Pencarian populer

Berkenalan dengan Aktivis dan Konsultan Gender, Tunggal Pawestri

Konsultan dan Aktivis Perempuan, Tunggal Pawestri. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Nama Tunggal Pawestri sering terdengar dalam perbincangan soal wacana aktivisme perempuan, politik, isu kesetaraan gender, dan keberagaman gender.

Perempuan kelahiran 26 Januari 1976 ini memang kerap melibatkan diri di berbagai wacana-wacana yang menjadi perhatiannya, yaitu wacana gender.

Mungkin belum luput dari ingatan, ketika kehebohan di internet mengenai petisi “Hentikan Iklan BlackPink Shopee!!” ramai diperbincangkan. Petisi ini berisi protes yang dilayangkan oleh Maimon Herawati, salah satu staf pengajar Universitas Padjadjaran. Maimon membuat petisi di situs change.org, supaya KPI menurunkan iklan 'Road To 12.12' oleh Shopee, yang dibintangi oleh Blackpink. Alasannya, karena pakaian Blackpink dinilai tidak sesuai dengan budaya Indonesia dan dapat 'membahayakan generasi selanjutnya'.

Menariknya petisi tersebut pun mendulang banyak dukungan, terlihat dari banyaknya orang yang turut menandatangani petisi tersebut. Tapi ada juga yang melawan petisi ini yaitu seorang aktivis perempuan, Tunggal Pawestri. Pertentangan tersebut dicuitkan melalui akun twitter, @tunggalp.

“Saya suka jalan – jalan ke mall pakai celana pendek. Semoga tidak ada petisi yang meminta mall melarang celana pendek dan atau petisi yang meminta Pemda mengatur apa yang bisa atau tidak dipakai perempuan di ruang publik. Ini gak bisa dibiarkan. Maaf, Saya bakal lawan!”. -tulis Tunggal Pawestri dalam cuitannya di Twitter.

Cuitan inilah yang mengawali adanya tagar #TeamMbakTunggal. Kelompok tagar ini melawan petisi Blackpink yang dilontarkan Maimon Herawati yang dianggap membatasi perempuan dalam berekspresi melalui caranya berpakaian. Secara berbondong-bondong netizen di Twitter pun ikut bersuara dengan menyertakan tagar tersebut.

Ya, sosok Tunggal Pawestri memang dikenal cukup vokal dalam merespon isu-isu perempuan. Ia berada di garis depan saat kaum yang termajinalkan diusik haknya, bahkan ia tak segan bersuara lantang untuk menyerukan hak-hak perempuan melalui riset dan kritik yang ia lakukan. Aktivisme sosial telah menjadi kesehariannya, telah bergulir sejak 20 tahun lamanya, tepatnya saat Presiden Soeharto mulai lengser dari jabatannya.

Melalui media sosial, ia memaksimalkan upaya untuk menyebarluaskan isu-isu kesetaraan gender dan budaya melawan seksisme.

Beberapa waktu lalu kumparan pun berkesempatan berbincang dengan Tunggal Pawestri. Di tengah kesibukannya bekerja melakukan riset, kami berbicara mengenai bagaimana dirinya berproses dan konsisten bergerak di dunia aktivisme sosial.

Konsultan dan Aktivis Perempuan, Tunggal Pawestri. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Sejak tahun 90-an Anda telah aktif di dunia aktivisme sosial dan kemanusiaan. Bisa diceritakan bagaimana perjalanan Anda dalam menyelami dunia aktivisme hingga saat ini?

Saya masuk dalam satu gerbong bagian dari gerakan mahasiswa tahun 1998. Meskipun tidak terlalu aktif dan punya peran leading, tapi mayoritas mahasiswa memiliki andil dalam gelombang aksi tersebut.

Terlibat dalam suasana politik pada saat itu membuat saya dan beberapa teman perempuan berpikir, banyak lho, perempuan-perempuan yang terlibat aktivisme seperti ini, tapi kenapa ya kita sebagai perempuan tidak bisa leading di paling depan ya?

Nah, pertanyaan tersebut terus tersemat di dalam hati dan seiring berjalannya waktu, saya mulai kenal akrab dengan aktivis lainnya. Tahun 98- 99 kan euforia terkait reformasi sangat kental, saya juga punya ketertarikan dengan isu politik, jadi ingin punya keterlibatan juga dalam demokrasi. Akhirnya saya memutuskan masuk Partai Rakyat Demokratik (PRD). Organisasi ini terkenal dengan basis anak muda yang radikal, punya cara pandang baru dalam melihat banyak hal, intinya penggagas demokrasi-lah. Akhirnya saya melibatkan diri di situ, ditempa dengan berbagai pengetahuan dan ilmu dan cara pandang baru untuk melihat persoalan atau fenomena sosial termasuk melihat persoalan perempuan.

Di PRD banyak juga ngobrol juga dengan aktivis perempuan lainnya, di sana kami juga menggodok gimana cara memaksimalkan keterlibatan perempuan dalam politik. Tapi kemudian karena kuliah, dan kerja juga, mulai jadi tidak terlalu aktif lagi di partai. Namun saya tetap masuk ke pekerjaan-pekerjaan riset yang bersinggungan dengan kelompok masyarakat yang termajinalkan khususnya perempuan. Dari situ saya semakin menyelami isu-isu yang berkaitan dengan perempuan.

Bagaimana Anda memaknai profesi Anda sebagai seorang aktivis perempuan?

Bicara tentang aktivisme sebagai profesi? Bagi saya itu bukan profesi ya, melainkan suatu panggilan hati, karena kebetulan pada akhirnya saya juga bekerja di salah satu lembaga pembangunan internasional atau NGO bernama HIVOS. Saya bekerja tidak hanya untuk Indonesia saja tapi juga untuk wilayah Asia Tenggara, seperti Filipina dan Timor Leste. Pekerjaan saya saat ini tidak terlepas dari track record saya sebelumnya yang memang sudah sering berkutat di isu gender. Di Hivos sendiri saya dipercaya sebagai program development manager yang menangani isu seputar pemberdayaan perempuan dan hak hak-hak seksual serta keberagaman gender.

Jadi jika ditanya, pekerjaan atau profesi saya adalah sebagai seorang konsultan untuk isu gender. Tapi lainnya halnya dengan aktivisme, itu lebih ke sebuah panggilan hati untuk melayani kalangan perempuan-perempuan yang membutuhkan. Sesimple seperti beberapa perempuan muda yang cerita ke saya karena mereka mendapat ancaman, atau mereka yang diperkosa oleh pacarnya dan dipaksa berhubungan intim, mereka bingung dan tidak tahu harus kemana. Atau seorang perempuan yang bekerja di suatu perusahaan dan dilecehkan setiap hari oleh atasannya. Cerita-cerita tersebut sering saya terima melalui direct message Twitter. Itulah salah satu bentuk aktivisme saya dengan mencoba melakukan pelayanan membantu teman-teman perempuan untuk menghadapi situasi tersebut.

Dari fenomena tersebut saya juga menarik hal yang unik, ternyata masih banyak teman-teman perempuan di luar sana yang bisa dikatakan tidak punya peer atau support group yang cukup untuk diajak berdiskusi hingga ahirnya mereka bertanya ke orang yang tidak terlalu dia kenal, tapi mungkin karena aktif di sosial media jadi berani speak up pada saya.

Memilih jalan hidup sebagai seorang aktivis perempuan atau pegiat sosial bukanlah suatu pilihan yang umum bagi kebanyakan perempuan. Bagaimana keluarga atau orang sekitar menyikapi ini? Apa bentuk support yang Anda dapat dari keluarga dan orang-orang terdekat?

Kebetulan saya tinggal di lingkungan yang semuanya saling suportif untuk aktivisme yang saya lakukan. Terutama teman-teman ya, dan saya sudah bekerja di isu ini selama puluhan tahun, jadi saya tahu betul saluran-saluran mana atau jejaring yang bisa saling memberi bantuan dan saling dukung.

Dan selama ini tidak ada hambatan besar dari lingkungan sekitar, karena orang-orang di sekitar saya suportif.

Sebagai seorang aktivis perempuan dan konsultan gender, apa saja tantangan yang Anda hadapi dalam menjalankan pekerjaan Anda?

Mungkin soal stereotip sendiri ya. Reaksi awal orang-orang awam saat mengetahui saya bekerja di LSM internasional sering diliputi dengan pertanyaan seperti ini, “Memang itu adalah sebuah pekerjaan?” “Apakah ada gajinya?”.

Selanjutnya stereotip soal perempuan sendiri. Pekerjaan sebagai konsultan gender menuntut saya untuk sering melakukan riset lapangan ke berbagai daerah. Hal ini membuat saya sering bepergian sendiri ke daerah-daerah pelosok Indonesia, Timor Leste dan Filipina.

