Pencarian populer

Bertengkar dengan Sahabat? Jangan Gengsi Minta Maaf Duluan

Surat Untuk Masa Lalu (Foto: Dok. kumparan)

Pernahkah kamu memiliki suatu masalah dengan teman atau sahabat hingga tak bertegur sapa sampai sekian lama?

Hal tersebut terkadang membuat diri menjadi gundah. Rasa berat hati yang tertanam akibat perasaan bersalah dan ingin berbaikan mengebu-gebu dalam diri. Namun, tak ayal kita tak tahu harus memulai dari mana dan apa yang harus dikatakan.

Lalu, bagaimana kita harus memulainya?

Menurut Liza M. Djaprie, Psikolog Klinis & Hipnoterapis, semua kuncinya ada pada keinginan untuk berkomunikasi.

“Komunikasi dengan mereka yang sudah lama tak bertegur sapa, itu hanya masalah mau dikerjakan (komunikasi) atau tidak,” kata Liza saat berbincang dengan kumparanSTYLE beberapa waktu lalu.

Menurutnya, jika terus menerus menunda, komunikasi tersebut akan semakin sulit untuk terjadi dan hubunganmu malah semakin renggang. Liza juga menyampaikan beberapa tips untuk kamu yang masih menunda dan mencari momen yang tepat.

“Kalau memang mau menunggu momen, kamu bisa memilih saat tahun baru, Hari Raya, atau saat dia ulang tahun,” jelas psikolog empat anak ini.

Ia menambahkan, komunikasi itu bisa dilakukan dengan hal paling simpel, seperti mengirim pesan WhatsApp.

Ilustrasi Pertemanan (Foto: Pixabay)

“Iya, seperti ‘hallo apa kabar?’, ‘selamat ulang tahun, ya!’, dan ‘Minal Aidin Wal Faizin,’ bisa dimulai dengan pesan singkat seperti ini,” ungkap Liza.

Namun, perlu digaris bawahi bahwa komunikasi itu berjalan dua arah. Artinya, saat kamu memiliki niat untuk bertegur sapa, orang yang bersangkutan pun semestinya memiliki perasaan dan keinginan yang sama denganmu.

“Jika sudah mencoba dengan berbaik hati namun memang ga ada responnya nih, yasudah secara damai kita case closed saja,”

lanjutnya lagi.

Dalam penjelasannya, yang terpenting adalah konsep bahwa kita sudah berbuat baik dan mencoba untuk berbaikan. Jika tidak mendapat respon yang semestinya, menurut Liza tak perlu dipaksakan. Artinya, kita memang belum ‘jodoh’ untuk kembali.

“Menurut saya sih, lebih ke kita mengerjakan untuk kepentingan kita supaya ga ada dendam dendam yang terbebani. Kita melakukannya untuk mendapat kedamaian bagi diri kita sendiri,” tutup psikolog lulusan S2 profesi Psikologi Klinis Dewasa di Universitas Indonesia ini.

-----

Punya sesuatu yang ingin kamu katakan untuk dirimu di masa lalu? Yuk, ikuti lomba penulisan 'Surat untuk Masa Lalu' dari kumparan bersama Tiga Generasi. Empat cerita terbaik berkesempatan untuk memenangkan Voucher MAP senilai @Rp 500 ribu dan dua jam sesi grup konseling gratis bersama psikolog Tiga Generasi.

Syarat dan ketentuannya bisa kamu lihat di sini.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.53