Pencarian populer

Kala Pria Korea Selatan Diserbu Kosmetik

Cho Won-Hyuk, pria Korea yang merapikan alisnya. (Foto: Dok. Mazurgroupla)

Makeup hanya untuk perempuan? Mungkin sudah saatnya untuk abaikan pikiran tersebut.

Saat ia berada di tingkat sekolah menengah pertama, jerawat mulai tumbuh di kulit wajah Kim Seung-hwan (16). Bintik jerawat itu begitu mengganggu penampilannya sebagai pria.

“Aku ingin menutupi jerawat yang ada di wajahku, tapi perawatannya sangat mahal,” kata Seung-hwan saat wawancara dengan BBC, Senin (5/2).

Paham betul bahwa dirinya tak mampu merogoh kocek dalam-dalam hanya untuk perawatan wajah, Seung-hwan pun memutuskan memakai cara lain: menutupi jerawat dengan makeup.

Bermodalkan concealers dan foundations, Seung-hwan berhasil membuat wajahnya terlihat mulus, bebas dari bintik jerawat yang bersarang di kulitnya. Kepercayaan dirinya seketika meningkat drastis.

Seung-hwan yang mengaku semula tak percaya diri ketika bepergian lantaran bekas dan bintik jerawat di wajahnya, kini begitu mantap melangkah saat melenggang di jalanan kota.

“Aku merasa jauh lebih percaya diri saat mengenakan makeup,” jelasnya.

Dengan kepercayaan dirinya, ia mulai mengisi waktu luang dengan menjadi makeup vlogger melalui kanal Youtube-nya.

Makeup (Foto: Mela Nurhidayati/Kumparan)

Selayaknya merias diri seperti yang dilakukan Seung-hwan, Lee Woong-jung pun mengenakan beberapa alat makeup dasar, seperti toner, essence, pelembut kulit wajah, dan BB cream--lengkap dengan krim matahari agar warna kulitnya tetap terjaga.

“Orang melihatku secara berbeda ketika aku menjaga kulitku tetap mulus” ujar Woong-jung (27), pemilik bisnis gym berlokasi di salah satu distrik bisnis di Seoul, Korea Selatan.

Makeup menolongku untuk bekerja dan membangun citra diri yang baik. Ketika aku mencoba mendekati orang, mereka cenderung merespons secara lebih baik,” tambahnya.

Beberapa tahun terakhir, tren makeup di Negeri Ginseng ini begitu populer. Produk perawatan kecantikan mereka berkembang dan mempopulerkan bahan dasar yang unik seperti lendir siput hingga plasenta hewan.

Seiring perkembangannya, makeup di Korea Selatan tak lagi terbatas dan dinikmati oleh perempuan saja. Sebab, industri makeup di Korea Selatan mulai diminati oleh para laki-laki.

Laju pertumbuhan industri makeup Korea Selatan (K-Beauty) pun kian melejit.

Tren makeup yang menjangkit laki-laki Korea Selatan tak terlepas dari geliat industri K-Pop yang kian meluas hingga tataran global. Bahkan, industri ini mampu membentuk definisi baru tentang ‘aki-laki--molek, cantik, dan tetap dipandang maskulin.

Misalnya saja, dalam beberapa tayangan klip video idola K-Pop, hadir para model laki-laki dengan riasan mata bergaya smoky eyes--celak mata tebal berwarna gelap di sekitar mata--lengkap dengan gincu berwarna terang.

Video

Dan bagi anda yang ingin memakai riasan serupa, ada berbagai video tutorial yang dihadirkan sebagai panduan merias wajah--persis seperti model laki-laki yang tampil dalam klip video tersebut.

Industri Makeup Pria Kian Melejit

Korea Selatan menjadi negara keenam dengan angka ekspor komestik terbesar di dunia. Nilai penjualan luar negerinya mencapai USD 1,59 miliar pada periode 2009-2015. Bahkan, angka ini diprediksi meningkat hingga 50 persen dalam kurun waktu lima tahun.

Produk kosmetik yang dibeli laki-laki Korea Selatan tak terbatas pada pelembut kulit atau krim cukur. Permintaan akan krim anti-penuaan, masker wajah, hingga parfum pun kian meningkat.

Pada 2013, jumlah pembelian produk perawatan kulit oleh laki-laki di Korea Selatan mencapai USD 900 juta. Tak hanya toko produk, bisnis salon dan spa khusus laki-laki juga mulai marak dan menawarkan beragam jenis pelayanan dan perawatan. Tuntutan perawatan bagi laki-laki pun dilayangkan oleh berbagai perusahaan, seperti misalnya Korean Air yang menuntut para stafnya menggunakan produk kecantikan saat bekerja.

Pakar budaya di Kyunghee University, Alex Taek-Gwang Lee, menyebutkan laki-laki Korea Selatan kini lebih banyak menggunakan kosmetik. Sebab, penampilan menjadi salah satu modal sosial yang penting bagi masyarakat Korea Selatan.

“Ada pepatah Korea lama yang berbunyi: jika kamu hendak membeli barang, pilihlah yang memiliki penampilan paling baik,” kata Lee, seperti dilansir CNN Money (4/10/2015).