Dari tempat yang saya kunjungi tersebut, saya selalu mendapat respon yang sama dari warga sekitar. Mereka selalu menunjukkan keheranannya ketika melihat ada perempuan dewasa yang melakukan perjalanan jarak jauh seorang diri. Jadi pertanyaan-pertanyaan seperti “Apakah Anda berkunjung sendiri?”, “Pergi jauh-jauh tidak sama pasangannya kah?” itu seringkali muncul.

Hal tersebut tentu menjadi tantangan buat kita perempuan dalam bertindak atau membuka diskusi-diskusi baru terkait isu perempuan.

Konsultan dan Aktivis Perempuan, Tunggal Pawestri. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Dari dulu, perempuan selalu dilanda tekanan dan ekspektasi sosial yang berlebihan. Mulai dari cara berpakaian, cara berbicara, usia menikah dan lain lain. Di tahun 2019 ini, bagaimana Anda membandingkan ekspektasi perempuan dulu dan sekarang, apakah sudah berubah?

Ekspektasi-ekspektasi tersebut tentu masih ada sekali hingga kini. Meskipun selama 20 tahun ini ada perubahan yang terjadi, tak bisa dipungkiri dulu masa pemerintahan Soeharto masih jauh lebih kuat pandangan domestifikasi perempuan. Soeharto begitu kuat membangun wacana tersebut. Peran perempuan hanya sebatas di rumah saja mengurusi anak-anak, tidak punya aktifitas atau peran di ruang publik. Nah, saat ini sudah jauh berbeda sekali pandangan terhadap perempuan. Sekarang perempuan bisa memilih untuk berkutat di wilayah domestik atau publik, jadi dia bisa combine dia mau dimana, perempuan saat ini memiliki opsi lebih banyak.

Di level pendidikan, dulu masih banyak orang yang tidak terlalu mendorong perempuan untuk sekolah tinggi, saat ini malah semakin banyak perempuan yang meraih pendidikan yang amat tinggi. Keterkaitan perempuan dalam aktivitas di ruang publik juga semakin ramai.

Namun tak dapat dipungkiri, pola pikir atau pandangan-pandangan lama yang mengkerdilkan peran perempuan di ranah publik masih sering dihadapi perempuan muda saat ini. Hal ini masih tetap terjadi karena berbagai ekspektasi orang tua yang masih memiliki pemikiran konservatif ke anak perempuannya.

Walaupun tentu saja pandangan masyarakat urban berbeda-beda, berbagai kesadaran baru sudah mulai tumbuh dan berkembang.

Menurut Anda, seberapa penting gerakan feminisme untuk perkembangan budaya Indonesia?

Feminisme kan sebenarnya sudah menjadi nilai yang ada di budaya kita sejak zaman dulu. Sebagai contoh, semangat feminisme sudah tercermin dari para pahlawan perempuan yang ikut berjuang dalam mengupayakan kemerdekaan Indonesia. Sayangnya sejarah kita luput dalam menulis tokoh-tokoh pahlawan kemerdekaan, hanya beberapa nama saja yang tercatat dalam sejarah Indonesia seperti Cut Nyak Dien dan Cut Meutia.

Bagaimana kaitannya feminisme dengan perjuangan pahlawan perempuan Indonesia?

Jika berbicara soal nilai-nilai feminisme itukan bagaimana perempuan aktif dalam menyerukan hubungan yang setara antara perempuan dan laki-laki, juga suatu semangat yang memperjuangkan keadilan untuk perempuan dan kemanusiaan sendiri. Namun istilah feminisme sendiri baru dikenal di abad ke-20, padahal secara konsep feminisme sudah ada di embrio perempuan Indonesia. Jadi semangatnya sudah ada sejak nenek moyang kita dahulu.

Sebagai contoh, semangat feminisme sudah tertanam dalam diri Kartini. Ia dikenal sebagai perempuan yang berani mendobrak kungkungan feodalisme di sekitarnya. Melalui jalur pendidikan, ia berupaya memberdayakan perempuan-perempuan yang ada di lingkungan istana kala itu.

Ini merupakan salah satu contoh nyata gerakan feminisme yang sudah ada di budaya kita. Bagaimana sosok Kartini mencoba memajukan perempuan untuk bisa mendapat keadilan dan akses yang setara dengan laki-laki.

Tak bisa dipungkiri saat ini semakin banyak platform, komunitas atau gerakan yang menyerukan isu-isu perempuan dan kesetaraan. Menurut Anda sejauh apa masyarakat kita aware dengan isu ini?

