Pencarian populer

Danarto dan Dunia Sonya Ruri

“Buru-buru saya mengerjakan petunjuknya. Begitu saya membuka katup yang amat tebal yang menghubungkan dunia bawah tanah dengan dunia di atas permukaan tanah, saya menyaksikan pemandangan yang mengerikan. Paris telah menjelma belantara yang membara sepanjang cakrawala. Kobaran api mahaluas. Langit terbedah lalu hujan darah.”

Bencana nuklir mengancam kota Paris. Orang-orang membangun Paris duplikat di bawah tanah, persis aslinya yang ada di permukaan tanah. Dan, benarlah peramal Nostradamus, bencana nuklir memorak-porandakan Paris. Disusul kecamuk terorisme yang tak seorang pun tahu akhirnya.

Cuplikan cerita pendek “Paris Nostradamus” itu barangkali tak cukup betul menggambarkan corak kesusastraan Danarto. Tetapi tentu cuplikan itu dapat mewakili apa yang oleh para pembaca dianggap khas Danarto: realisme magis--sebuah kekhasan yang di antara pengarang juga bersepakat ketika mengomentari karya-karya Danarto.

Sekali kayuh, cerita-cerita fiksi Danarto menggedor nalar berpikir logis sekaligus menggoda pembaca untuk mempertimbangkan, bahwa yang tak logis itu bisa jadi sensasi alternatif untuk mengisi ceruk-ceruk alpa dalam dunia nyata.

“Batas antara realitas dengan yang tidak realitas itu kan tipis sekali. Dan itu bisa bersambung setiap saat. Misalnya ketika anda mengendarai mobil tiba-tiba kepentok kemacetan yang luar biasa. Kemudian di sebelah kiri anda ada jalan kampung, lalu anda masuk situ,” ujar Danarto dalam sebuah wawancara yang dimuat dalam Southeast Asia Digital Library.

Kesedapan realisme magis atau yang kerap juga disebut sufistik dalam cerita-cerita Danarto, berangkat dari persentuhan dengan spiritualitas yang banyak membubuhi perjalanan hidupnya. Mulai dari ayah yang dekat dengan ilmu kebatinan, sufistik yang ia pelajari sejak usia 23 tahun, sampai pengalaman spiritualnya ketika berada di sebuah desa di Garut pada 1967.

Menurut Danarto, cakrawala sufistik dalam karya-karyanya berkelindan pula dengan ide yang ia timba dari cerita tradisi. Misalnya, Mahabharata, Ramayana, dan cerita-cerita rakyat yang bertahan melalui tradisi oral. Semua cerita itu, bagi Danarto, juga mengandung ide-ide sufistik.

Di samping itu, pergolakan politik ganas 1965-1966 yang menyebabkan tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah Indonesia modern, juga memengaruhi kesadaran Danarto. Ia merasa, sejak malapetaka yang menimpa jutaan orang itu terjadi, ada suatu hal yang hilang dalam lingkungan masyarakat: spiritualitas.

Hingga kini Danarto telah menghasilkan setidaknya lima buku kumpulan cerita pendek: Godlob, Adam Ma’rifat, Berhala, Gergasi, dan Setangkai Melati di Sayap Jibril.

Menurut penyair Sapardi Djoko Damono, karya-karya Danarto punya andil sangat besar dalam perkembangan sastra Indonesia. Ia menilai Danarto memiliki ciri penulisan cerita pendek yang belum pernah ada sebelumnya di Indonesia.

“Yang menjadikan cerita pendek Danarto berharga itu bukan ceritanya seperti apa, atau tokohnya seperti apa, tapi suasana yang dibangun oleh cerita pendek itu belum pernah ada di dalam cerita pendek Indonesia sebelumnya,” kata Sapardi, juga dalam wawancara yang dimuat Southeast Asia Digital Library.

“Bukan hanya lebih spontan, tapi ada campuran dari suasana keagamaan, humor, keakraban. Segala macam ada di situ menjadi satu dan tidak bisa dipisah-pisahkan,” ujarnya.

Cerita-cerita pendek awal Danarto yang dimuat Majalah Horison pada dasawarsa 1960, menurut Sapardi yang saat itu bagian dari redaksi majalah tersebut, bahkan mengagetkan banyak orang. Ada yang mengatakan, cerita-cerita pendek itu ditulis ketika Danarto dalam kondisi trans--keadaan tak sadar sehingga mendorong seseorang berbuat sesuatu yang tidak masuk akal.

