kumparan
31 Okt 2017 14:08 WIB

Menyiksa Tubuh demi Menjadi Model Sempurna

Vlada Dzyuba, model Rusia yang meninggal. (Foto: @mongolmodel - instagram)
Industri busana kembali menuai kritik setelah kematian model Rusia, Vlada Dzyuba, di tengah perhelatan Shanghai Fashion Week 2017. Penyakit meningitis atau radang selaput otak yang jadi penyebab kematian Dzyuba adalah contoh bagaimana kelelahan menjadi ornamen kehidupan sehari-hari para model.
ADVERTISEMENT
Sebelum meninggal, Dzyuba mengeluh kepada sang Ibu bahwa badannya mulai tak kuat menolerir tekanan kerja. “Dia meneleponku, berkata ‘Mama, aku sangat capek. Aku sangat butuh tidur,’” ujar Oksana, ibu kandung Dzyuba, seperti dilansir Daily Mail.
Kematian Dzyuba hanya sekelumit kisah yang menunjukkan omong kosong kemilau dunia modeling. Di balik lenggak-lenggok Dzyuba dan model-model lain di catwalk, batin mereka menyimpan getir akibat menahan perih penyakit yang disebabkan gaya hidup tidak sehat.
Dalam mempersiapkan penampilan di Shanghai Fashion Week, Dzyuba harus bekerja 13 jam tanpa henti. Jika ia menahan perih meningitis, model lain mengidap penyakit anoreksia (kehilangan selera makan) sebagai dampak obsesi mereka atas tubuh kurus.
Meski secara kasat mata pekerjaan para model itu terkesan tak terlampau berat dengan hanya melenggak-lenggok manis di atas catwalk, di balik itu mereka menempuh proses panjang melelahkan. Dunia model adalah profesi bisu yang menitikberatkan pada estetika visual.
Shanghai Fashion Week 2017 (Foto: Johannes EISELE / AFP)
Bagi para model, kerja keras berarti perjuangan memenuhi standar penampilan fisik industri fesyen. Bentuk tubuh ideal yang kurus menjadi pakem mutlak di dunia peragaan busana. Coco Austin, aktris Hollywood, menyebut dunia hiburan mewajibkan para aktris memiliki tubuh tinggi, pirang, dan kurus. Standardisasi semacam ini menjadi acuan bagi para aktris maupun pelaku industrinya.
ADVERTISEMENT
Kebanyakan model menempuh diet ekstrem untuk mewujudkan tubuh kurus kering. Sebuah penelitian di International Journal of Eating Disorders yang dipelopori peneiliti Harvard University, Sara Ziff, menyebut sebagian besar model di Amerika Serikat dan Eropa menjalani diet yang tak masuk akal.
Penelitian Ziff hadir untuk mengadvokasi isu kesehatan minus di antara para model. Dari 80 model yang dijadikan responden, 62 persen di antaranya menjalani diet ekstrem untuk memenuhi standar ukuran tubuh yang berlaku di industri busana.
Meski menjalani aktivitas di luar nalar, para model tetap dengan kerelaannya menjalani diet ekstrem karena terdesak oleh tuntutan profesi. Sebanyak 54 persen responden menjalani diet ekstrem karena para agen menganggap tubuh kurus merupakan sesuatu yang mutlak.
ADVERTISEMENT
Sebanyak 21 persen model menghadapi ancaman pemecatan apabila mereka gagal menurunkan berat badan. Lebih parahnya, 9 persen model dipaksa untuk melakukan operasi plastik.
Hasil penelitian ini kemudian mendorong Ziff untuk menggalang dukungan publik guna menolak diet ekstrem para model.
“Model-model terlalu sering ditekan hingga merugikan kesehatan dan keselamatan mereka, sebagai syarat untuk memperoleh pekerjaan,” tulis Ziff dalam pernyataannya yang dilansir Vogue.
Model Erin Heatherton. (Foto: Instagram @erinheathertonlegit)
Pengalaman lain datang dari Erin Heatherton, mantan model Victoria Secret yang menceritakan desakan dari agennya untuk mengurangi berat badan secara signifikan.
“Agen berkata pada saya untuk mengurangi aktivitas dan berhenti makan,” ucap Heatherton kepada The Daily Dot.
Tekanan tersebut membuat Heatherton mengidap kelainan pola makan. “Ini berdampak buruk bagi saya, dan saya tahan selama empat tahun,” kata dia.
ADVERTISEMENT
Dalam kacamata Heatherton, industri fesyen menganggap model semata-mata seperti gantungan pakaian. Dan kunci sukses menjadi model adalah memiliki ukuran tubuh 0-2 atau Xtra Small dan Small.
Heatherton melihat betapa model muda yang baru terjun ke industri ini akan berusaha keras meski harus menangis darah untuk mengurangi berat badan mereka.
