kumparan
18 Jul 2019 20:32 WIB

Temu Kangen dengan Liliyana Natsir di Indonesia Open 2019

Liliyana Natsir ketika menghadiri sesi wawancara Indonesia Open 2019 di Istora. Foto: Aditia Rizki Nugraha/kumparan
Sejak hari pertama Indonesia Open 2019 berlangsung, kehadiran Liliyana Natsir sudah disadari oleh para penonton yang hadir langsung di Istora Gelora Bung Karno. Begitu juga para pewarta yang membicarakan kemunculan Butet--sapaan akrab Liliayana--di media center.
ADVERTISEMENT
Namun, baru pada hari ketiga turnamen, Kamis (18/7/2019), awak media dan para penonton punya kesempatan untuk ngobrol panjang dengan mantan pasangan Tontowi Ahmad di nomor ganda campuran itu.
Setelah menghadiri sesi meet and greet dengan para penggemarnya di halaman Istora, Butet lantas diarahkan oleh panitia menuju ruangan konferensi pers, tempat yang sudah tak asing ia kunjungi ketika masih aktif sebagai atlet.
Sekitar pukul 17:10 sore WIB, sesi wawancara dengan Butet pun dimulai. Saya dan beberapa pewarta lainnya sempat berkelakar, "Wah, temu kangen, nih, sama Cik Butet." Wajar saja demikian, setelah gantung raket pada Januari lalu, Butet sangat jarang muncul ke hadapan media massa.
Kalimat pertama dari wanita kelahiran Manado 9 September 1985 itu adalah menyoal kesannya terhadap penonton yang hadir langsung ke Istora. Setengah hidupnya dijalani dengan status atlet di arena ini.Namun, kali ini, ia duduk di tribune sebagai suporter ‘Merah Putih’.
ADVERTISEMENT
Liliyana Natsir. Foto: dok. Blibli/ Java PR
“Saya salut sama penonton. Saya baru beberapa jam duduk sudah pegal, pengin banget (wakil Indonesia) menang. Rasanya ternyata begini kalau menjadi penonton. Salut buat para penonton yang hadir langsung,” kata Butet.
“Jadi, penonton ternyata capek juga. Rasanya memang lain karena tahun lalu jadi atlet, sekarang penonton. Yang pasti saya datang untuk support, walaupun enggak main. Saya berharap lahir juara baru di sini untuk menambah kepercayaan diri menuju Olimpiade,” tuturnya.
Indonesia Open sendiri adalah ajang yang melambungkan nama Butet. Tercatat, ada lima gelar dalam kabinet trofinya--yang ia di beberapa nomor pertandingan. Satu kali dengan Vitta Marissa di ganda putri (2008), dua dengan Nova Widianto di ganda campuran (2005, 2007), pun dua gelar dengan Tontowi di ganda campuran (2017, 2018).
ADVERTISEMENT
Berangkat dari torehannya tahun lalu bersama Tontowi, tak pelak muncul ekspektasi publik Tanah Air untuk kembali melihat Indonesia merebut satu gelar di ganda campuran. Akan tetapi, harapan itu menemui jalan terjal karena satu per satu wakil Indoensia berguguran.
Pada babak pertama, Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavanti, yang merupakan unggulan ketujuh turnamen, mesti angkat koper. Kegagalan ini disusul oleh Alfian Eko Prasetya/Marsheilla Gischa Islami, Ronald Alexander/Annisa Saufika, dan Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari.
Ganda campuran teranyar yang gugur adalah unggulan keenam turnamen, Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja, pada babak kedua. Butet mengaku terkejut. Namun, bagi peraih medali emas Olimpiade 2016 itu, kegagalan di Indonesia Open 2019 harus menjadi pelajar berharga untuk para penerusnya.
“Memang agak surprise, ya, tadi. Hafiz/Gloria aturannya punya kans untuk menang. Cuma itulah namanya permainan: Ada kalah, ada menang. Yang paling penting adalah evaluasi kenapa bisa kalah, apa yang harus dilakukan ke depannya,” jelas Butet.
ADVERTISEMENT
Butet juga mengatakan bahwa pemain ganda campuran Indonesia harus punya target mentas di Olimpiade 2020. Untuk sampai ke sana, Butet meminta agar wakil-wakil Tanah Air bisa konsisten berada di empat besar setiap turnamen.
Butet tak asal memberi nasihat. Ia sempat merasakan seret prestasi sebelum gelaran Olimpiade 2016. Menurutnya, masa-masa seret itu menjadi titik baliknya; ia termotivasi untuk bangkit dengan intens melakukan evaluasi bersama Tontowi--yang jadi partnernya saat itu.
Pebulu tangkis Liliyana Natsir melambaikan tangan ke arah suporter saat pesta perpisahannya di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (27/1/2019). Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
“Saya rasa belum terlambat karena tujuannya di Olimpiade. Saya harap pertandingan sekrang ini bisa jadi pengalaman buat mereka walaupun ekspektasinya ganda campuran bisa kasih gelar juara.”
“Saya harap mereka jangan down, jangan kecil hati. Karena saya sering bilang, setahun sebelumnya Olimpiade di Brasil itu saya juga merasakan hal yang sama. Saya agak down karena kalah terus, tapi yang penting di Olimpiade bagaimana persiapannya, karena puncaknya itu.”
ADVERTISEMENT
“Jadi, saya sempat bilang juga ke Praveen/Melati, tidak apa-apa kalian kalah karena dapat pelajaran dari situ. Kalian kalah kenapa, apa yang salah, persiapan kurang, atau komunikasi kurang itu harus dipelajari. Jangan di pertandingan tidak dapat apa-apa, harus evaluasi biar makin lama makin maju,” tegas Butet.
Setelah para pewarta merasa cukup melepas rindu dengan Butet, sesi tanya jawab pun diakhiri. Di sela-sela sesi foto Butet berkelakar kepada mereka yang hadir pada acara dadakan temu kangen itu.
“Tuh, gue yang udah enggak jadi atlet aja masih semangat ‘kan?”
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan