Pencarian populer

Berkenalan dengan Sosok Jurnalis, Feminis dan Aktivis Gloria Steinem

Gloria Steinem. (Foto: Instagram/@gloriathefeminist)

Dewasa ini isu feminisme bukanlah barang asing lagi. Isu feminisme mulai memenuhi percakapan kita sehari-hari. Dari obrolan di kedai kopi hingga di ranah akademis, kini orang-orang semakin terbiasa mengangkat dan membicarakan soal feminisme.

Wacana feminisme juga berputar dalam interaksi harian melalui gawai. Bagi Anda yang gemar berselancar di dunia maya, mungkin peribahasa “A Woman Without a Man Is Like a Fish Without a Bicycle”, sudah tidak asing lagi bagi Anda. Slogan feminist ini rupanya dipopulerkan oleh salah satu tokoh feminisme dunia, Gloria Steinem.

Sekilas slogan ini memiliki kesan humor, namun tahukah Anda justru terkandung makna yang mendalam dibaliknya.

Ungkapan ini mengekspresikan pandangan bahwa seorang perempuan dapat menjalani hidupnya dengan baik tanpa seorang pria.

Dimana perempuan tanpa laki-laki seperti ikan yang tak membutuhkan sepeda dalam hidupnya.

Sosok feminis, jurnalis, dan aktivis sosial politik Amerika ini menjadi salah satu tokoh feminis penting yang lantang menyuarakan hak-hak perempuan sejak akhir 1960-an dan awal 1970an.

Steinem juga seorang kolumnis untuk majalah New York dan salah satu pendiri dari majalah feminisme yang penting di Amerika, yakni Ms.Magazine.

Eksistensinya di dunia feminisme semakin mantap di era 1969. Steinem saat itu menerbitkan sebuah artikel, "After Black Power, Women's Liberation" yang membuatnya meraih ketenaran nasional sebagai pemimpin feminis.

Memasuki 2005, bersama Jane Fonda dan Robin Morgan, Steinem mendirikan Woman's Media Center. Sebuah organisasi yang bekerja untuk membuat perempuan juga memiliki andil dalam ranah media.

Konsistensinya dalam ranah aktivisme sosial khususnya berbagai isu terkait perempuan dan kesetaraan. Menjadikannya sosok yang penting untuk ditelisik lebih dalam.

Kehidupan masa kecil

Steinem memiliki latar belakang yang tidak biasa. Ia menghabiskan masa kecilnya dengan berpindah-pindah di berbagai daerah. Steinem kecil menghabiskan sebagian waktunya dalam setahun di Michigan dan musim dingin di Forida atau California. Kehidupannya kerap nomaden kala itu. Akibatnya ia tidak bersekolah secara teratur hingga berusia 11 tahun.

Hal ini disebabkan karena orang tua Steinem bercerai. Selain berpindah-pindah, ia pun harus tinggal dan merawat sang Ibu yang menderita penyakit mental. Steinem menghabiskan enam tahun tinggal bersama ibunya di sebuah rumah kumuh di Toledo sebelum akhirnya memasuki jenjang Universitas.

Di Smith College, dia belajar Ilmu pemerintahan, pilihan yang tidak biasa dipilih seorang perempuan pada waktu itu. Sebelum akhirnya melanjutkan studinya pada tahun 1956 di India.

Dari sini sudah jelas sejak awal bahwa dia tidak ingin mengikuti jalan hidup 'umum' bagi perempuan di masa itu dengan pilihan studi yang diambilnya. Ia tak hanya ingin begitu saja menikah dan menjadi seorang ibu.

"Pada 1950-an, begitu Anda menikah, Anda menjadi seperti apa yang suami Anda inginkan tanpa menghiraukan misi pribadi Anda. Sedari kecil saya sudah memililki peran sebagai orangtua saat harus merawat ​​ibu saya,"ujarnya kepada majalah People.

Tokoh perintis feminisme di Amerika

Gelombang feminisme sejatinya tidak memiliki periodisasi waktu yang spesifik. Namun tentu ada kecenderungan untuk mengelompokkan pemikiran feminis berdasarkan tren zaman dan dekade.

Misalnya dimulai dengan masa Renaissance yang membawa pengaruh kesadaran akan kemanusiaan dan persamaan hak asasi manusia. Kemudian berlanjut ke Revolusi Perancis yang menimbulkan kesadaran kelas sosial sehingga mempengaruhi pemikiran feminisme gelombang pertama.

