Pencarian populer

Trackback: Madison Square Garden Terlalu Agung untuk New York Knicks

Madison Square Garden ketika mementaskan laga NBA. Foto: Wikimedia Commons

Madison Square Garden adalah berkat sekaligus kutukan. Setidaknya, begitulah situasinya untuk New York Knicks.

Musim reguler NBA 2018/19 sudah selesai tengah pekan lalu dan kini babak play-off pun sudah dimainkan. Dari 41 pertandingan reguler musim ini Knicks hanya mampu menang 9 kali di Madison Square Garden, di tempat yang berjuluk 'Mecca of Basketball' itu.

Buruknya rekor kandang itu cuma bisa disamai Chicago Bulls yang begitu loyo di United Center. Namun, karena rekor tandang Bulls terhitung cukup baik untuk ukuran tim papan bawah (13-28), maka Bulls tidak harus terbenam di dasar klasemen Wilayah Timur seperti Knicks.

Situasi ini sebenarnya bisa dijelaskan dengan pemaparan sederhana. Skuat Knicks memang tidak cukup bagus untuk menjadi penantang serius di NBA musim ini. Trade pertengahan musim yang mereka lakukan, dengan mengirim Kristaps Porzingis ke Dallas Mavericks dan menerima Dennis Smith Jr. serta DeAndre Jordan sebagai gantinya, tidak banyak membantu peruntungan mereka.

Namun, buruknya rekor kandang Knicks itu nyatanya bukan catatan eksklusif musim 2018/19. Berdasarkan data Basketball Reference, Knicks sudah memainkan 5.721 pertandingan kandang sejak didirikan 73 tahun silam. Dari sana, mereka cuma punya persentase kemenangan 48,6 persen dengan rincian 2.778 kali menang dan 2.943 kali kalah. Dengan kata lain, Knicks sebenarnya tidak terlalu nyaman jika bermain di Madison Square Garden.

Kurang impresifnya catatan kandang Knicks itu sebenarnya cukup aneh kalau dipikir-pikir. Pasalnya, arena itu rata-rata dihadiri 19 ribu penonton (terbaik keenam di NBA) setiap kali Knicks bermain. Para suporter di sana pun dikenal berisik saat memberikan dukungan untuk juara NBA dua kali tersebut. Akan tetapi, itu semua nyatanya tidak cukup untuk memberi dorongan signifikan untuk Knicks.

Meriahnya laga kandang itu adalah berkat bagi Knicks. Di sisi lain, ada kutukan bernama reputasi Madison Square Garden yang merugikan tim. Reputasi itulah yang membuat pemain-pemain dari tim tandang bermain dua kali lebih bagus ketika berlaga di arena legendaris tersebut.

Pertandingan NBA antara Detroit Pistons vs New York Knicks Foto: Adam Hunger-USA TODAY Sports

Ketika kita bicara soal Madison Square Garden, sebenarnya kita sedang berbicara soal Madison Square Garden keempat yang pernah dibangun. Madison Square Garden yang ada di pusat kota New York saat ini baru berdiri pada 1968 silam. Padahal, sejarah mencatat bahwa Madison Square Garden sudah eksis sejak 1879.

Madison Square Garden pertama yang dibangun pada 1879 dan Madison Square Garden kedua yang dibangun pada 1890 benar-benar terletak di daerah bernama Madison Square. Awalnya, Madison Square Garden didirikan untuk rombongan sirkus milik P. T. Barnum. Hanya bertahan sebelas tahun, arena ini diruntuhkan karena tidak bisa memberikan kenyamanan pada para penonton di cuaca buruk.

Arena kedua yang dibangun bertahan cukup lama, yaitu 35 tahun. Namun, Madison Square Garden II ini akhirnya harus menyerah pada keadaan. Karena dianggap tidak menguntungkan secara finansial, arena ini pun dirubuhkan. Saat ini, di tempat bekas Madison Square Garden II itu terdapat markas perusahaan asuransi New York Life yang telah tercatat sebagai bangunan bersejarah New York City.

Knicks, yang baru dibentuk pada 1946, langsung berkandang di inkarnasi ketiga Madison Square Garden. Sebelum menjadi kandang Knicks, arena yang didirikan pada 1925 ini sudah lebih dulu menggelar pertandingan National Hockey League. Dua tim NHL, New York Americans dan New York Rangers, sudah bermain di sana sejak arena ini pertama kali dibangun.