Tampaknya, tak hanya tentang membeli barang, pepatah tersebut juga berlaku bagi mereka--rakyat Korea--saat ‘berkompetisi’ satu sama lain. Dalam hal pencarian kerja, misalnya, perusahaan cenderung memilih kandidat dengan penampilan lebih muda, menarik, dan segar.

“Jika ingin mendapatkan gaji yang lebih tinggi, maka tingkatkan atau perbanyak modal sosial yang Anda miliki,” tambahnya.

Korea Selatan. (Foto: Pixabay)

Persoalan kualifikasi penampilan saat mencari kerjaan turut diakui oleh wakil presiden perusahaan multinasional Doosan Industrial Vehicle, Jinwon Park. Penampilan menjadi salah satu faktor penting yang mempengaruhi keputusan perusahaan saat meloloskan kandidat pekerjanya.

“Saat mewawancarai para kandidat, penampilan menjadi salah satu hal yang sangat saya perhatikan. Dari berbagai pengalaman, mereka yang berpenampilan menarik cenderung lebih aktif di organisasi. Maka, keterampilan kandidat pun harus dilengkapi dengan cara merawat diri dan berpenampilan,” jelas Park dalam wawancara dengan ABC News (27/9/2012).

Maskulinitas Laki-laki Korea

Terdapat dua peristiwa utama yang memicu bergesernya pandangan masyarakat Korea Selatan terhadap idealisasi karakter ‘maskulin’.

Diawali dengan masuknya budaya Jepang dalam bentuk karakter manga dan anime setelah pemerintah Korea Selatan memutuskan untuk melonggarkan batas impor negaranya. Karakter ‘bishounen’--laki-laki cantik--digadang-gadang sebagai karakter yang ideal.

Tak lama setelah meledaknya tren karakter ‘laki-laki cantik’ ala Jepang, masyarakat semakin dibuat gila dengan kemunculan flower boys dalam drama Korea Boys Over Flowers--yang sesungguhnya masih terinspirasi dari manga Jepang.

Krisis IMF pada 1997 yang berdampak pada Korea Selatan pun turut ‘menyumbangkan’ pengaruhnya pada perubahan cara pandang terhadap minat dan idealisasi laki-laki. Kala itu, angka jumlah pekerja perempuan yang mengalami PHK lebih tinggi dibandingkan pekerja laki-laki.

Gedung perkantoran. (Foto: Sean Pollock/Unsplash)

Sebagai salah satu upaya memperbaiki krisis, maka perusahaan diharapkan tetap mempertahankan satu perempuan di dalam timnya guna ‘mendukung’ pekerjaan rekan kerja laki-laki.

Perempuan Korea tentu tak sepenuhnya menerima aturan tersebut, sebab mereka merasa dipandang ‘tak dibutuhkan’ dan hanya hadir sebagai pelengkap. Kondisi ini memicu berubahnya preferensi dan idealisasi laki-laki; semula kuat dan pemberi nafkah menjadi laki-laki lembut dan penuh kasih sayang yang bisa mengerti keinginan perempuan.

Iklan di media massa pun turut andil dalam pergeseran makna dan gambaran laki-laki ideal Korea Selatan. Alih-alih mengelu-elukan sosok laki-laki yang macho, tipe laki-laki yang lembut menjadi kian popular dan dianggap ideal.

Sadar betul akan persaingan yang semakin ketat, perusahaan-perusahaan kosmetik berebut menggunakan model flower boys yang tampil mulus dan cantik dalam promosi dan iklannya.

Narasi ‘laki-laki lembut dan cantik’ sebagai karakter ideal semakin kuat dibangun, hingga akhirnya menginspirasi pasar--dalam hal ini, pria Korea--untuk berpenampilan serupa dengan model yang menjadi tokoh iklan perusahaan kosmetik tersebut.

Flower Man’ sebagai karakter laki-laki Korea ideal menjadi populer seiring tren laki-laki metroseksual secara global, diperkuat dengan masuknya manga dan anime Jepang.

Maskulinitas pun dipandang tak sekadar ‘kuat dan kekar’, namun mengutamakan kelembutan laki-laki, seperti halnya yang ditampilkan oleh aktor drama dan grup idola Korea. Gambaran ini dipromosikan melalui iklan-iklan kosmetik dengan menggunakan tokoh pria untuk mendorong sesama kaumnya juga tampil muda dan ‘cantik’.

Drama Korea terfavorit 2016 (Foto: mydramalist.com)

Berusaha tampil muda, segar dan ‘cantik’ melalui pemakaian beragam produk kecantikan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Korea. Bahkan, kala para pria menjalani program wajib militer, sebagian besar mengaku tetap menggunakan krim wajah dan krim pelindung sinar matahari untuk menjaga kondisi kulit agar tetap sehat dan segar.

Maka, jelas sudah narasi identitas laki-laki tradisional yang ‘kuat dan macho’ kian tergerus oleh narasi tandingan yang memunculkan laki-laki lembut dan cantik sebagai karakter ideal.

Karena, di Korea Selatan, cantik bukan saja untuk perempuan, tapi juga milik laki-laki.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.53