Pencarian populer

Trackback: Olimpiade Modern Genap Berusia 123 Tahun

Balap lari di Olimpiade Athena 1896. Foto: IOC

Hari ini, 123 tahun lalu, Olimpiade modern pertama mulai digelar di Athena, Yunani. Tidaklah sukar dipercaya jika kejuaraan multiajang antarnegara tersebut jauh berbeda dengan Olimpiade yang sekarang dikenal banyak orang.

Olimpiade sebenarnya bukan temuan manusia modern. Jauh sebelum Olimpiade Athena 1896 digelar, peradaban Yunani Kuno sudah menggelar ajang olahraga multiajang, juga dengan nama Olimpiade. Maka dari itu, rangkaian Olimpiade yang dimulai di Athena itu disebut sebagai Olimpiade modern untuk membedakannya dengan Olimpiade milik orang-orang Yunani Kuno tadi.

Ada beberapa versi asal mula Olimpiade. Ada yang menceritakan bahwa Olimpiade awalnya bukan perlombaan olahraga, melainkan sebuah festival. Ada pula kisah yang menceritakan bagaimana perlombaan lari antara Heracles dan empat saudaranya jadi permulaan segalanya. Namun, satu hal yang tidak pernah absen adalah keberadaan sosok Zeus.

Zeus adalah dewa tertinggi dalam mitologi Yunani. Dia, bersama dewa dan dewi lainnya, tinggal di sebuah gunung bernama Olimpus. Olimpiade kuno pun digelar di sebuah kota bernama Olympia. Pada masa itu, olahraga yang paling bergengsi adalah balap lari bernama 'balap stadion'. Yakni, sebuah balap lari di lintasan sepanjang 190 meter.

Olimpiade kuno ini digelar dari 776 SM sampai 393. Lebih dari 1,5 milenium kemudian, ia baru dibangkitkan kembali.

Ide brilian untuk membangkitkan Olimpiade ini muncul dari kepala seorang Prancis bernama Baron Pierre de Coubertin. Pada 1894, De Coubertin menggelar sebuah konferensi di Paris untuk membentuk Komite Olimpiade Internasional. Dalam konferensi itu pula disepakati bahwa Olimpiade modern akan digelar pertama kali di Athena untuk alasan historis.

Pada 6 April 1896, pesta pembukaan Olimpiade digelar di Stadion Panathinaikos. Bagi Yunani yang kala itu masih berbentuk kerajaan, Olimpiade ini merupakan salah satu tonggak terpenting dalam sejarah mereka. Pasalnya, kejuaraan multiajang ini digelar hanya dua pekan setelah perayaan kemerdekaan mereka yang ke-75.

Yunani sebelumnya merupakan bagian dari Kesultanan Turki Usmani. Pada 1821 mereka mendeklarasikan kemerdekaannya. Meskipun kemerdekaan itu baru diakui pada 1830, orang-orang Yunani tetap menganggap 25 Maret 1821 sebagai hari kemerdekaan mereka.

Baron Pierre de Coubertin (duduk, dua dari kiri) bersama anggota Komite Olimpiade Internasional di Olimpiade 1896. Foto: AFP/Stringer

Dari kemerdekaan itu pulalah Stadion Panathinaikos akhirnya ditemukan kembali. Stadion itu sebenarnya sudah eksis sejak abad ketiga sebelum Masehi. Namun, menyusul runtuhnya peradaban Yunani Kuno, stadion tersebut sempat hilang dan terkubur. Pada 1869 penggalian dilakukan dan setahun kemudian ia digunakan kembali untuk menggelar perlombaan bertajuk Olimpiade Zappas.

Pesta pembukaan Olimpiade 1896 digelar di Stadion Panathinaikos oleh Raja George I. Ketika itu sekitar 80 ribu orang memadati arena. Dalam pesta pembukaan tersebut beberapa tradisi Olimpiade seperti pelantunan Himne Olimpiade dan defile atlet diperkenalkan. Meski demikian, kala itu motto Olimpiade Altius, Fortius, Citius serta logo lima cincin yang bertautan belum lahir.

Olimpiade 1896 itu sendiri diikuti oleh 241 atlet dari 14 negara. Para atlet itu berlaga di sembilan cabang olahraga yang terbagi menjadi 43 nomor. Atletik jadi cabor dengan nomor pertandingan terbanyak, yaitu 12. Sebenarnya, ada satu cabor lain yang sedianya bakal dipertandingan, yaitu layar, tetapi kemudian dibatalkan karena ketidaktersediaan sarana.

Dari 241 atlet tersebut, semuanya adalah laki-laki karena perempuan baru diikutsertakan di Olimpiade pada edisi 1900 di Paris. Selain itu, hal menarik dari situ adalah perdebatan soal 14 negara yang ikut serta. Secara resmi, Komite Olimpiade Internasional mencatat ada 14 negara yang ikut. Akan tetapi, sebenarnya cuma ada 12 negara yang hadir.

