Pencarian populer

7 Faktor yang Tingkatkan Risiko Kanker Ovarium

Ovarium (Foto: Dok. Thinkstock)

Meski jarang terdengar gaungnya, kanker ovarium merupakan penyakit mematikan yang mengintai kaum hawa. Kanker ovarium menyerang indung telur yang terletak di rongga panggul perempuan.

Studi yang dilakukan American Cancer Society pada 2018 mengungkapkan kanker ovarium menempati urutan kelima sebagai pembunuh perempuan. Satu dari 78 perempuan di dunia berpotensi terkena kanker ovarium.

Dan hingga Juli 2018, sebanyak 22.240 perempuan positif terdiagnosa penyakit ini. Kanker ovarium mayoritas menyerang perempuan berusia lanjut. Tepatnya di atas 63 tahun.

Yang membuat kanker ovarium jadi mematikan adalah sifatnya yang menyerang dalam diam. Sama sekali tak ada gejala spesifik, sehingga sulit untuk dideteksi. Berbeda dengan kanker payudara yang bisa dideteksi lewat mamografi atau screening test.

Ovarium (Foto: Pixabay)

Namun, ciri umum yang kerap diidentikkan dengan kanker ovarium adalah perut yang kembung secara terus-menerus, sakit saat berhubungan seksual, bobot tubuh yang merosot, perut buncit, hingga sering buang air kecil.

Ada banyak faktor yang dipercaya jadi pemicu kanker ovarium. Seperti gaya hidup (merokok dan alkohol) dan faktor genetik atau keturunan.

Lantas, apa saja yang berpotensi meningkatkan risiko kanker ovarium pada perempuan? Berikut rangkumannya seperti dilansir American Cancer Society.

1. Usia

Makin lanjut usia Anda, makin tinggi pula risiko terkena kanker ovarium. Kanker jenis ini jarang menyerang perempuan di bawah 40 tahun, karena cenderung terjadi setelah menopause.

2. Obesitas

Obesitas terkenal sebagai 'sarang penyakit'. Perempuan dengan Body Mass Index (BMI) lebih dari 30 dijelaskan rentan terkena kanker ovarium.

3. Melahirkan di usia lanjut

Dalam hal ini, perempuan yang mengandung dan melahirkan setelah usia 35 tahun rentan terkena kanker ovarium. Begitu pula dengan perempuan yang justru tidak pernah hamil sama sekali.

4. Terapi hormon pasca menopause

Perempuan yang mengkonsumsi pil estrogen atau menjalani terapi estrogen (Esterogen Hormone Replacement Therapy) setelah menopause riskan terkena kanker ovarium. Khususnya jika dikonsumsi dan dilakukan dalam jangka waktu lama.

Ilustrasi kemoterapi (Foto: Thinkstock)

5. Keturunan

Faktor genetik atau keturunan memegang peranan besar. Perempuan yang memiliki gen BRCA1 dan BRCA2 berisiko tinggi terkena kanker ovarium. Hal yang sama berlaku jika Anda punya garis keturunan kanker.

6. Menstruasi dini

Jika Anda menstruasi terlalu cepat, risiko kanker ovarium cenderung lebih tinggi. Jadi, Anda yang haid sebelum usia 12 tahun harus rajin melakukan kontrol kepada dokter kandungan terpercaya.

7. Rokok dan alkohol

Sudah bukan rahasia lagi bahwa rokok dan alkohol jadi sumber segala penyakit, tak terkecuali kanker ovarium. Jika ingin tetap sehat dan terhindar dari kanker ovarium, sebaiknya jauhi rokok dans segala jenis minuman beralkohol.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.55