Pencarian populer

Cerita Nina Kaginda Soal Investasinya di Tas Hermes

Sosialita Nina Kaginda (Foto: Dok. Nina Kaginda )

Bisnis jual beli tas branded sudah ditekuni sosialita Nina Kaginda sejak 2008.

Perempuan kelahiran Solo, 2 Juni 1989 ini memutuskan mengubah hobinya mengoleksi tas mewah jadi profesi yang menguntungkan. Membuka butik eksklusif di kawasan SBCD, Jakarta Pusat, Nina dikenal sebagai agen tas branded skala internasional.

Sosialita Nina Kaginda (Foto: Dok. Nina Kaginda )

Brand Hermes jadi spesialisasi Nina. Saat berselancar di situs Gallerie Exotique milik Nina, Anda akan menemukan berbagai koleksi Hermes 'terpajang' dengan cantik. Mulai dari Hermes Kelly 20cm, dan 32cm, Hermes Birkin 25cm, 30m, dan 35cm, Hermes Constance 18cm dan 24cm, Hermes Kelly Pochette, Hermes Kelly Clutch, hingga Hermes Lindy.

Meski demikian, Nina juga melayani permintaan konsumen yang gemar mengoleksi brand high end lainnya seperti Chanel, Louis Vuitton, Bvlgari, Dior, dan lain-lain.

Bisnis tas mewah dengan mantap ditekuni Nina karena mendatangkan keuntungan yang menjanjikan. Ia juga menjadikan tas sebagai fashion item favoritnya.

Sosialita Nina Kaginda (Foto: Dok. Nina Kaginda )

"Investasi barang mewah hanya berlaku untuk tas. Kalau sepatu sudah dipakai harganya akan turun," uja Nina kepada kumparanSTYLE, saat dijumpai di Medikaloka, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, pada Selasa (16/10).

Nina Kaginda juga bercerita soal kecintaannya terhadap Hermes.

"Saya memang cinta Hermes dan sudah koleksi dari 10 tahun lalu. Tapi saya juga suka merek lain seperti Chanel, Louis Vuitton. Tetapi kalau untuk investasi Hermes only. Saat ini nilai investasinya yang paling tinggi hanya Hermes Birkin dan Kelly," ceritanya lagi.

Nina Kaginda, pebisnis tas mewah. (Foto: Instagram @ninakagindaa)

Sahabat Syahrini ini juga tak merasa keberatan merogoh kocek ratusan juta untuk sebuah tas Hermes, karena ia paham betul valuenya.

"Karena untuk dapatkan tas itu susah sekali. Untuk dapatkan tas itu kita harus ikut waiting list dulu selama dua tahun, tak peduli berapapun uang yang kita miliki. Supply yang sedikit itu menyebabkan demand tinggi sekali, dan ketika demand tersebut tidak terpenuhi, harganya jadi tinggi," terang Nina lagi.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: