Pencarian populer

Ultimo Hombre: Memperkenalkan eSports, Melawan Stigma

Geliat eSports Indonesia. (Foto: M. Faisal/kumparan)

Pantas atau tidaknya eSports untuk diakui sebagai olahraga menjadi perdebatan yang seolah tidak ada habisnya. Namun, lewat keberhasilannya menjadi cabang olahraga (cabor) ekshibisi Asian Games 2018, eSports menancapkan identitasnya sebagai olahraga.

Memang, tidak semua game dapat dikategorikan sebagai eSports. Akan tetapi, kehadiran eSports di ajang sebesar Asian Games, kian memperlancar upaya para pelakunya untuk menegaskan identitas yang sebenarnya melekat di dalam eSports itu sendiri.

Ultimo Hombre menjadi salah satu entitas yang begitu giat dan gigih untuk mengakrabkan publik dengan eSports. Kelahiran perusahaan asal Inggris ini dibidani oleh satu keresahan menyoal eksklusivitas eSports itu sendiri.

Gustav Wood dan Benjamin Husted, dua pendiri Ultimo Hombre, bercerita kepada kumparanSPORT tentang apa yang kerap mereka lihat di kompetisi-kompetisi game profesional.

Kata mereka, ada jurang yang lebar antara gamer profesional dan amatir. Jurang ini terlihat jelas dari situasi kompetisi itu sendiri. Para profesional bermain di atas panggung, sementara para penonton yang sebagian besar merupakan pencinta game, hanya bisa menyaksikan dari kejauhan, tanpa kesempatan untuk terlibat langsung.

Risti Brophy (kanan) dan Benjamin Husted, perwakilan Ultimo Hombre. (Foto: Aditia Rizki Nugraha/kumparan)

Kondisi yang dipandang lazim ini lamat-lamat menjadi senjata makan tuan. Eksklusivitas macam ini menjadikan eSports sebagai objek yang tak tersentuh publik. Hanya mereka yang berstatus sebagai profesional yang dapat berkecimpung di dalamnya. Jadi, wajar bila ada begitu banyak orang yang menolak untuk mengakui game sebagai olahraga.

Ultimo Hombre lahir dan hidup dengan satu misi untuk menjembatani gamer profesional dan amatir. Lewat turnamen-turnamen yang digelar, Ultimo Hombre ingin menegaskan bahwa para gamer amatir pun punya kesempatan untuk masuk ke level yang lebih tinggi dan menjadi profesional.

Misi yang diemban tak sekadar memperkenalkan eSports serta menjembatani gamer profesional dan amatir, tapi juga mengubah stigma negatif yang terlanjur melekat pada game itu sendiri. Kebanyakan, orang-orang memandang bermain game sebagai aktivitas kontra-produktif, buang-buang waktu dan tak berguna.

Lantas, lewat rangkaian kompetisi resmi yang digelar, Ultimo Hombre ingin membantu orang-orang untuk melihat sendiri sebesar dan seunik apa kesempatan karier yang bisa diraih dengan bermain game.

Komitmen untuk mengusung misi ini pada akhirnya mengantarkan Ultimo Hombre ke Indonesia. Lewat turnamen bertajuk Ultimo Hombre Axis Pyramid League 2018 yang digelar pada 10-11 Agustus 2018 di The Hall Senayan City, Jakarta, Ultimo Hombre membukakan pintu kepada para gamer dan publik Indonesia untuk mengenal serta memahami eSports secara dekat dan mendalam.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Rabu,22/05/2019
Imsak04:25
Subuh04:35
Magrib17:47
Isya19:00
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.22