara keseluruhan sudah menunjukkan peningkatan.

Anthony Sinisuka Ginting juara China Terbuka 2018 usai kalahkan Kento Momota (Jepang). (Foto: Dok. PBSI)

Ada juga Ihsan Maulana Mustofa, yang merangkum momen kebangkitan tunggal putra dengan menjuarai Indonesia Masters 2018 Super 1000. Total, lanjut Susy, sudah 38 gelar baik dari BWF World Tour maupun turnamen lain, yang sudah dikoleksi para atlet kebanggaan PBSI.

"Kami jauh lebih baik, di mana setiap kali PBSI menerapkan target, banyak yang terpenuhi. Tahun 2017, kami mengoleksi 38 gelar juara hingga akhir tahun. Sekarang sampai Asian Games sudah 38 gelar, tersisa tiga bulan (ke akhir tahun). Artinya, peningkatan konsistensi gelar juara terus meningkat, semoga ke depan akan terus meningkat dari semua sektor."

"Kami tentu ingin mengembalikan kejayaan bulu tangkis di semua sektor. Sebelumnya mungkin kita hanya mengandalkan ganda campuran, lalu muncul ganda putra, sekarang mulai tunggal putra. Yang penting ada kerja keras dari setiap sektor untuk menciptakan prestasi," pungkasnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Jumat,24/05/2019
Imsak04:26
Subuh04:36
Magrib17:47
Isya19:00
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23