Pencarian populer

Trackback: Jesse Owens, si Pembungkam Arogansi Nazi

Jesse Owens dalam sebuah sesi latihan Foto: Dok. jesseowens.com

Adolf Hitler tidak pernah benar-benar menyukai Olimpiade. Baginya, paham internasionalisme yang terkandung dalam Olimpiade merupakan sebuah konspirasi jahat orang-orang Yahudi dan Freemason untuk mendongkel superioritas ras Arya. Meski demikian, Joseph Goebbels punya pertimbangan lain.

Goebbels adalah salah satu orang kepercayaan Hitler yang punya jabatan penting sebagai menteri propaganda. Pada dasarnya, Goebbels adalah orang yang bertugas untuk menyebarkan paham fasisme lewat medium-medium yang bisa diterima semua kalangan. Film, contohnya. Atau, bisa juga dengan kejuaraan olahraga multiajang seperti Olimpiade.

Singkat kata, Goebbels berhasil meyakinkan Hitler bahwa menggelar Olimpiade akan menguntungkan Nazi Jerman dan ideologi yang mereka anut. Sarana promosi, istilahnya. Lewat ajang itu, Goebbels berharap Jerman bisa menunjukkan kehebatan mereka di depan negara-negara peserta lain. Pada 1931, terpilihlah Berlin sebagai tuan rumah.

Jerman pun kemudian bersolek. Olympiastadion dibangun di ibu kota, berbagai promosi pun dilakukan —termasuk dengan menggelar pawai obor dari Athena. Tak lupa, Jerman juga memodernisasi industri penyiaran mereka sehingga Olimpiade Berlin 1936 nantinya jadi kejuaraan olahraga pertama yang ditayangkan di televisi.

Ribuan kilometer dari hiruk pikuk di Kekaisaran Ketiga, seorang pemuda kulit hitam menggegerkan jagat atletik. Pada 1935, dalam Kejuaraan Atletik Konferensi Big Ten di Ann Arbor, Michigan, Amerika Serikat, Jesse Owens memecahkan tiga dan menyamai satu rekor dunia dalam kurun waktu 45 menit. Puluhan tahun kemudian, majalah Sports Illustrated menyebut keberhasilan Owens itu sebagai '45 Menit Terbaik dalam Olahraga'.

Apa yang dilakukan Owens di Ann Arbor itu semakin menegaskan statusnya sebagai bintang di dunia atletik. Beberapa tahun sebelumnya, kala masih duduk di bangku SMA, dia sudah berhasil menyamai rekor dunia lari 100 meter. Jalan menuju pentas dunia pun terbuka lebar bagi Owens.

Meski demikian, ada sebuah ancaman bagi trajektori karier Owens. Pemerintah Amerika Serikat sadar bahwa Hitler menerapkan kebijakan diskriminatif dengan melarang orang-orang Yahudi ikut serta di Olimpiade. Boikot terhadap Olimpiade 1936 pun dipertimbangkan secara serius.

Usulan boikot datang paling kencang dari Persatuan Atletik Amatir yang diketuai Jeremiah Mahoney. Namun, pada akhirnya, Komite Olimpiade Amerika yang dipimpin Avery Brundage berkata lain. Brundage berpendapat bahwa Olimpiade adalah milik atlet, bukan politisi. Dengan demikian, rencana boikot itu pun gugur.

Satu halangan terlewati, Owens masih harus mendapatkan cobaan lain. NAACP (Asosiasi Nasional untuk Kemajuan Orang Kulit Berwarna) tidak setuju jika ada atlet kulit hitam yang ikut serta dalam Olimpiade tersebut.

Namun, Owens punya pendirian sendiri. Menurut pria kelahiran Alabama tersebut, posisi Amerika Serikat terhadap kebijakan diskriminatif Jerman adalah sebuah hipokrisi.

Sebagai orang kulit hitam dari selatan, Owens tahu betul bagaimana diskriminasi rasial dipraktikkan di Amerika. Baginya, Jerman dan Amerika tidak ada bedanya. Maka, dia pun memilih untuk mempersetankan semuanya. Owens tahu betul kemampuannya sebagai atlet dan dia tidak membiarkan sentimen-sentimen apa pun menghalangi jalannya menuju pentas dunia.

Sampai akhirnya, tibalah Owens di Berlin. Pada 7 Agustus 1936, dalam lomba pertamanya di nomor lari 100 meter, Owens langsung menyabet medali emas. Tak lama berselang, medali emas kedua dari nomor lompat jauh menyusul.

Jesse Owens memenangi nomor lari 100 meter Olimpiade 1936 Foto: AFP

Berikutnya, giliran emas dari nomor lari 200 meter dan lari estafet 4x100 meter yang dikoleksi oleh Owens. Dia pun menjadi atlet Amerika pertama yang berhasil mendapat empat medali emas sekaligus dari cabang atletik sekaligus atlet tersukses di Olimpiade 1936 tersebut.

Keberhasilan Owens di trek atletik Olympiastadion itu melahirkan dua mitos yang bertahan cukup lama. Mitos pertama adalah bagaimana medali emas lompat jauh itu didapat berkat bantuan atlet Jerman, Luz Long. Sementara, mitos kedua adalah keengganan Hitler memberi selamat kepadanya.

Mitos soal bantuan Long itu lahir berkat laporan pandangan mata yang menggambarkan Owens berbincang hangat dengan andalan tuan rumah tersebut. Konon, Long memberi tahu Owens di mana titik tolak terbaik untuk memenangi lomba. Akan tetapi, belakangan Owens sendiri mengakui bahwa bantuan itu tidak pernah ada.

Lalu, mitos soal penolakan Hitler itu akhirnya juga bisa dibantah dengan mudah. Faktanya, Hitler memang tidak memberi selamat kepada semua atlet yang mendapat medali. Bahkan, ada laporan yang menyebutkan bahwa sebenarnya Hitler ikut melambaikan tangan kepada Owens karena terpengaruh kekaguman seisi stadion kepada sang atlet.

Namun, tidak semua kisah tentang keberhasilan Owens itu adalah rekaan belaka. Melejitnya jenama Adidas berkat prestasi Owens adalah salah salah satu kisah yang bisa dipertanggungjawabkan.

Kronologi tentang bagaimana Owens mendapat sepatu Adidas itu memang masih samar-samar. Akan tetapi, bahwa Owens kemudian mendapat kontrak kerja sama dengan Adidas dan bagaimana perusahaan itu jadi sukses karenanya adalah benar.

Sayangnya, kerja sama dengan Adidas inilah yang justru membunuh karier Owens. Sekembalinya ke Amerika, Owens yang sudah tahu nikmatnya menggenggam banyak uang memanfaatkan kebintangannya dengan meneken berbagai kontrak sponsor. Hal ini memicu kemarahan asosiasi atletik yang kemudian mencabut status amatir Owens. Alhasil, Owens pun kesulitan untuk berlaga di kejuaraan-kejuaraan.

Karena Owens kesulitan mendapatkan panggung berlaga, perlahan para sponsor itu pun menarik diri. Akhirnya, untuk menyambung hidup, dia pun terpaksa beralih ke kerja kasar, mulai dari menjadi penjaga pom bensin sampai menjadi pesuruh di sebuah taman bermain. Satu-satunya kesempatan berlaga Owens untuk berlari adalah dengan mengikuti perlombaan-perlombaan tak bergengsi, termasuk adu cepat melawan kuda.

Peruntungan Owens baru mulai membaik pada 1942 ketika seorang mantan kompetitor memberinya pekerjaan di perusahaan mobil Ford. Di sini, Owens mendapatkan penghidupan yang layak. Empat tahun setelah mulai bekerja, Owens berhasil menduduki jabatan direktur personalia.

Kendati begitu, Owens yang ketika masih bocah hampir meninggal karena sakit yang tidak diobati dengan benar itu tidak bisa jauh-jauh dari dunia olahraga. Pada 1946 itu juga Owens keluar dari Ford untuk mempromosikan liga bisbol untuk orang kulit hitam.

Lima tahun kemudian, dia kembali ke Berlin dalam tur dunia Harlem Globetrotters —tim basket hiburan dari New York— dan disambut dengan tangan terbuka oleh Wali Kota Walter Schreiber. Di depan 75 ribu orang yang memadati Olympiastadion, Schreiber berkata pada Owens, "Hitler tak mau menyalamimu. Sekarang, kusambut dirimu dengan dua tangan sekaligus!"

Kembalinya Owens ke dunia olahraga inilah yang membuatnya bangkrut karena uang dari sini memang tidak seberapa. Namun, Owens beruntung karena bangkrut di saat yang tepat.

Jesse Owens di nomor lompat jauh Olimpiade 1936. Foto: CORR / HO / AFP

Pada 1966, Amerika Serikat sudah berubah. Rasialisme memang masih terasa, tetapi intensitasnya tak seperti dulu. Owens pun mendapat bantuan dengan diangkat sebagai duta itikad baik pemerintah. Dalam kapasitas ini Owens dikirim ke berbagai belahan dunia untuk berbicara atas nama pemerintah.

Salah satu misi Owens sebagai duta ini adalah menjadi tamu kehormatan di Olimpiade Muenchen 1972. Beberapa bulan sebelum wafat, Owens juga masih terlibat di dunia olahraga dengan meyakinkan Presiden AS Jimmy Carter untuk tak memboikot Olimpiade Moskow 1980. Upaya Owens itu gagal dan itu adalah poin penting yang ditorehkannya dalam sejarah olahraga.

Owens meninggal pada 31 Maret 1980 setelah berjuang mengatasi kanker paru-paru. Owens adalah perokok berat yang bisa menghabiskan satu pak dalam sehari. Selama 35 tahun dia mengisap rokok nyaris tanpa henti. Walau begitu, Owens akhirnya tutup usia dengan damai, ditemani oleh orang-orang terkasihnya.

Owens meninggal di Tucson, Arizona, tetapi kemudian dimakamkan di Chicago, Illinois. Meski menolak permintaan Owens untuk tak memboikot Olimpiade Moskow, Presiden Carter tetap memberinya penghormatan khusus dengan berkata, "Barangkali, tidak ada atlet lain yang melambangkan perjuangan manusia melawan tirani, kemiskinan, dan kebebalan para bigot selain dirinya."

Jesse Owens jadi yang terbaik di nomor lompat jauh Olimpiade 1936. Foto: AFP.

Hampir empat dekade sudah Owens berpulang. Akan tetapi, perjuangan yang dia upayakan dulu masih belum selesai. Owens memang sempat dikritik lantaran meremehkan 'Black Power Salute' yang dilakukan oleh Tommie Smith dan John Carlos di Olimpiade 1968.

Akan tetapi, pada 1972 lewat buku 'I Have Changed', Owens meralat ucapannya sendiri. Owens awalnya berpendapat bahwa 'Black Power Salute' yang disimbolkan dengan kepalan tangan itu merupakan upaya sia-sia. Menurutnya, kepalan tangan itu baru berarti jika ada segenggam uang di dalamnya.

Akan tetapi, Owens kemudian menyadari kesalahannya dengan berkata bahwa militansi adalah jawaban satu-satunya atas penindasan. Di akhir cerita, prinsip inilah yang tetap teguh dipegang oleh James Cleveland 'Jesse' Owens.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.32