Sebabnya, kata Sapardi, situasi yang digambarkan Danarto dalam cerita pendeknya menunjukkan bahwa Danarto tak peduli dengan karakterisasi, plot, maupun latar. “Itu sama sekali tidak ada,” kata Sapardi. “Menggelinding saja”.

Sapardi menafsir Danarto sebagai penulis yang tak tertarik pada penokohan. Karakter tokoh-tokohnya, walaupun menarik, tak pernah selesai. Oleh karena itu, seseorang akan disergap kesulitan untuk mengidentifikasi dan terlibat secara emosional dalam cerita-cerita Danarto.

Lukisan Danarto (Foto: Jacinta Nungky/kumparan)

Keunikan lain yang ditemukan Sapardi pada karya Danarto adalah pengaruh posisi Danarto sebagai pelukis. Sapardi menemukan cara Danarto bercerita dalam banyak cerita pendeknya, sulit ditemukan pada karya penulis lain yang bukan seorang pelukis.

“Dalam banyak cerita pendeknya itu, Danarto menyusun kalimat-kalimat, kata-kata, sedemikian rupa sehingga secara tipografis (seni percetakan) sangat khas. Itu kalau dia bukan pelukis, tidak bisa. Itu sebabnya saya katakan ada unsur lukisan di dalam cerita pendek Danarto,” ujar penggubah sajak ‘Duka-Mu Abadi’ itu.

Gaya penulisan Danarto yang sufistik juga tegas disebut Sapardi, di mana sufisme mengandung ide-ide yang membayangkan kemungkinan persatuan antara pencipta dengan yang dicipta.

“Danarto memang demikian dalam beberapa cerita pendeknya, meskipun tidak tegas. Tetapi banyak juga pengarang Indonesia yang bersentuhan dengan itu. Hubungan antara manusia dengan Tuhan itu kan merupakan salah satu tema pokok yang penting sekali dan tidak bisa ditinggalkan oleh para sastrawan,” kata Sapardi.

Kumpulan cerpen Setangkai Melati di Sayap Jibril (Foto: Instagram @booktheoraphy)

Sastrawan Agus Noor menafsir lebih jauh mengenai gaya penulisan sufistik Danarto. Dalam kata pengantarnya untuk buku kumpulan cerita pendek Setangkai Melati di Sayap Jibril, ia menyebut Danarto berhasil meletakkan “tradisi” penulisan cerita pendek yang berakar pada khazanah sufisme.

Agus memandang gaya penulisan tersebut berbeda dengan kecenderungan umum para pengarang di Indonesia yang menggunakan gaya realisme dan absurdisme. Kedua gaya tersebut, kata Agus, berakar pada pertumbuhan kebudayaan Barat yang nyaris dijadikan “acuan utama” para sastrawan Indonesia.

Pengembangan ide-ide sufistik yang ditempuh Danarto meretas kemungkinan kreatif baru untuk dijelajahi, baik dari segi tema yang digarap maupun jangkauan logika yang ditawarkan. Sehingga sastra dalam karya-karya Danarto ditempatkan sebagai dunia alternatif dari dunia riil. Bukan upaya mengisahkan kenyataan, melainkan mendorong terbukanya kenyataan (baru).

Danarto dalam cerita-cerita pendeknya, menurut Agus, memperlakukan yang non-riil dengan yang riil bukan sebagai dua dunia yang tak bersentuhan atau saling bertentangan.

“Tetapi justru sebagai suatu yang saling berkelindan, jalin-menjalin, pengaruh-memengaruhi. Yang riil dan non-riil, dalam cerpen-cerpen Danarto, melebur menerobos ruang dan waktu, sehingga sebagai dunia alternatif cerpen-cerpen Danarto membawa kita, pembaca, ke dunia sonya ruri, yang tidak riil tapi juga tidak sepenuhnya abstrak,” tulis Agus.

Dunia sonya ruri itu, kata sastrawan dan budayawan Umar Kayam dalam pengantar buku kumpulan cerita pendek Berhala, adalah dunia yang mengambang, sunyi, mengerikan, di mana sosok manusia tidak jelas identitasnya, asal usulnya, dan status kehidupannya. Suasana itu terasa betul, misalnya, dalam cerita “Godlob” dan “Armageddon”.

Umar secara lugas menyebut Danarto dan cerita-cerita pendeknya adalah kasus yang istimewa. Menurut penulis novel Jalan Menikung itu, ada suatu strategi yang membimbing cerita-cerita Danarto dan menjadi worldview penulisnya: dunia mistik tasawuf, semesta kaum sufi.