Dua puluh dua tahun lamanya Knicks bermain di Madison Square III. Lagi-lagi, arena tersebut diruntuhkan untuk digantikan Madison Square Garden yang baru.

Pada 14 April 1968, Knicks untuk pertama kalinya memainkan pertandingan NBA di Madison Square Garden IV. Lawan mereka kala itu adalah San Diego (sekarang Houston) Rockets. Dalam pertandingan kandang perdana tersebut Knicks berhasil memetik kemenangan 114-102.

Pertandingan itu sendiri digelar di tengah-tengah musim reguler. Sebelumnya, Knicks masih bermain di Madison Square Garden III. Dalam pertandingan melawan Rockets tersebut Knicks dipimpin oleh Willis Reed dan Walt Frazier yang sama-sama mencatatkan double-double. Di akhir musim reguler, mereka berhasil menembus play-off tetapi akhirnya dihentikan oleh Philadelphia 76ers.

Madison Square Garden ketika tidak sedang menghelat event apa pun. Foto: Wikimedia Commons.

Masa-masa awal Knicks di Madison Square Garden sebenarnya begitu menyenangkan karena mereka sukses menyabet dua gelar NBA, yaitu pada musim 1970 dan 1973. Namun, setelah itu mereka tak mampu lagi mengulangi prestasi itu. Capaian terbaik Knicks sejak itu adalah kala menembus final NBA 1999. Namun, pada partai puncak mereka harus berhadapan dengan San Antonio Spurs yang sedang memulai masa keemasan di bawah Gregg Popovich.

Seri final 1999 itu menjadi bukti lain betapa lemahnya Knicks di kandang. Setelah kalah dua kali di San Antonio, Knicks menjamu Spurs mulai seri ketiga sampai kelima. Pada seri ketiga Knicks sebenarnya mampu meraih kemenangan. Akan tetapi, pada dua seri berikutnya mereka selalu kalah. Spurs yang datang jauh-jauh dari Texas berhasil menunjukkan kemampuan terbaik mereka di Arena Termasyhur di Dunia.

Berkandang di 'Mecca of Basketball' rupanya sama sekali tidak memberi keuntungan bagi Knicks karena Madison Square Garden pada dasarnya bukan milik Knicks atau Rangers semata. Madison Square Garden adalah tempat lahirnya momen-momen legendaris olahraga dan hiburan Amerika Serikat.

Di sanalah Muhammad Ali pernah menegaskan dominasinya di dunia tinju. Di sana pulalah John F. Kennedy mendapat hadiah ulang tahun berupa lagu Happy Birthday dari Marilyn Monroe. Meski dua kejadian itu terjadi di dua Madison Square Garden yang berbeda, Madison Square Garden tetaplah Madison Square Garden. Ia lebih besar dari bangunan fisik yang menggunakan namanya. Yang menjadikan Madison Square Garden arena termasyhur di dunia bukan di mana ia berada, tetapi apa yang terjadi di dalamnya.

Kebesaran Madison Square Garden itulah yang kemudian menyulitkan Knicks. Pada dasarnya, arena itu lebih besar ketimbang Knicks sendiri. Arena itu adalah arena milik orang Amerika dan tak heran jika para tamu berlomba-lomba tampil lebih baik dibanding tuan rumah setiap kali berlaga di Madison Square Garden.

Guard Denver Nuggets, Jamal Murray, saat menghadapi New York Knicks. Foto: Isaiah J. Downing-USA TODAY Sports via Reuters

Sudah lebih dari lima dekade berlalu sejak Knicks memainkan laga pertamanya di Madison Square Garden IV dan mereka belum bisa mengulangi prestasi cemerlang pada masa-masa awal. Meski begitu, Knicks saat ini punya kans untuk mengubah peruntungannya. Dengan finis di urutan terbawah Wilayah Timur, Knicks punya kesempatan mendapatkan pemain terbaik di NBA Draft mendatang.

Knicks pernah membangun kejayaan dengan cara seperti itu sebelumnya. Kedatangan Patrick Ewing pada 1985 lewat NBA Draft mengubah peruntungan Knicks dalam tahun-tahun ke depannya. Ewing sendiri bakal jadi wakil Knicks di NBA Draft musim depan. Akankah itu menjadi titik balik Knicks? Akankah di kemudian hari para penonton Madison Square Garden kembali mendapat tontonan yang layak? Mari kita tunggu.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.33