Ukuran Xtra Small dan Small sekan menjadi dogma dalam dunia modeling. Selama para model bisa terus menjaga tubuhnya sesuai aturan itu, karier mereka akan terjaga. Jika tidak, agen tak segan membatalkan perjanjian kontrak.
New York Fashion Week 2018. (Foto: REUTERS/Brendan McDermid)
Penderitaan tak berhenti ketika cita-cita untuk tampil di peragaan busana tercapai. Aktivitas di balik panggung sebelum pentas, diisi oleh pekerjaan yang benar-benar menguras fisik. Pada tahap inilah Dzyuba harus menanggung kelelahan dan kekalahan. Ia meninggal muda dalam tragis--pada usia 14 tahun, menjelang ulang tahunnya yang ke-15.
ADVERTISEMENT
Kisah Shara Vujevic dalam acara peragaan busana terbesar dunia, New York Fashion Week, bisa menjadi gambaran beratnya kehidupan para model menjelang melenggang di catwalk. Vujevic butuh persiapan berjam-jam sebelum naik ke panggung.
Dalam sekali pertunjukan, Vujevic harus siap dua jam sebelumnya untuk dirias dan mencoba pakaian yang akan diperagakan. Suasana di belakang panggung begitu gaduh berisi teriakan para agen. Mereka memastikan para model tampak sempurna di pertunjukan yang tak sampai 5 menit itu.
Ketika wajah sudah dipenuhi riasan tebal dan rambut, para model wajib mencoba pakaian yang akan diperagakan. Mereka berdiri selama satu jam, diawasi manajer panggung yang bertanggung jawab terhadap pertunjukan.
Maka Vujevic berdiri satu jam. Berdiri dan mencoba berbagai pakaian sambil tubuhnya dipontang-panting demi kesempurnaan pertunjukan yang amat penting bagi obsesi perusahaan busana.
Paris Fashion Week. (Foto: Instagram @parisfashionweek)
Pasca-perhelatan Paris Fashion Week pada Februari 2017, direktur casting James Scully mengungkap borok dua pentolan agen, Maida Gregori Boina dan Rami Fernandes. Keduanya disebut Scully membuat model-model mereka berdiri di tangga gelap selama lebih dari tiga jam.
ADVERTISEMENT
Ketidakadilan yang dialami para model bukannya didiamkan. Amerika Serikat misalnya telah menerapkan perjanjian agar para agen menghindari kelainan pola makan pada model mereka, dan tidak mempekerjakan perempuan di bawah umur. Kebijakan tersebut juga dimiliki oleh Israel, Prancis, Italia, dan Spanyol.
Pelaku industri busana seperti Christian Dior, Louis Vuitton, dan Yves Saint Laurent asal Prancis mulai September 2017 telah menetapkan standar kesehatan terhadap model mereka.
Meski telah memiliki aturan dan semangat perubahan, masalah sebenarnya ada pada obsesi berlebihan industri busana terhadap kecantikan. Hegemoni bahwa perempuan kurus tinggi merupakan simbol kecantikan, menjadi hulu masalah.
Gelimang perputaran uang dan keelokan estetika membuat industri busana seolah mengubur aspek moral. Caryn Franklin, mantan editor majalah i-D dan profesor di Kingston University, mengamini industri mode kerap abai terhadap kehidupan para modelnya di luar panggung pertunjukan.
Milan Fashion Week. (Foto: REUTERS/Stefano Rellandin)
Masih tingginya permintaan atas model seiring dengan banyaknya perempuan yang mengidamkan profesi tersebut. Risiko penyakit anoreksia dan meningiitis seakan hilang begitu saja ditiup cita-cita untuk memasuki gemerlap industri fesyen.
ADVERTISEMENT
“Perempuan seakan menjadi kaum yang menjadikan dirinya sendiri sebuah objek karena kompensasi kehidupan glamor,” beber Franklin seperti dilansir The Guardian.
“Perempuan muda biasanya mulai memiliki cita-cita sebagai model pada usia tujuh tahun. Mereka dicekoki pemikiran bahwa diri mereka adalah sebuah hiasan eksterior,” ucap Franklin.
Menurut Franklin, obsesi berlebihan di dunia model baru diidap oleh agen mulai 30 tahun lalu. Sebelum itu, model memiliki fisik lebih pendek dan tubuh proporsional.
“Saat ini industri busana memiliki norma tinggi tubuh (harus) 170 sentimeter, dengan ukuran tubuh yang tidak berubah. Sehingga tubuh yang tinggi harus tetap kurus,” ujar Franklin.
Vlada meninggal di Shanghai Fashion Week. (Foto: Instagram/The Siberian Times via @rumorbus )
Jadi, anda tertarik menjadi model? Tak masalah. Tapi setidaknya, jangan korbankan kesehatan--dan nyawa--anda.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan