Pencarian populer

Kisah Dokter Ratna Bersepeda Mengelilingi Benua Amerika

Dokter Ratna Berkeliling Amerika dengan Sepeda (Foto: Dok. Patrick Pöndl)

Foto-foto yang memanjakan mata memenuhi laman media sosialnya. Berbagai pemandangan alam indah yang asing bagi kebanyakan orang Indonesia, bertebaran di sana.

Hamparan padang pasir, puncak gunung berselimut salju, hingga formasi batu pasir berbentuk gelombang yang seolah hanya ada di negeri khayalan, bertebaran pada akun Facebook perempuan yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) itu.

Ratna Sari Intan nama lengkap perempuan itu. Ia seorang dokter. Lahir di Jakarta. Orang Indonesia asli yang kini sedang berada di benua Amerika.

Saat ini, Ratna sedang menjalankan misinya untuk mengelilingi benua merah itu dengan menggunakan sepeda. Ditemani oleh suaminya, seorang warga negara Jerman bernama Patrick Pöndl, Ratna memulai petualangannya dari Negeri Paman Sam.

Berapa jauh perjalanan yang telah ia tempuh dan bagaimana ia memulai perjalanan mengayuh pedal itu? Dengan murah hati, selama sepekan terakhir ini Ratna membagikan cerita dan foto-foto petualangannya, juga pengalaman hidupnya sejak kecil, kepada kumparan.

“Perjalanan saya dimulai tahun 2015,” tutur Ratna. Pada tahun itu ia memutuskan berhenti bekerja dari sebuah rumah sakit di Jerman untuk memulai petualangan mengelilingi benua yang memiliki penduduk asli berkulit merah itu.

Ratna yang seorang dokter spesialis penyakit dalam, berkuliah dua tahun (1999-2001) di FKUI, sebelum meneruskan pendidikan di Johannes Gutenberg University, Mainz, Jerman.

Menjelang tahun terakhir di Johannes Gutenberg University, Ratna mulai bermimpi bepergian dalam waktu lama. Ia ingin bersentuhan dengan budaya baru, berkenalan dengan teman baru, mencoba makanan baru, dan mengunjungi tempat-tempat yang sebelumnya hanya ia lihat lewat internet.

Setelah merampungkan pendidikan S1, Ratna mengambil pendidikan spesialis penyakit dalam, sembari bekerja di sebuah rumah sakit di Mainz. Uang hasil kerja sebagai dokter itulah yang kemudian ia tabung dan gunakan untuk membiayai misinya mengelilingi Amerika ini.

“Bulan April 2015, saya mulai hiking Continental Divide Trail (CDT) di Amerika Serikat, dari perbatasan Meksiko ke perbatasan Kanada,” kata Ratna.

Selama 6 bulan Ratna dan suami berjalan kaki melewati padang pasir di New Mexico, Pegunungan Rockies di Colorado, Yellow Stone National Park di Wyoming, dan Glacier National Park di Montana untuk mendaki jalur pendakian (trail) CDT. Jarak yang ia tempuh sekitar 4.000 kilometer.

“Setelah menyelesaikan hiking ini, saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan sepeda,” tutur Ratna.

Ratna membeli sepeda di Portland, Amerika Serikat. Ia mengawali perjalanan mengelilingi benua Amerika dengan sepeda dari ujung utara, yakni di Teluk Prodhoe dekat Samudra Arktik di Alaska.

Tujuan perjalanannya adalah ke ujung selatan benua suku Indian itu, yakni Kota Ushuaia, daerah Tierra del Fuego, Argentina.

Kunjungan Ratna ke benua Amerika pada 2015 bukanlah kunjungan pertamanya. Sewaktu SMA, Ratna pernah mengikuti program pertukaran pelajar ke Amerika Serikat. Saat itu Yayasan Bina Antarbudaya memberinya beasiswa untuk mengunjungi negara adidaya itu.

Bina Antarbudaya merupakan mitra AFS Intercultural Programs, salah satu organisasi pertukaran antarbudaya terbesar di dunia yang beroperasi di lebih dari 60 negara di lima benua.

Bila ditarik lebih jauh lagi, Ratna sebenarnya telah terbiasa bertualang sejak kecil. “Berhubung ayah saya pegawai negeri di kantor pajak, maka keluarga kami pindah kota setiap 3-5 tahun sekali,” kata Ratna.

Semasa SD, Ratna sempat hidup berpindah-pindah kota hingga tiga kali, yakni ke Bekasi, Jakarta, dan Slawi di Jawa Tengah. Saat duduk di kelas 2 SMP, ia pindah kota lagi ke Semarang hingga lulus SMA.

Hingga kini, dalam misinya di benua Amerika, Ratna sudah menempuh perjalanan sekitar 20.000 kilometer. Jarak sejauh itu hampir sepenuhnya ia lalui dengan bersepeda.

Menurutnya, hanya sekitar 20 sampai 30 kilometer jalan yang tak ia lalui dengan sepeda, yakni ketika ia sedang sakit atau cuaca sedang buruk-buruknya. Dalam keadaan seperti itu ia memilih menumpang kendaraan yang lewat atau menaiki bus.

Sejauh ini, ban sepeda Ratna sudah pernah menggilas jalanan di negara bagian Alaska, Washington, Oregon, California, Nevada, New Mexico, Colorado, Wyoming, dan Montana di Amerika Serikat; negara bagian Yukon, Alberta, dan British-Kolumbia di Kanada; Meksiko, Kolumbia, Ekuador, dan Peru.

“Saya suka travelling karena travelling memberikan rasa petualangan, tantangan dan kebebasan,” kata Ratna.

Baginya, menjelajahi suatu benua dengan sepeda adalah cara yang ideal untuk bepergian.

Dokter Ratna Berkeliling Amerika dengan Sepeda (Foto: Dok. Patrick Pöndl)

My two favorite things in life are libraries and bicycles. They both move people forward without wasting anything.

- Peter Golkin

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Jumat,24/05/2019
Imsak04:26
Subuh04:36
Magrib17:47
Isya19:00
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23