Peristiwa-peristiwa bersejarah tersebut cukup mempengaruhi tren pemikiran feminisme gelombang kedua. Selanjutnya, kesadaran anti-kolonial dan ekspansi pasar bebas memberikan bentuk bagi feminisme gelombang ketiga.

Gloria Steinem merupakan seorang feminis gelombang kedua yang penting di Amerika.

Perempuan yang lahir pada 25 Maret 1934 di Ohio ini mulai dikenal publik pada tahun 1963 melalui artikel investigatifnya terkait kondisi perempuan Amerika kala itu.

Berprofesi sebagai jurnalis, aktivis Gloria Steinem pernah menyamar jadi model Playboy. Ia hendak mengekspos bagaimana perempuan diterima di lingkungan kerja. Yang lantas disaksikan Steinem: perempuan dibayar rendah, tenaga mereka dieksploitasi, dan tak jarang dilecehkan para pria.

Situasi diskriminatif itu akhirnya mendorong para perempuan AS turun ke jalan dan bersuara lebih keras.

Menjadi perempuan di masa-masa itu memanglah bukan hal yang mudah. CNN melaporkan, pada pertengahan 1960an, perempuan kerap terpinggirkan karena perlakuan yang mereka terima di tengah bermasyarakat. Misalnya, perempuan tak bisa mendapatkan fasilitas kartu kredit dari bank dengan mudah. Untuk memperoleh kartu kredit, perempuan harus kawin dulu. Saat sudah kawin pun, perempuan harus dapat izin sang suami untuk bisa membuat kartu kredit.

Perempuan juga tak bisa duduk di sidang pengadilan sebagai juri. Pengadilan beranggapan bahwa perempuan semestinya di rumah saja. Mereka dipandang “terlalu rapuh” untuk mendengar rincian kejahatan yang dipaparkan dalam sidang.

Tak ketinggalan, perempuan pada masa itu juga tak bebas mengakses pil KB. Di beberapa negara bagian, pil KB hanya bisa diakses oleh perempuan yang menikah. Perempuan yang mengkonsumsi pil KB dikecam karena masyarakat menganggap perbuatan tersebut tidak bermoral.

Baik di ranah pekerjaan maupun pendidikan, posisi perempuan sama-sama mengenaskan. Di bidang pendidikan, perempuan tak bisa bebas masuk kampus-kampus ternama AS (Ivy League). Yale dan Pricenton tidak menerima mahasiswi sampai 1969, Harvard sampai 1977.

Steinem pun makin terjun ke dunia pemberdayaan perempuan setelah ia meliput sidang aborsi yang ia dengar dari kelompok feminis radikal bernama Redstockings.

Pada tahun 1971, Steinem bergabung dengan feminis terkemuka lainnya seperti Bella Abzug dan Betty Friedan, dalam membentuk National Women's Political Caucus yang fokus membahas isu-isu perempuan.

Mendirikan majalah feminis di Amerika

Steinem juga menjadi pioneer yang merintis Ms. Magazine (1973), yakni majalah yang memiliki fokus pada isu-isu feminisme.

Majalah ini membahas topik-topik yang tabu dibicarakan pada periode 70an, seperti isu kekerasan dalam rumah tangga dan kampanye kesetaraan dalam pemberian upah tenaga kerja.

Ms. kali pertama kali terbit pada tahun 1971 sebagai sisipan majalah New York. Namun kemudian di bawah arahan Steinem, pada tahun 1973 Ms.Magazine diproduksi secara independen.

Ia juga mendirikan Pusat Media Perempuan bersama Jane Fonda, yang memastikan agar perempuan mendapatkan informasi yang tepat terkait kesehatan reproduksi perempuan.

Gloria Steinem kini

Di usianya yang kini menginjak 83 tahun, Steinem tetap aktif melibatkan diri dalam berbagai aktivitas politik dan isu-isu perempuan.

Ia sempat menjadi juru kampanye untuk Hillary Clinton dalam pemilihan presiden Amerika Serikat. Bahkan ia sempat dianugerahi Presidential Medal of Freedom oleh Barack Obama akhir tahun 2016 lalu.

Simak cerita perempuan inspiratif lainnya di topik sheinspiresme.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.57