Buku-buku karya penulis Danarto (Foto: Instagram @penerbitdivapress)

Sebagai seorang yang menyelami pandangan hidup dunia sufistik, Danarto--setidaknya dalam cerita-cerita yang ia tulis--memegang doktrin Wahdatul Wujud atau Ketunggalan Wujud atau Ketunggalan Kehadiran, di mana semua pernyataan kehidupan itu menemukan keesaannya pada Sang Pencipta.

Ciptaan, kata Umar, dibatasi oleh waktu dan ruang, oleh “waktu itu” dan “di sana”, tetapi bukan sepenuhnya “sekarang” dan “di sini” karena konsep waktu dan ruang itu tidak mungkin terjangkau oleh akal manusia.

“Doktrin ini sangat jelas terpantul dalam pernyataan Danarto yang dipetik dalam kata pengantar untuk buku kumpulan Adam Ma’rifat,” tulis Umar. Dalam pengantar itu, Danarto menulis:

“… kita itu (alam benda, alam tumbuh-tumbuhan, alam binatang, dan alam manusia) hanyalah proses, sehingga segala sesuatu tidak terpahami karena tidak berbentuk... Karena kita ini proses maka tidak mengetahui. Begitulah hakikat sebuah barang ciptaan. Yang jelas kita adalah milik Sang Pencipta, secara absolut dan ditentukan.”

Dalam perbincangan dengan kumparan, Senin (6/11) lalu, Danarto mengiyakan kedekatannya dengan doktrin sufisme. “Dulu kan saya ingin menyatu dengan Tuhan.”

Saat mengisahkan pengalaman spiritualnya pada 1968 di Garut bahkan, ia mengatakan, “Pagi-pagi saya melihat semuanya wajah Tuhan.”

Pernah pula Danarto memainkan sebuah monolog berjudul “Keluh Kesah Apel Newton”. Monolog itu mengisahkan seorang manusia hidup sendirian di Bumi setelah semuanya musnah. Entah apakah karena kiamat atau perang nuklir, kata Danarto.

“Jadi seolah-olah saya ngomong, bersahabat, dengan Tuhan. Tetapi tidak saya sebut Tuhan, melainkan ‘Paduka’,” urainya. “Paduka, bagaimaa ini, Paduka? Tidak ada setetes air, secuil makanan, suara musik pun. Ini persahabatan apa?”

Danarto. (Foto: Faisal Nu'man/kumparan)

Kedudukan Danarto dalam kesusastraan Indonesia, menurut Sapardi, tak bisa dimasukkan ke dalam kotak periode angkatan tertentu. Pun tak klop jika diinventarisasi berdasar mazhab tertentu. Bagi Sapardi, Danarto justru mempunyai mazhab sendiri dengan cara bercerita yang tidak bisa diikuti oleh orang lain.

“Sampai sekarang pun saya kira tidak ada orang yang bisa menjadi pengikut Danarto. Banyak seorang pengarang yang menciptakan suatu karya tertentu dan kemudian pengikutnya banyak. Tapi sepanjang pengetahuan saya, orang tidak bisa mengikuti Danarto. Hanya ada satu Danarto itu,” kata Sapardi.

“Sampai nanti pun, saya tidak yakin ada orang yang bisa seperti Danarto,” ujar Sapardi.

Cerita unik dari Danarto juga muncul terkait metode memutus kebuntuan ide ketika menulis cerita-ceritanya. Suatu metode yang, seperti gayanya bercerita, tak lepas dari sentuhan spiritualitas, yaitu dengan mengerjakan salat sunah khusus untuk meminta ide guna cerita yang sedang ia tulis.

Namun, Danarto tidak akan menggunakan ide yang muncul saat ia mengerjakan salat yang memang tidak ia kerjakan khusus untuk menggamit ide cerita.

Rumah Danarto (Foto: Jacinta Nungky/kumparan)

“Kalau muncul ide, betapapun bagusnya, harus ditolak karena itu gangguan (saat salat). Pada satu saat, saya punya cerpen yang belum berakhir, jadi sedang mencari satu jalan untuk mengakhiri cerpen itu. Nah, ketika salat itu muncul ide, bagus sekali sebenarnya. Tapi saya sudah berjanji untuk tidak memakai ide-ide yang muncul ketika salat,” kata Danarto.

Sonya ruri. Demikianlah semesta Danarto berputar.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: