Pencarian populer

Cara Michelle Tjokrosaputro Dukung Kesetaraan di Perusahaan Miliknya

CEO Dan Liris Michelle Tjokrosaputro dalam acara CEO Talks di The Sultan Hotel, Jakarta, Rabu (10/4). Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Kesenjangan gender masih menjadi isu besar yang dihadapi banyak perempuan di dunia kerja. Masih banyak perempuan yang dinilai kurang mampu dalam menjalani suatu pekerjaan atau duduk di posisi tertentu.

Padahal tempat kerja sudah seharusnya mendukung kesetaraan dan mampu menciptakan lingkungan kerja yang tidak hanya nyaman, namun juga membuka banyak kesempatan baik bagi laki-laki maupun perempuan.

Michelle Tjokrosaputro, CEO Dan Liris, perusahaan garmen besar dari Solo, juga meyakini hal tersebut. Menurutnya, perusahaan mempunyai kewajiban untuk bisa mengedukasi karyawannya agar mereka menyadari bahwa mereka memiliki potensi yang sama dengan yang dimiliki oleh laki-laki.

Dan Liris sendiri merupakan sebuah perusahaan garmen besar dan merupakan salah satu produsen batik terbesar di Indonesia yang berpusat di Solo, Jawa Tengah. Karena bergerak di bidang garmen dan tekstil, jumlah karyawannya didominasi oleh perempuan. 64 persen karyawannya adalah perempuan dan 36 persen laki-laki. Dalam jajaran manager, 40 persen diduduki oleh perempuan dan untuk top management 44 persennya juga dipegang oleh perempuan, lalu semua stakeholder semuanya dikuasai oleh perempuan.

Oleh karena itu, Dan Liris banyak sekali mengembangkan pelatihan-pelatihan untuk karyawannya, terutama bagi karyawan perempuan yang memang ‘merajai’ perusahaan ini. Perusahaan yang didirikan oleh Handiman Tjokrosaputro ini selalu berusaha untuk mendukung perempuan agar bisa lebih maju.

Mereka memberikan pelatihan mulai dari public speaking, kepemimpinan, cara menyelesaikan masalah, cara mengatur dan memaksimalkan waktu kerja agar mereka dapat menjalankan perannya sebagai perempuan dengan baik.

Acara CEO Talks di The Sultan Hotel, Jakarta, Rabu (10/4). Foto: Nugroho Sejati/kumparan

“Di Solo, kami bersama pemerintah kota, departemen perindustrian, perdagangan, pendidikan, dan juga perusahaan-perusahaan di sekitar kami mengadakan akademi komunitas, di mana kami bisa mengirimkan karyawan untuk sekolah yang bisa dilakukan saat jam kerja. Kami juga memberikan kelas-kelas eksklusif bagi mereka. Kami melakukan itu untuk mendorong perempuan dan laki-laki agar memiliki keinginan untuk terus belajar, mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi dan lebih baik,” ungkap Michelle dalam diskusi acara CEO Talk yang diadakan oleh Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) dan Investing in Women pada Rabu (10/4) di Hotel Sultan, Jakarta Pusat.

Meski dilakukan sambil bekerja, Michelle tidak melihat karyawannya merasa terganggu atau performanya menurun. Karena pelatihan-pelatihan yang diberikan juga membuat mereka semakin tahu bagaimana cara mengatur waktu dan bekerja lebih bijaksana sehingga pekerjaan tetap terselesaikan meskipun harus menangani keperluan yang lain. Jadi bagi karyawan perempuan yang sudah harus menjalani banyak peran bisa memperoleh pendidikan dan kesempatan berkarier yang sama dengan laki-laki.

“Menurut saya yang penting ditekankan disini adalah kita perlu melatih perempuan untuk mengatur segala hal. Karena tugas mereka banyak sekali, jadi mereka harus tahu bagaimana caranya mengatur waktu kerja agar tidak sering-sering lembur. Melalui teknologi dan manajemen yang bagus kita bisa membantu setiap perempuan agar dapat menjalani perannya dengan baik,” tutupnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.57