Perbedaan jumlah itu bisa terjadi lantaran keberadaan Australia serta Kekaisaran Austria-Hongaria. Australia saat itu masih merupakan bagian dari Inggris, tetapi memiliki Komite Olimpiade sendiri. Sementara, Austria-Hongaria yang masih jadi satu negara memiliki dua Komite Olimpiade terpisah. Itulah mengapa, Komite Olimpiade Internasional menghitung ada 14 negara di sana karena ada 14 Komite Olimpiade yang mengajukan wakilnya.

Pada Olimpiade 1896 tersebut hanya ada satu olahraga permainan yang dipertandingkan, yaitu tenis. Sementara, olahraga-olahraga lainnya lebih bersifat olahraga murni. Selain atletik, ada pula balap sepeda, anggar, senam, menembak, renang, angkat berat, serta gulat.

Di akhir cerita, tuan rumah Yunani jadi negara tersukses dengan torehan 46 medali. Meski begitu, Amerika Serikat-lah yang paling banyak mengumpulkan 'medali emas'. Menariknya, 'medali emas' di Olimpiade 1896 ini bukanlah medali emas seperti sekarang. Waktu itu para pemenang justru mendapat medali perak, sementara juara kedua diberi medali kuningan dan juara ketiga tak mendapat apa-apa. Belakangan, aturan ini diubah oleh Komite Olimpiade Internasional.

Balap lari di Olimpiade Athena 1896. Foto: IOC

Dari 46 medali yang diperoleh Yunani tersebut, salah satunya didapatkan oleh pelari maraton Spyridon Louis. Pelari kelahiran 1873 itu mendapat medali emas yang sekaligus merupakan medali pertama di Olimpiade 1896. Akan tetapi, Louis bisa dikatakan beruntung karena atlet maraton terhebat saat itu, Carlo Arioldi, tidak diperkenankan ikut.

Arioldi tidak dibolehkan berlomba di Olimpiade karena saat itu dia dianggap sebagai atlet profesional. Padahal, perjuangan Arioldi menuju Athena sangatlah berat. Karena tak punya uang, Arioldi menjalin kerja sama dengan majalah La Bicicletta. Dalam perjanjian itu Arioldi menyanggupi tantangan untuk berjalan dari Italia ke Yunani.

Per harinya, pria yang wafat di Milan pada 1929 itu harus menempuh jarak 70 km. Arioldi akhirnya tiba di Athena, tetapi karena pernah menerima uang hadiah dalam lomba maraton Milan-Barcelona, dia dianggap sudah menjadi atlet profesional. Komite Olimpiade Italia sudah berupaya menyelamatkan nasib atletnya dengan mengirim telegram tetapi pihak penyelenggara bergeming.

Arioldi tidak terima. Setelah mengetahui bahwa Louis memenangi maraton, dia mengajukan tantangan untuk tanding ulang. Namun, tantangan Arioldi itu tidak digubris Louis yang kemudian menjadi pahlawan nasional.

Selain kisah Arioldi dan Louis, kisah menarik lainnya datang dari pegulat, pesenam, sekaligus lifter Jerman, Carl Schumann. Schumann tak cuma berkompetisi di tiga cabor sekaligus tetapi juga mampu mendapatkan empat medali emas di dua cabang: senam dan gulat. Schumann mendapat tiga emas dari senam dan satu emas dari gulat. Sementara, untuk angkat berat, dia 'hanya' mampu menempati urutan keempat.

Adapun, pada Olimpiade Athena 1896 itu hampir semua cabang olahraga dipertandingkan di Stadion Panathinaikos tadi, kecuali untuk beberapa cabang tertentu seperti balap sepeda, anggar, dan tenis. Balap sepeda dihelat di Velodrome Neo Phaliron, anggar digelar di Aula Zappeion, dan tenis dipertandingkan di Klub Tenis Athena.

Lebih dari seabad setelah pertama kali digelar, Olimpiade modern sudah jauh berkembang. Olimpiade Rio de Janeiro 2016 lalu, misalnya, diikuti 11 ribu lebih atlet dari 207 negara yang bertanding di 28 cabang olahraga berbeda. Tempat penyelenggaraan pun makin bervariasi. Rio de Janeiro, contohnya, merupakan kota Amerika Selatan pertama yang dipercaya menggelar ajang ini.

Lalu, jangan lupakan pula keberadaan Olimpiade Musim Dingin. Pada 1924 Olimpiade Musim Dingin pertama dilangsungkan di Chamonix, Prancis. Total, Olimpiade Musim Dingin sudah digelar sebanyak 23 kali. Terakhir, ajang ini dihelat di PyeongChang, Korea Selatan, pada 2018 lalu.

Bicara soal perkembangan Olimpiade, Indonesia pun tidak mau kalah. Setelah sukses menggelar Asian Games 2018, pemerintah RI menaikkan ambisinya di bidang olahraga dengan mengajukan diri jadi tuan rumah Olimpiade 2032. Sejauh ini, selain Indonesia, ada 16 negara lain yang sudah mengajukan diri, termasuk Malaysia dan Singapura.

Hari ini, 123 tahun lalu, Olimpiade modern pertama mulai digelar di Athena. Berbagai perkembangan yang telah terjadi di dalamnya merupakan bukti bahwa peradaban manusia terus dan akan selalu berevolusi.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.33