Pencarian populer

Pendapat Pakar Seni tentang Fenomena Berfoto di Museum dan Galeri

Pameran Seni Art Jakarta 2018 (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)
Beberapa tahun belakangan ini, museum-museum di Indonesia sedang menjadi primadona dalam agenda generasi milenial. Museum menjadi destinasi pengisi akhir pekan, dan titik temu bagi para sahabat.
ADVERTISEMENT
Tujuannya beragam, mulai dari meningkatnya ketertarikan terhadap dunia seni, sekadar memenuhi rasa penasaran, hingga tempat untuk unjuk eksistensi diri terutama di ranah media sosial.
Karenanya, ini menjadi kondisi yang unik. Mengingat dahulu, museum memiliki imej segmented yang terkesan hanya diperuntukkan untuk orang-orang tertentu yang memang tertarik saja. Bahkan, tak jarang beberapa orang menganggap bahwa museum adalah tempat yang membosankan.
Kini, pengunjung semakin menjamur memadati museum-museum ‘kekinian’ di Indonesia. Namun dengan semakin populernya museum atau galeri seni bagi kaum urban, fenomena baru pun mencuat, yaitu: cekrak, cekrek, upload!
Benar, rasanya tak afdol jika kunjungan ke museum tersebut belum diabadikan pada kamera atau ponsel pintar, dan diunggah ke dalam sosial media berbasis foto Instagram.
Pameran Seni Art Jakarta 2018 (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)
Bahkan, dalam unggahan tersebut, fokus utamanya berada pada si pengunjung, bukan karya seni yang ditampilkan. Lengkap dengan OOTD (outfit of the day) andalan demi menunjang feed Instagram yang maksimal.
ADVERTISEMENT
Kondisi ini tak sepenuhnya disambut baik oleh banyak orang. Beberapa ramai ‘menyindir’ orang-orang yang datang ke museum hanya untuk eksistensi diri tanpa memaknai karya seni yang ada di dalamnya.
Lalu, bagaimana tanggapan para pelaku dan pakar seni terhadap fenomena foto-foto di depan karya seni dalam museum ini?
“Ini harus disambut dengan gembira, dan merupakan fenomena yang sangat ajaib. Bahwa mereka, kini mau juga datang ke sebuah museum,” papar Irawan Karseno, Ketua Dewan Kesenian Jakarta saat ditemui kumparanSTYLE di Ritz Carlton Hotel Pacific Place, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.
Pameran Seni Art Jakarta 2018 (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)
Irawan yang juga seorang pelukis mengungkapkan bahwa ini hal yang menarik. Tak hanya soal museum, ia juga mengaitkan fenomena ini terhadap sebuah acara yang beberapa waktu lalu berlangsung di Taman Ismail Marzuki, yaitu Jakarta City Philharmonic; sebuah orkestra yang memiliki komposisi rumit, namun ajaibnya, yang datang justru anak-anak muda.
ADVERTISEMENT
Menurut Irawan, generasi masa kini menginginkan sesuatu yang ‘dalam’ dan konten yang tidak membosankan. “Ini luar biasa. Saya menganggap ini sebagai sebuah hal yang harus disikapi sebagai hal positif sebetulnya,” tambahnya.
Hal serupa juga disetujui oleh Rifky Effendy, kurator seni, yang juga menjadi Creative Director untuk Art Jakarta 2018. Menurutnya, fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia saja, namun di Amerika Serikat pun masyarakatnya memang memiliki budaya ‘selfie’ yang sama.
Pameran Seni Art Jakarta 2018 (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)
“Ini menarik. Sosial media memang menciptakan dunia yang berbeda. Museum menjadi wahana untuk objek foto. Dari situ, ada baiknya, orang yang melihat jadi ingin berkunjung juga ke museum tersebut,” papar pelaku seni yang kerap disapa Goro ini.
Keinginan untuk ikut-ikutan menjadi penunjang terbesar banyaknya orang menjamur di museum-museum Indonesia. Namun, menurut Goro, para pelaku seni, galeri, dan senimanlah yang harus aware terhadap kondisi ini.
ADVERTISEMENT
“Diantisipasi saja. Yang penting pengunjung tahu bahwa beberapa karya seni tak boleh sembarang dipegang. Itu hal umum yang memang harus dipahami sebelum berkunjung ke suatu museum. Dan pihak museum pun harus memberikan pengawasan,” tambahnya kepada kumparanSTYLE.
Namun, ada satu hal yang membuat Goro sedikit bingung dan aneh. Mengapa banyak orang merasa ‘segan’ untuk masuk atau menyentuh tas-tas mahal di outlet-outlet terkemuka, namun saat memasuki museum, justru berani.
Pameran Seni Art Jakarta 2018 (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)
“Padahal, kalau ditanya harganya bisa sama, lho. Apa perlu kami pampang harga sebuah karya seni supaya orang jadi lebih aware?” canda Goro sembari tertawa.
Sehingga, keduanya menyimpulkan bahwa ini bukanlah fenomena yang salah. Justru, sebaiknya, setelah mengunjungi galeri dan museum para pengunjung yang datang dapat mendapatkan informasi dan edukasi tambahan.
ADVERTISEMENT
“Jadi pelaku seni itu merangkul dan mengajarkan cara untuk mengapresiasi seni. Namun, tak ada yang salah mengapresiasi dengan cara foto atau posting, silakan. Tapi caranya dengan tertib,” tutup Dedy Koswara, Deputy Head of Committee Art Jakarta 2018.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.80