Ini sebuah tantangan sendiri sebenarnya, bahwa dengan adanya berbagai platform yang menyerukan isu-isu perempuan, bertumbuh pula platform lainnya yang meng-counter hal-hal tersebut misalnya platform yang menolak kesetaraan gender.

Tapi setidaknya kita punya platform yang menghadirkan alternatif narasi di tengah semakin membuncahnya nilai-nilai konservatisme dan fundamentalisme di Indonesia.

Nah kita sebagai perempuan sendiri juga harus lebih aware dengan platform-platform yang menyediakan bacaan-bacaan alternatif itu untuk menyebarkan awareness yang lebih luas.

Konsultan dan Aktivis Perempuan, Tunggal Pawestri. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Anda cukup aktif di media sosial khususnya Twitter, menurut Anda sendiri sejauh apa peran media sosial sebagai platform yang dapat menyebarluaskan isu-isu perempuan dan menurut Anda sendiri apakah medsos sudah aman bagi perempuan?

Lagi-lagi media sosial itu seperti pisau bermata dua. Dia bisa jadi tempat yang bagus bagi kita untuk menyebarkan ide-ide atau ruang baru bagi perempuan. Misalnya yang sebelumnya tidak bisa bersuara, ada sosial media untuk mencurahkannya. Tapi di satu sisi kita juga dibayang-bayangi bagaimana perempuan dihadapkan dengan ancaman-ancaman lain. Sama seperti di dunia nyata, perempuan masih rentan menghadapi pelecehan seksual. Jadi secara offline kita sudah dapat banyak masalah, ketika masuk ke online masih mengalami masalah yang sama.

Ya persoalan pelecehan seksual seperti online sexual harassment masih jadi hal yang tinggi dialami perempuan. Serangan pelecehan seksual dapat menyerang siapa saja, misalnya saja dari pengalaman saya, ada orang tanpa segan tiba-tiba mengirimkan dick picture di Twitter, itu kan bentuk pelecehab juga. Parahnya lagi terkadang mereka memakai akun anonim, sudah melakukan pelecehan seksual, mereka juga melakukan pemalsuan identitas dengan akun bodong.

Komnas perempuan pun juga telah menghimpun data yang menunjukkan bahwa kekerasan seksual yang berbasis online di media sosial jumlahnya semakin banyak, apa lagi dengan penipuan dan iming-iming menikah hingga diperas oleh mantan pacar untuk melakukan hubungan seksual, itu masih terus terjadi.

Giat melakukan aktivisme sosial, apakah masih memiliki waktu untuk diri sendiri atau me time?

Me time saya biasa dilakukan saat akhir pekan dengan nonton film di bioskop atau netflix. Ada beberapa serial yang saya suka seperti ‘Sex Education’ dan ‘Good Wife’, semua film-filmnya Idris Elba itu saya suka sekali. Selain nonton saya juga suka menulis tapi yang di luar pekerjaan ya, misalnya mengisi kolom kontributor untuk beberapa media.

Selain itu biasanya saya juga hang out sama teman-teman. Atau karena selama seminggu kerja dan tidak sempet beresin rumah, akhir pekan jadi saatnya untuk membereskan rumah. Ini juga menjadi sesi healing buat saya, ya momen saat bersih-bersih, beres-beres, ganti seprai, memilah perabotan. Membaca buku juga sering saya lakukan di akhir pekan atau pergi ke luar kota, random saja sih.

Apa buku bacaan favorit Anda?

Karya dari Mona Eltahawy berjudul Headscarves and Hymen: Why the Middle East Needs a Sexual Revolution, kemudian Habis Gelap Terbitlah Terang dari R.A Kartini, terakhir Purity Myth karya Jessica Valenti.

Bagaimana dengan film favorit?

Ada Istirahatlah Kata-kata, kemudian The Unbearable Lightness of Being yang diadaptasi dari novel karya Milan Kundera, dan film drama sejarah Amerika Serikat garapan Katja von Garnier, Iron Jawed Angels.

Apa next project yang sedang Anda lakukan baik di karier maupun personal?Untuk next project yang terkait pekerjaan saya sebagai konsultan, saya akan bekerja bersama lima organisasi perempuan untuk membangun narasi yang lebih mudah dipahami mengenai hak-hak perempuan, keadilan serta feminisme. Sementara untuk proyek pribadi, saya berencana membuat buku atau semacam novel grafis soal pengenalan terhadap feminisme untuk anak-anak dan semoga tahun ini projek bukunya bisa selesai.

Fotografer : Jamal Ramadhan

Make Up Artist : Andre Kusuma

Hair Do : Dessy for L'Oreal Professionel

Video
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.60